Aku bernama Jack Xavier, cucu ketiga dari kakek nenek Xavier, cucu pertama adalah Chris, yang kedua Jade, lalu aku yang ketiga dan keempat adalah Josh. Tidak ada anak perempuan dalam keluarga besar kami. Berbeda dengan ayah Chris, Jade, juga Josh, ayahku lebih pendiam dan mengikuti aturan. Ia adalah Direktur Xavier Hospital beserta perpustakaan disebelahnya.
Aku saat ini sedang duduk di taman dengan seorang anak perempuan yang sangat mirip dengan wanita yang kucintai, dipangkuanku. Usianya lima atau enam tahun, yang pasti ia sangat cantik dan manis, benar-benar seperti tiruan wanita yang kucintai.
Ia tersenyum sambil menggoyangkan tubuhnya karena menikmati es krim yang kubeli, aku bahkan tidak peduli es krim itu meleleh jatuh ke pakaianku karena ia tampak senang. Gadis kecil itu menyodorkan es krimnya padaku, aku segera menjilatnya sedikit.
"Enak?" tanyanya dengan suara manis.
"Ya..." jawabku sambil mengelap sekitar mulutnya dan menggendongnya pulang setelah ia menghabiskan es krimnya.
Saat masuk ke rumah, kulihat wanita yang kucintai itu tertidur di sofa dengan perutnya yang membuncit besar, ia hamil lagi.
"Paman! Mengapa selalu mengajak Sasha keluar! Aku juga mau ikut!" seorang anak laki-laki datang dan langsung menghampiriku sambil berteriak.
Wanita yang kucintai itu terbangun, "Oh? Kalian sudah kembali?"
Aku mengangguk lalu menurunkan Sasha, "peluk mommy mu." bisikku.
"Terima kasih paman..." ucap gadis kecil itu.
"Rose, jangan tidur di sofa, kamu bisa jatuh." ucapku. Ya, wanita yang kucintai itu adalah Rose, istri sahabat serta sepupuku, Jade.
Awalnya aku tidak menyukainya, tetapi sejak ia bekerja di rumah sakitku dan terus mengawasinya, aku perlahan menyukainya dan jatuh cinta padanya. Tidak ada yang tahu bahkan Josh ataupun orang tuaku, bagiku melihatnya tersenyum saja sudah membuatku bahagia. Aku senang saat ia membuatku repot dan memanggil namaku lalu tersenyum melihatku seperti sekarang ini, ia selalu membuat jantungku berdebar kencang.
"Baiklah Jack, semakin lama kamu semakin mirip ibu mertua saja." ucap wanita itu.
"Kamu mau ke kamar? aku akan memapahmu." ucapku sambil berjalan mendekati Rose lalu berjongkok, Sasha langsung memelukku dari belakang dan menggantung di leherku sedangkan tanganku memapah Rose untuk berjalan.
Anak laki-laki, calon pewaris Xavier Group itu bernama Stu dan wajahnya benar-benar mirip kakeknya sedangkan bola matanya mirip Jade yang berwarna biru. Setelah sampai di kamar, aku menaikkan kaki Rose ke ranjang dan menyelimutinya.
"Jangan keluar sebelum Jade pulang, tunggu satu jam lagi." ucapku pada Rose dan ia tersenyum. "Aku mau kembali ke atas."
"Mommy mommy, aku mau ikut paman..." ucap Sasha dibelakang punggungku, kulihat Stu berbaring manja di paha Rose.
"Jangan merepotkan pamanmu sayang." ucap Rose.
Aku menarik Sasha lalu menggendongnya di depan, "tidak apa-apa, aku suka ia merepotkanku."
"Terima kasih Jack." ucap Rose.
Aku keluar menuju kamarku, Sasha sering tidur bersamaku daripada ayahnya sendiri. Aku menikmati waktuku menatap anak tiruan wanita yang kucintai ini, kubiarkan Sasha berlari dikamarku dan mengeluarkan boneka-bonekanya sedangkan aku harus mandi untuk mengganti pakaian kerjaku yang sudah bernoda es krim tadi.
Setelah selesai mandi, kulihat Sasha masih bermain dengan bonekanya, sepertinya ada pesta teh di kamarku tetapi aku tidak diundang, aku tersenyum lebar melihat Sasha. Kudengar suara pintu yang ditutup dengan keras lalu teriakan memanggil Rose, itu suara Jade yang sudah pulang. Aku menggendong Sasha yang terpaksa harus menyelesaikan acara pesta tehnya lalu turun menuju kamar Jade, kulihat Stu duduk di ruang tamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Xavier Brothers
RomanceLondon, Inggris... ROSE Namaku Rose dari keluarga biasa dan anak terakhir dari tiga bersaudara, ayahku hanya pekerja kantor biasa dan ibuku adalah ibu rumah tangga. Sejak masuk ke Xavier High School perjalanan cintaku menjadi berliku-liku berkat par...
