JACK Part 26

507 8 0
                                        

"Jack? Kamu datang." Sapa Rose dan ia tersenyum lebar, senyuman yang tidak pernah membuatku bosan dan membuat jantungku berdegup kencang, Rose tampak terkejut melihat Elena.

Aku menarik sebuah kursi lalu mendudukkan Elena disamping Rose, "Rose, ini Elena, Elena, ini Rose."

"Hai Elena..." sapa Rose sambil melirik kearahku.

Elena mencengkram lenganku, "mengapa kamu membawaku kesini?" Tanya Elena dan ia terlihat sedikit takut.

"Rose, bisa menemaninya sebentar? Aku akan kembali setelah mengerjakan pekerjaanku." Ucapku pada Rose tanpa mempedulikan Elena.

Rose mengangguk lalu menatap Elena, "hai Elena, bisakah kamu menemaniku? Aku sedikit bosan sendirian disini."

Elena beralih menatap Rose dan menatapku bergantian, aku tersenyum pada Elena lalu keluar dari kamar inap itu. Elena akan aman dan nyaman bersama Rose, wanita itu memiliki hati yang hangat.

□□□□□□□□□□

Sudah hampir empat jam aku meninggalkan Elena pada Rose, aku meletakkan berkas-berkasku lalu merenggangkan tubuhku. Aku kembali ke kamar inap Rose tetapi saat membuka pintu, tidak ada Elena disana.

"Dimana dia?" Tanyaku panik.

Rose tersenyum, "dia bilang ingin mencoba kopi di kantin."

Pikiran saat aku meninggalkan Elena untuk membeli makanan terlintas, wanita itu menghilang dan saat ditemukan sudah berada di ambang kematian. Aku berbalik dengan cepat tanpa tahu ada orang dibelakangku. Dengan cepat aku meraih orang yang hampir jatuh itu lalu sesuatu yang panas membasahi dadaku.

"Ja, Jack..."

"Elena!" Dengan segera aku memeluk erat Elena tanpa peduli rasa panas di dadaku, rasanya lega melihatnya berdiri tanpa menangis lagi.

"Jack, bajumu kotor..." ucap Elena.

Tanpa sadar aku tersenyum lebar, dia benar-benar wanita aneh yang merepotkan. Punggungku masih terasa nyeri dan sekarang dadaku terasa panas karena kopinya. Tetapi Elena hanya diam mematung dan bahkan ia tidak membalas pelukanku.

Setelah berterima kasih dan pamit pada Rose, aku membawa Elena kembali ke kamar yang ada di ruang kerjaku lalu membaringkannya.

"Dia wanita yang baik..." bisik Elena.

Aku tersenyum, tentu saja Rose wanita yang baik, aku tidak salah memilih wanita yang kucintai. Aku hendak pergi tetapi Elena menarik tanganku.

"Jangan pergi..."

Aku kembali duduk ditepi ranjang, kulihat wajahnya pucat beserta lingkaran hitam disekitar matanya.

"Aku takut ia datang lagi..."

"Siapa? Siapa yang datang?"

"Bisikan di kepalaku, saat ia datang aku akan kembali merasa takut dan terdorong untuk bunuh diri lagi..." jelas Elena.

Aku mengelus wajahnya, "beristirahatlah, aku tidak akan meninggalkanmu." Bisikku.

Kulihat ia menutup matanya dan sepertinya sudah masuk ke alam mimpi. Karena lelah duduk ditepi ranjang, aku akhirnya melepaskan bajuku yang kotor dan berbaring disampingnya. Jari-jariku mengelus pipinya lalu beralih ke bibir manis yang terasa kering itu.

Setelah hampir setengah jam, ia tiba-tiba membuka matanya dan bangkit, nafasnya terdengar terengah-engah. "Elena?" Panggilku.

Wanita itu menatapku lalu memelukku dengan erat, kurasakan tubuhnya bergetar. Aku memeluknya dan mengelus rambutnya lalu membaringkannya kembali, ia pasti bermimpi buruk. Kurasakan tubuhnya berhenti bergetar dan nafasnya kembali teratur, Elena kembali tertidur.

Xavier BrothersCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang