Pagi hari, Sakura terbangun saat dua orang perawat datang berkunjung untuk memeriksa kondisinya, melakukan cek tensi dan juga suhu tubuh pasien sebagai laporan rutin. Gaara yang tertidur di bangku sambil bersedekap pun ikut terbangun, mereka sempat mengobrol sedikit sampai akhirnya dua perawat itu pun pamit undur diri.
Sakura menoleh ke arah sofa, disana terlihat Naruto yang masih mendengkur nyaring dengan posisi terlentang. Rupanya tadi malam Gaara datang pukul sembilan sambil membawa begitu banyak camilan dan juga papan catur, Sasuke terpaksa pulang meski menekankan Naruto agar tetap berada disana.
Tidak diragukan lagi skill Naruto yang mampu menjalin keakraban bahkan mungkin dengan makhluk halus sekalipun. Dia dan Gaara melewati malam di ruangan Sakura seakan mereka adalah dua security yang sedang berjaga di pos, mengabaikan Sakura yang asik main ponsel sambil berbalas chat dengan Sasuke sampai ketiduran.
Gaara memberi kecupan selamat pagi di kening Sakura, "Bagaimana kondisimu pagi ini?"
"Cukup baik, kurasa tidak ada masalah." Jawab Sakura lembut.
"Syukurlah, hasil tensimu juga bagus. Kita akan tunggu arahan selanjutnya dari dokter." Gaara membelai rambut merah muda gadis itu dengan penuh perasaan.
Sakura mengangguk, "Bagaimana denganmu? Apa semalam tidurmu nyenyak?"
"Tentu saja." Sahut Gaara dengan senyum ramahnya.
"Aku khawatir badanmu akan sakit." Ucap Sakura.
"Kurasa tidak, apa kau tidak tahu kalau kekasihmu ini adalah pria tangguh?" Goda Gaara sambil menaik-turunkan alisnya.
Sakura terkekeh, "Benarkah? Maksudmu kau seperti superman?"
Gaara tampak berpikir sejenak, "Yah, semacam itulah. Seandainya saja aku bisa izin bekerja pun pasti aku akan menemanimu seharian, sama seperti Sasuke."
Raut wajah gadis itu langsung berubah, Gaara berkata dengan ringan tapi rasanya begitu tajam di pendengaran Sakura. "Jangan pikirkan itu, sebaiknya kau segera bersiap-siap."
"Kau tidak apa jika kutinggal?" Tanya Gaara.
Pandangan Sakura bergulir ke arah Naruto, "Sepupuku akan bangun sebentar lagi, jangan khawatir."
Gaara ikut memperhatikan Naruto sambil tersenyum, "Dia menghabiskan dua bungkus keripik kentang dan dua cup mie ramen instan semalaman, gaya hidupnya benar-benar tidak sehat.." Ucap pria itu sambil menggelengkan kepala.
Sakura tertawa lagi, "Jika dia berhenti makan ramen, itu malah membuatku curiga umurnya tidak akan lama lagi."
Dan Gaara ikut tertawa mendengarnya, kemudian pria itu meraih tangan Sakura dan mengecupnya dengan lembut. "Aku pergi dulu, sampai nanti."
Sakura tak punya pilihan selain menghela nafas sambil menyaksikan drama korea di layar tv. Sejenak ia meringis saat hendak membenarkan posisi kakinya yang cidera, dan saat gadis itu berhasil bergeser tiba-tiba ia merasa ingin ke toilet. Merasa tak berdaya untuk meraih kursi roda, ia berusaha memanggil Naruto.
"Naruto.."
"Naruto.."
Namun sayang sepupunya itu tidur bagai kehilangan nyawa, karena merasa tidak tahan akhirnya Sakura berusaha bangkit dan duduk. Ia melirik jam dinding sekilas yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Sedikit ragu untuk berjalan sendiri ke arah kursi roda, namun ia juga tak ingin memanggil perawat karena tak ingin merepotkan terlebih untuk urusan pribadi seperti ini.
Gadis itu mulai turun dari ranjang dan menapakkan satu kakinya, sementara kaki yang di gips diseret perlahan mengikuti gerakan tubuhnya yang maju sedikit demi sedikit. Masih berjuang, kini tinggal selangkah lagi menuju kursi dan tangan Sakura mulai terulur berusaha menggapainya. Tetapi sayangnya jaraknya masih belum cukup hingga gadis itu pun kehilangan keseimbangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Missing Piece
FanfictionBagi Sakura masa lalu memang tak mudah dilupakan, kenyataan bahwa Sasuke adalah idola bagi masa kecilnya tak akan pernah berubah. Namun saat dewasa, segalnya mungkin telah berubah. Banyak hal yang telah terjadi terlebih saat jarak memisahkan keduany...
