27. Nervous

637 56 8
                                        

H-1 sebelum pernikahan berlangsung, beberapa minggu terakhir adalah hari-hari yang sangat sibuk bagi Sakura. Sejak kedatangan keluarganya bersama orang tua Sasuke, tidak ada hari tanpa membahas persiapan pernikahan. Padahal Sasuke sudah berkali-kali mengatakan untuk menyerahkan semuanya pada pihak WO. Tetapi tetap saja Mebuki—ibu Sakura dan Mikoto—ibu Sasuke tidak tinggal diam dan terus menerus melibatkan diri dengan sukarela.

Memutuskan untuk memiliki masa tenang, Sakura mengajukan cuti seminggu sebelum pernikahan dan seminggu sesudahnya. Undangan sudah tersebar luas, pesta akan diadakan mulai dari sore hari sampai malam. Untuk itulah persiapan fisik dan mental diperlukan.

Konan rutin mengajak Sakura ke sarana relaksasi, melakukan spa, perawatan tubuh lengkap. Segala sesuatu yang bisa memanjakan gadis itu dilakukan dan tentu saja disponsori oleh sang calon suami tercinta.

Sakura sedang tengkurap saat seorang terapis memijatnya dengan lulur tradisional khas rempah-rempah yang memberi efek relaksasi. Di sebelahnya Konan juga tengah melakukan hal yang sama, wanita itu sedang curi-curi waktu menemani calon adik iparnya. Selain karena itu adalah ritual wajib wanita, Konan sebenarnya sedang sedikit melarikan diri dari Inara yang terus menerus ribut menuntut paman dan bibinya segera membuat bayi.

"Malam ini, jangan lakukan apapun. Kau hanya boleh berada dirumah dan beristirahat, besok adalah hari yang panjang." Ucap Konan yang terpejam merasakan pijatan di tubuhnya.

Sakura terkekeh, "Akhir-akhir ini semua orang tampaknya sangat posesif padaku.."

"Tentu saja, aku tidak mau ambil resiko mempelai wanita tidak tampil maksimal dalam pesta pernikahannya, kau harus dalam kondisi prima bahkan hingga saat malam pertama." Konan berkata dengan nada menggoda.

"Eh, malam pertama?" Wajah Sakura merona saat Konan menyinggung soal itu. "Anu, Konan-san, apa aku boleh bertanya sesuatu?"

Konan tersenyum, "Tentu saja, bahkan jika kau meminta tips dariku, aku akan memberikannya."

"Itu.. malam pertama.. apakah akan sulit?" Tanya Sakura malu-malu.

Konan menghela nafas, sementara kedua orang terapis yang sedang melayani mereka mulai pura-pura tuli.

"Kurasa semua gadis akan berpikiran sama sepertimu, aku juga dulu begitu gugup saat memikirkan malam pertamaku dengan Itachi."

"Benarkah? Lalu bagaimana kau bisa melewatinya?" Tanya Sakura penasaran.

Konan mencoba mengenang masa lalunya, "Aku hanya membiarkan semuanya mengalir, dan mempercayakan segalanya pada Itachi. Setelah itu, segalanya terasa begitu mudah. Yah, meskipun munkin agak sakit diawal.." kemudian wanita itu terkekeh.

"Begitu ya.." gumam Sakura, seketika keraguan menyelimutinya

"Jangan khawatir, aku yakin kau bisa melewatinya. Sebenarnya, itu tidak seburuk yang dibayangkan, justru sebaliknya, kau tidak akan bisa melupakannya." Konan kembali terdiam menikmati pijatan, "Ah, ya! Untuk tipsnya, kau harus benar-benar menjaga stamina dengan baik."

"Kenapa begitu?" Tanya Sakura bingung.

Konan tersenyum penuh arti sambil menatap Sakura yang juga menatapnya dengan polos di sampingnya. "Karena Uchiha tak akan berhenti sebelum puas."

🌸🌸🌸

Malam harinya, seperti yang biasa dilakukan dalam seminggu terakhir ini. Sakura melakukan video call dengan Sasuke, sebagai ganti karena mereka tidak bisa bertemu sedikitpun. Sakura sibuk melakukan persiapan untuk tampil sesempurna mungkin saat pernikahan nanti, sementara Sasuke sibuk mengejar target pekerjaan agar bisa selesai tepat waktu dan mereka bisa berbulan madu setelah menikah.

The Missing PieceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang