20. The Truth

811 97 16
                                        

Suasana pagi itu belum tampak ramai di Kafetaria. Hanya ada empat orang pelanggan dan beberapa cleaning service yang sedang bertugas bersih-bersih di sekitar lobby lantai satu rumah sakit. Sasuke menyeruput kopi hitamnya perlahan, pria itu tampak cukup tenang meski sorot matanya tidak mengatakan demikian. Sementara Shizuka dengan santai mengunyah sandwichnya, gadis itu beberapa kali memperhatikan kekasihnya yang sejak tadi tak mengucapkan sepatah katapun.

"Jam berapa kau datang kesini?" Tanya Shizuka.

"Belum lama." Pandangan Sasuke tertuju pada kepulan asap di cangkir kopinya.

"Tidak pergi ke kantor?"

"Urusan kantor sudah ditangani. Kau sendiri kenapa pagi-pagi datang kesini?" Tanya Sasuke.

"Tentu saja untuk menjenguk Sakura, dan juga untuk mencari tahu kebenarannya."

Sasuke langsung menautkan alisnya, "Kebenaran apa?"

Shizuka menghela nafas sejenak, ia tak ingin menunda lagi untuk bertanya, "Sasuke-kun, ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan Sakura?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada yang tegas.

"Jawaban apa yang sebenarnya ingin kau dengar dariku?" Ucapan itu juga tidak kalah tegas.

"Jangan balik bertanya, kumohon jawab dengan jujur!"

Kini giliran Sasuke yang menghela nafas, ia menyandarkan punggungnya di bangku sambil bersedekap. "Aku dan Sakura tidak memiliki hubungan apapun.."

Shizuka menatap kekasihnya saat mengucapkan kalimat itu.

"... lebih tepatnya belum." Lanjut pria itu.

Dan tubuh Shizuka pun seketika kehilangan tenaga, ia tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "A-apa maksudmu?"

"Kau benar-benar ingin aku menjelaskannya? Aku tahu kau tidak sebodoh itu." Ucap Sasuke datar.

"Jadi benar kau berselingkuh dengannya?!"

Sasuke terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Bisa dibilang begitu."

Shizuka pun meremas pahanya sendiri, ia mulai tak kuasa menahan air mata yang kini jatuh ke pipinya. "Ke-kenapa? Kenapa kalian tega?!"

"Sakura tidak pernah menginginkan hal ini, kau tahu kan kalau dia juga punya kekasih?"

Dan Shizuka langsung mengingat sekelebat kejadian saat di IGD, ia teringat pada sosok pria berambut merah yang ada disana saat itu. "Dokter itu.." Gumamnya.

Sasuke mengangguk, "Aku dan dia, kami memiliki situasi yang sama. Hanya saja, Sakura masih terus berusaha bertahan karena ia tidak ingin ada yang terluka."

"Tapi kalian telah menyakitiku!" Ucap Shizuka.

"Kau benar, aku tahu kau pasti menganggapku pria berngsek. Dan aku bisa terima jika kau membenciku. Tapi Sakura, terlepas dari apa yang terjadi di antara kami, dia tetap memikirkanmu dan memintaku bertahan denganmu sampai detik ini."

Shizuka menggelengkan kepalanya tak percaya, ia semakin terisak lirih. Ucapan Sasuke yang seharusnya bisa menghibur nyatanya malah semakin menghancurkan hatinya.

"Kau pernah meminta kesempatan, dan aku memberikanmu dengan syarat kau harus menerima apapun resikonya. Kau masih ingat kan?" Tanya Sasuke.

Shizuka masih terdiam tak bergeming, sejenak gadis itu teringat tentang bagaimana awal mula hubungannya dengan Sasuke terjalin. Bagaimana pria itu berusaha memberi kesempatan yang berkali-kali ia minta agar bisa bersama pria itu.

"Mungkin ini saatnya aku memintamu untuk berhenti. Bukan hanya untukku, tapi juga demi kebaikanmu." Lanjut Sasuke lagi.

Air mata Shizuka terus mengalir tiap kali Sasuke melontarkan kata demi kata yang terus meremukkan hatinya. "Ternyata, masih belum cukup ya.."

The Missing PieceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang