Konoha dengan sejuta ceritanya, tentang malam-malam panjang yang dilewati muda mudi di pusat kota. Tentang mereka yang melepas lelah usai bertarung dengan waktu seharian lamanya. Juga tentang hati yang patah, yang terluka, bahkan yang sedang merasa hampa.
Kurang lebih seperti itulah gambaran dari apa yang para penduduk Konoha rasakan. Saling menyimpan kesedihan masing-masing untuk di nikmati sendirian di atas bantal. Membungkusnya dengan topeng senyum ceria serta mencari pelampiasan dalam bentuk apapun yang mengatasnamakan kesenangan fana.
Langit jingga membentang seluas cakrawala kala senja merangkak menggantikan sang surya, kecantikan alam yang rupawan itu tengah dinikmati puluhan pasang mata yang berada di sebuah restoran rooftop yang berada di atas gedung sepuluh lantai. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan kekasih yang sengaja mencari spot estetik tersebut untuk menghabiskan waktu dalam momen indah mereka.
Di salah satu bangku, Sakura duduk sambil menoleh ke samping, bertopang dagu diatas meja dan tenggelam dalam kesyahduan sajak sebagaimana matahari berpamitan pada hari itu. Gadis itu termenung, atmosfir temaram yang begitu mewakili perasaan rindu itu membuat seluruh dirinya tenggelam dalam pedihnya penyesalan. Hanya bisa meratapi apa konsekuensi yang akan dia hadapi mulai hari ini, hari dimana saat Sasuke berada di Konoha untuk yang terakhir kali. Sebelum pria itu berangkat menuju Los Angeles, Amerika dan meninggalkan sejumlah kenangan manis yang menyedihkan.
'Sasuke-kun..' Dalam hati gadis itu terus menjerit memanggil namanya.
"Sakura?"
Suara itu kembali memecah lamunan entah untuk yang keberapa kalinya. Sakura tersadar dan langsung bersikap seakan segalanya baik-baik saja, terutama saat Gaara menatapnya dengan penuh tanda tanya. Mereka berdua tengah menikmati suasana senja sambil minum es kacang merah bersama.
"Aku seperti melihat dua matahari yang akan tenggelam." Ucap Gaara dengan lembut, namun ucapannya mengandung makna mendalam yang membuat Sakura gugup.
"Dua matahari?" Tanya Sakura.
Gaara mengangguk, "Yang satu di langit, dan yang satu lagi di matamu."
Sakura pun tertawa canggung mendengarnya, "Itu karena kau hanya melihat pantulannya dari langit."
Gaara tersenyum tipis, "Kau benar, aku hanya melihat pantulannya. Rasanya seperti berdiri di tengah danau sebening kaca di bawah langit berbintang, aku hanya melihat pantulan langit di permukaannya tanpa bisa tahu apa isi di dasar airnya."
"A-apa maksudnya?" Sakura mulai bingung.
"Selama ini aku hanya bisa melihatmu dari luar, tanpa pernah tahu apa sebenarnya isi hatimu. Tapi, setelah melihat senja hari ini, sepertinya aku sudah mengerti." Ujar Gaara.
"Melihatku dari luar?" Beo Sakura.
Gaara meraih kedua tangan Sakura dan menggenggamnya dengan erat diatas meja. Para pengunjung kafe yang melihat mereka pasti akan berpikir bahwa keduanya adalah pasangan romantis.
"Sakura, terima kasih banyak." Ucap Gaara tulus, wajahnya seperti malaikat kala bias cahaya oranye menyentuh kulitnya.
"Eh? Terima kasih untuk apa?"
"Untuk pengorbanan besarmu ini. Kau rela menyiksa diri hanya untuk membahagiakanku, bahkan kau rela melepas pria yang paling kau cintai hanya demi menjaga perasaanku. Aku sangat menghargai itu." Gaara berkata dengan tegas namun lembut diwaktu yang sama.
Seketika tubuh Sakura menegang, wajahnya mulai cemas, bahkan kedua tangannya mulai terasa gemetar. Bahkan setelah ia berusaha keras untuk menutupi itu semua, Gaara tetap bisa menyadarinya. "Ga-Gaara-kun, aku..."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Missing Piece
FanfictionBagi Sakura masa lalu memang tak mudah dilupakan, kenyataan bahwa Sasuke adalah idola bagi masa kecilnya tak akan pernah berubah. Namun saat dewasa, segalnya mungkin telah berubah. Banyak hal yang telah terjadi terlebih saat jarak memisahkan keduany...
