Malam itu hujan turun cukup deras di Konoha, Sasuke mengundur kepulangannya dan terpaksa harus makan malam di kantor karena ada rapat penting yang mendadak harus dihadiri olehnya.
Setelah bulan madu, Sasuke dan Sakura terpaksa harus berpisah karena pria itu harus kembali ke LA dan menyelesaikan pekerjaannya disana. Menjalani hubungan pernikahan jarak jauh tak membuat mereka kehilangan moment bersama sedikit pun. Sakura yang masih aktif bekerja di klinik miliknya sendiri kini lebih leluasa mengatur jadwal prakteknya. Terlebih saat usia kandungannya mulai memasuki trimester kedua saat itu.
Selama terpisah jarak dan waktu, sepasang suami istri itu tak pernah luput dalam hal komunikasi. Sesibuk apapun Sasuke, pasti akan tetap meluangkan waktu untuk menelpon istrinya saat pagi sebelum bekerja, siang hari saat istirahat, dan malam sebelum tidur.
hal itu tentunya dilakukan dengan menyesuaikan waktu Konoha. Meskipun Sasuke harus bangun dinihari untuk mengucapkan selamat pagi pada istrinya, tetapi pria itu tak pernah absen melakukan rutinitas tersebut selama berbulan-bulan lamanya.
Saat ini, Sasuke telah kembali fokus pada perusahaannya di Konoha. Ia hanya akan berkunjung ke LA dua atau tiga bulan sekali sekalian menjenguk keempat orang tuanya. Namun, selama menikah, Sakura belum pernah pergi meninggalkan Konoha karena Sasuke sangat ketat dengan kondisi kehamilan istrinya.
Hana menyajikan secangkir teh hijau hangat di meja. Sakura yang tengah duduk di ruang santai duduk bersandar sambil membaca buku, sudah menjadi kebiasaan baginya untuk berada disana sambil menunggu suaminya pulang.
Menikmati suasana penuh ketenangan ditemani secangkir teh sambil sesekali melirik rintik hujan melalui jendela membuat Sakura merasa rileks. Sejak kehamilannya, ia justru terbebas dari gangguan cemasnya yang kini tak pernah kambuh lagi.
Sakura mengelus perutnya yang telah membesar dengan lembut, sambil sesekali membalik halaman pada buku yang dibacanya. Menurut perhitungan, ini adalah minggu-minggu dimana kemungkinan besar bayinya akan lahir.
Itu sebabnya, Sasuke menekankan dan memberi perintah tegas agar istrinya tidak melakukan aktivitas diluar rumah terlebih dahulu. Sakura telah mengajukan cuti sejak tiga hari lalu, memilih fokus untuk persiapan pra persalinan sebaik mungkin.
Selama berada dirumah, Sakura beraktivitas seperlunya. Dan membiasakan diri berolah raga menggunakan gym ball dan juga meditasi setiap sore.
Bahkan beberapa bulan terakhir, Sasuke juga tak pernah absen mendampingi istrinya untuk melakukan senam hamil bersama instruktur yang di panggil ke rumah secara privat.
Gyuuut
Sakura tersenyum, kemudian kembali mengelus perutnya saat merasakan pergerakan dari dalam. Sejak pagi tadi, bayinya memang terasa lebih aktif bergerak dibanding biasanya.
Gyuuut
Sakura pun terkekeh, "Papa belum pulang sayang, sabar sedikit ya.."
Wanita itu berbicara dengan nada lembut pada bayi dalam perutnya. Sakura berpikir, mungkin saat ini anaknya sedang mencari ayahnya. Karena sudah menjadi kebiasaan bagi Sasuke yang setelah pulang kerja akan mencium, mengusap, dan mengajak bicara anak dalam kandungannya.
Gyuuut
"Aah!"
Saat gerakan tiga terasa lebih mengguncang, bagian perut bawah Sakura terasa nyeri. Dan rasa tidak nyaman pun seketika muncul, Sakura meletakkan bukunya dan menegakkan posisi duduknya.
"Hana.. Hana!"
Sang pelayan setia itu datang menghampiri, "Ya nyonya?"
"Perutku, sakit.. Aww!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Missing Piece
FanfictionBagi Sakura masa lalu memang tak mudah dilupakan, kenyataan bahwa Sasuke adalah idola bagi masa kecilnya tak akan pernah berubah. Namun saat dewasa, segalnya mungkin telah berubah. Banyak hal yang telah terjadi terlebih saat jarak memisahkan keduany...
