23. Empty

617 82 34
                                        

Sudah tiga hari telah berlalu, kondisi Sakura kurang lebih masih sama. Kakinya masih belum mampu berjalan normal, ia masih harus memakai tongkat maupun kursi roda untuk beraktivitas. Saat ini Gaara tengah menemaninya untuk melakukan fisioterapi di rumah sakit agar ia bisa kembali pulih dan mampu berjalan seperti biasa.

Setelah kejadian beberapa hari lalu, dimana saat pertengkarannya dengan Sasuke. Sakura akhirnya telah memutuskan untuk kembali pada Gaara, pria itu menerimanya kembali dan mereka berdua sepakat untuk tidak membahas apapun yang telah berlalu. Meskipun Sakura masih sering tampak murung dan banyak pikiran, setidaknya gadis itu telah menetapkan pilihannya saat ini.

Sementara Sasuke? Pria itu hilang bak ditelan bumi. Bahkan ia memblokir semua akses sosial media milik Sakura sehingga gadis itu tak bisa melihat apapun lagi tentangnya. Sebuah hukuman yang menyakitkan tentu saja. Para teman-teman yang datang menjenguk kemarin sore pun tidak ada yang tahu bagaimana kabar Sasuke, bahkan Naruto pun tidak mendapat respon apapun saat mencoba menghubunginya.

"Baiklah, tidak ada masalah. Kurang lebih satu bulan lagi kurasa kau sudah bisa kembali berjalan normal." Ucap seorang dokter berparas cantik bernama Laura Fumiko.

"Benarkah? Itu lebih cepat dari perkiraan." Jawab Gaara yang tengah duduk berhadapan dengan dokter wanita itu. Sementara Sakura masih berjalan merembet di temani seorang perawat.

"Perkembangannya cukup bagus, kurasa semangat Haruno-san yang memberi pengaruh cukup besar atas kesembuhannya." Jawab dokter Laura. Dia adalah dokter keturunan blasteran Amerika-Jepang.

Sakura yang mendengarnya terkekeh, "Aku hanya tidak ingin berlama-lama seperti ini. Aku ingin kembali bertemu dengan pasien-pasienku, bukannya malah menjadi salah satu dari mereka."

"Lihat, bahkan dalam kondisi seperti ini dia masih memikirkan orang lain." Ucap dokter Laura dalam candaannya.

Gaara tersenyum seraya mengendikkan bahunya, "Seperti itulah dirinya."

Kemudian latihan berjalan pun selesai, Gaara berdiri dan menuntun kekasihnya menuju kr kursi roda kembali. Sementara dokter Laura tampak menulis sesuatu sebelum berkata, "Untuk jadwal berikutnya satu minggu dari sekarang, sekaligus jadwal buka jahitan dengan dokter orthopedi ya?"

Sakura menganggukkan kepala, "Baiklah, terima kasih banyak Fumiko-san."

Gaara melempar senyuman kembali pada dokter Laura dan dibalas oleh dokter cantik itu. Kemudian ia meninggalkan ruangan bersama Sakura sambil mengobrol santai dan terus mendorong kursi roda hingga menuju ke kafetaria.

Sesekali mereka saling bertegur sapa dengan rekan-rekan di sana. Semua turut mendoakan kesembuhan untuk Sakura, dan sejenak gadis itu merasa bersyukur karena berada di lingkungan yang membuatnya bahagia.

Sesampainya di kafetaria, Gaara memesan dua porsi makanan yang sama dan membawanya ke meja menggunakan nampan. Ia mulai membelah sumpit sambit terkekeh, "Kau tahu? Semua menu hari ini terlihat lezat, aku jadi bingung mau ambil yang mana."

Sakura tak merespon, gadis itu duduk di kursi rodanya sambil bertopang dagu di meja. Tampaknya ia tengah melamun hingga tak mendengar ucapan Gaara.

"Sakura? Kau dengar aku?"

Dan Sakura pun tersentak, "Ah! Iya, maaf Sas— maksudku Gaara-kun.."

Gaara memperhatikan kekasihnya dalam diam, dan hal itu semakin membuat Sakura gelisah. Akhirnya gadis itu meraih sumpitnya dan segera melahap makanan di depannya.

"Sampai dimana kita tadi?" Tanya Sakura.

Gaara tersenyum, "Kita tidak sedang membahas apapun Sakura."

The Missing PieceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang