Part 18

847 54 6
                                        

SREETT!

Menarik selimut untuk menutupi kedua tubuh telanjang mereka, lalu tatapan bergulir kearah wajah damai yang berada tepat disamping. Peat jatuh tertidur, setelah mereka melanjutkan kegiatan panas sampai berulang kali. Sorot mata itu berubah, dari yang sebelumnya datar kini ada sedikit riak. Tangannya terangkat, jemari mulai menelusuri setiap bagian wajah cantik. Menatap tanpa berkedip, Peat yang tertidur dengan wajah polosnya.

"Kau tahu, Khun. Aku terkadang merasa begitu iri padamu.-"

Benar, Fort sekarang merasa begitu iri pada kehidupan yang Peat jalani. Melihat betapa mudah pria cantik itu mendapatkan apapun yang dia inginkan, bahkan untuk membuat seseorang bertekuk lutut pada dirinya pun bukan masalah untuknya. Lihat saja dia sekarang, Fort dengan mudah bersikap seperti seekor anjing jinak saat dijanjikan sebuah mobil. Barang mewah yang tak pernah ada dalam pikirannya sekalipun, kini menjadi hal mudah yang akan Peat berikan hanya dengan dia bersikap jalang. Bak penghibur pribadi, Fort hanya harus mengibaskan ekor disekitar Peat.

"-Kau mendapatkan semua hal yang kau inginkan dengan begitu mudah, sedangkan orang seperti ku bahkan harus rela menjual harga diri untuk semua itu.-"

Fort menghentikan pergerakan tangan, tepat diatas leher jenjang Peat. Jemari digantikan tangan, lalu dengan perlahan namun pasti tangan itu bergerak semakin mengerat. Terlihat coba mencekik leher putih, saat dia menekan perlahan namun pasti tangan besarnya disana. Fort seperti orang yang kehilangan pikirannya, dia sekarang terlihat seperti orang yang akan menyakiti Peat. Padahal seharusnya dia berterimakasih pada pria itu, karena telah memberikan semua hal padanya. Namun pada akhirnya manusia, memiliki pemikiran mereka sendiri.

"-Tidakkah rasanya dunia ini berjalan dengan begitu tidak adil? Ah, Kurasa kau tidak akan pernah merasa seperti itu, karena dunia selalu berputar disekitar mu seolah kau lah porosnya."

Lepas, Fort akhirnya melepaskan tangan yang menekan leher Peat. Dia tertawa kecil, mentertawakan kalimatnya sendiri. Ini terasa seperti dia berkeluh kesah pada orang yang salah, karena pria seperti Peat tak akan pernah merasakan hal sama seperti dirinya. Dia orang yang terlahir dengan sendok emas, jadi hal mustahil untuk merasakan penderitaan yang sama seperti yang Fort rasakan. Sehingga akan menjadi salah besar jika Fort mengungkapkan perasaan ini dihadapan Peat, dia tak akan pernah tahu rasa yang pria tan itu rasakan.

SREETT!

Beranjak dari posisi berbaring, Fort bangun dari tidurnya. Dia akan membersihkan tubuh, mengingat sekarang setiap bagian terasa lengket. Membuatnya sekarang berjalan kearah kamar mandi, dengan tubuh polos tanpa sehelai benang. Toh, tidak ada orang lain disana, Peat pun tengah tertidur dengan pulas. Jadi dia membiarkan tubuh telanjangnya terekspos, saat dia menuju ke kamar mandi. Menutup pintu dengan perlahan, dia tak ingin Peat terbangun oleh suara-suara yang dia timbulkan.

Sedangkan yang Fort tak tahu, Peat membuka sepasang mata rusanya begitu pria tan masuk kedalam kamar mandi. Dia tak pernah tertidur, dia hanya berniat mengistirahatkan diri dengan menutup kedua mata sebelumnya. Juga tanpa sadar merasa begitu senang, saat Fort menutupi tubuhnya dengan selimut dan merasakan jemari yang membelai lembut wajah. Sampai dia mendengar semua kalimat Fort, dari awal sampai akhir. Ungkapan perasaan pria tan, yang tak pernah ada dalam bayangan Peat. Dia pikir Fort akan merasa senang-senang saja, jika Peat memberikan segala hal padanya. Tetapi ternyata tidak, ya?

"Iri, ya?"

GREEPP!

Peat menggelung tubunya, memposisikan tubuh bak janin didalam rahim. Memeluk dengan erat, seolah rasa dingin mulai menjalar dari ujung kaki menuju kepala. Dia berubah menggigil, saat hatinya mulai bergemuruh dengan begitu berisik. Ketika suara-suara mulai menggaung, memenuhi kepalanya dengan suara yang saling tumpang tindih. Seolah berseru dalam satu waktu, mencoba untuk didengarkan Peat dalam satu waktu. Kedua tangan yang sebelumnya memeluk tubuh, kini berganti untuk menutup kedua telinga. Coba menghalau suara yang seperti genderang, yang ingin memecah kepalanya. Peat tak suka, ketika hal ini mulai terjadi padanya.

(Not) Love (FortPeat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang