"Maaf tidak bisa menemanimu untuk makan malam, Peat."
Noeul merenggut sedih, karena pekerjaannya masih begitu banyak sehingga dia jadi tak bisa makan malam dengan Peat. Padahal mereka baru saja berbaikan, tak lagi terlibat pertengkaran konyol. Namun Noeul justru tak memiliki waktu, bahkan hanya untuk menikmati makan malam bersama pria cantik itu. Dia tengah dicekik deadline, terikat oleh begitu banyak pekerjaan. Sedangkan Peat dapat memaklumi, mereka hampir sama untuk masalah pekerjaan. Peat saja memaksakan diri untuk meninggalkan Aya, menghandle semua hal sementara dia keluar. Tak ingin masalahnya dengan Noeul berlarut-larut, sehingga dia rela melakukan semua itu.
"Tak apa, Eul. Aku tahu kau begitu sibuk."
"Lain kali, kita harus makan malam bersama. Tapi aku ingin hanya kita berdua, mengerti?"
"Baik, baik. Aku akan mengatur waktu, untuk Eul ku tersayang ini."
Peat menerima Noeul dalam pelukannya, dia membiarkan pria manis itu bersikap manja padanya. Ingat, mereka baru saja berbaikan selang beberapa menit lalu. Sehingga sekarang Peat tak akan menolak apapun yang ingin dilakukan pria itu, asal semua dalam batas wajar. Benar, Peat kini membatasi segala bentuk interaksi dan semua itu karena Fort. Sebelum ini dia memang begitu marah pada pria tan, namun semua hal itu tak membuat dirinya menyangkal perasaan yang kini tengah tumbuh. Peat mencintai Fort, kenyataan yang tak akan pernah berubah. Justru pria itu merasa sekaranglah saatnya, untuk membuat semua itu menjadi jelas. Dia akan memperjelas posisinya, perasaannya harus mulai diperhitungkan pria itu.
"Kalau begitu kami pamit, Eul, Boss."
"Tentu Ai Peat, hati-hati dijalan."
Boss mengambil alih Noeul yang tak kunjung ingin melepas pelukan dari Peat, dia harus mulai mengendalikan kekasihnya itu. Peat sekarang memiliki seseorang disisinya, itu berarti akan ada orang yang terganggu dengan tingkah laku Noeul pada akhirnya. Dia tak ingin pria manis itu merasa terluka lagi, jika Peat suatu hari menolaknya kembali dengan terang-terangan. Itu akan lebih menyakitkan untuk sang kekasih, sehingga dia harus mulai memberi Noeul pengertian. Bahwa Peat bukan lagi orang yang dapat Noeul sentuh sesuka hati.
"Kita makan malam terlebih dahulu."
Mobil itu berhenti di sebuah Restoran besar, Fort cukup takjub dengan interior bangunan dari luar. Dia bisa membayangkan akan semewah apa pada bagian dalamnya, juga vibes yang akan dirasakannya. Beruntung setelah bersama Peat, kemanapun mereka pergi Fort selalu menggunakan setelan formal. Pakaian mewah yang sekarang telah mulai mengisi setiap sudut lemari pakaiannya. Sehingga begitu Peat membawanya ketempat seperti ini, maka dia tidak perlu khawatir untuk diusir karena tampilannya.
"Khun Peat, akhirnya anda datang lagi ke Restoran kami."
Bukan pelayan, manager Restoran langsung yang menyambut mereka. Pria paruh baya yang kini tersenyum lebar, membimbing langkah mereka kebagian dalam. Meja dibagian tengah, spot paling terlihat. Bahkan beberapa tamu terlihat mulai memperhatikan mereka, menjadi pusat perhatian tak terelakan. Peat sudah terbiasa, jadi tak ada perubahan berlebih dari ekspresi wajah. Tetapi tidak dengan Fort, walau dia sudah berusaha membiasakan diri namun sulit untuk menutupi ekspresi senang. Dia suka menjadi pusat perhatian, berada disekitar Peat membuat dia selalu seperti itu sekarang.
"Duduklah, Khun. Kami akan memberikan pelayanan memuaskan untuk anda."
"Tentu, aku pasti akan menikmatinya."
Duduk dengan tenang, pelayan mulai membawakan wine putih. Menuangkan pada gelas, untuk pembuka wine putih memang terasa lebih baik. Itu sesuatu yang ringan, menenangkan untuk dinikmati bahkan saat perut masih kosong. Sehingga keduanya memulai dengan mengangkat gelas, melakukan cheers lalu mulai menyesap dengan perlahan. Fort begitu menikmati, juga merasa sangat bersemangat. Peat selalu membuatnya merasakan pengalaman luar biasa, yang sebelumnya hanya ada dalam bayangan semata. Makan malam mewah, dengan mereka sebagai spot penarik perhatian. Hal itu bisa terjadi hanya saat Fort bersama dengan Peat.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not) Love (FortPeat)
FanfictionHubungan simbiosis mutualisme, itulah yang tengah terjalin diantara mereka berdua. Peat Wasuthorn pengusaha muda kaya raya yang selalu haus akan sex, bertemu dengan Fort Thitipong karyawan biasa yang ingin merubah kehidupan menyedihkan dengan cara a...
