Peat duduk diujung ranjang, masih setia dengan bathrobe hitamnya. Kedua tangan disilangkan didepan dada, dengan kaki menyilang saling tumpang tindih. Peat menunjukkan sikap bossy, karena sekarang dia sudah siap untuk menentukan nasib seorang Fort Thitipong. Menggoyang-goyangkan sebelah kaki, Fort yang berdiri tepat dihadapannya tak mengalihkan tatapan. Gambaran sekarang, tak jauh berbeda dari pertama kali mereka membuat sebuah kesepakatan. Tetapi atmosfirnya terasa berbeda, ketika kini terasa jauh lebih menegangkan. Karena nasib Fort hanya akan ditentukan oleh sebaris kata, kalimat yang akan Peat ucapkan. Apakah itu keselamatan atau justru kehancuran, hanya pria cantik itu yang tahu.
"Apa kau mempelajari sesuatu dari hal yang sudah kau lakukan, Fort?"
"Sudah, Khun."
"Lalu?"
"Aku tidak akan pernah melakukan sesuatu yang tak akan anda suka, bersinggungan sedikitpun dengan Ivy.-" Kaki Peat masih bergoyang, pertanda dia masih belum puas oleh jawaban Fort. Dan pria tan sangat menyadari semua itu, sehingga sekarang dia kembali membuka suara.
"-Atau Khun ingin aku melakukan sesuatu pada Ivy?"
"Tidak, jangan. Tidak perlu berurusan dengan wanita itu, cukup jauhi saja dia."
"Khun tidak mempercayaiku?"
"Tidak, aku tidak pernah mempercayaimu atau bahkan orang lain sekalipun.-"
Jujur sekali, ketika Peat memang tak pernah lagi mempercayai orang lain di hidupnya. Pemuda cantik telah menerima berbagai macam jenis penghianatan, jadi untuk sekarang dia sudah tak bisa menaruh rasa percaya lagi. Sehingga berapa kalipun Fort akan meminta dipercayai, Peat tidak akan pernah melakukannya. Namun untuk hal lain, Peat tidak keberatan untuk semua itu. Dia bahkan tak menolak untuk dimanfaatkan sedikitpun, ketika membiarkan Fort mengambil banyak keuntungan darinya.
"-Jadi, jangan melakukan apapun, mengerti?!"
Fort memandang Peat lurus, tak ada yang tahu arti tatapan tersebut. Hanya saja, itu bukan tanda bahwa dia akan mematuhi perintah. Fort tidak akan diam saja, setelah apa yang Ivy lakukan. Walau sekarang Peat terlihat tak lagi mempermasalahkan semua itu, tetapi tetap saja Fort hampir terancam. Dia hampir dibuang oleh Peat begitu saja, hanya karena wanita licik itu. Maka dari itu, Fort tidak akan tinggal diam. Mari membalas Ivy, sekalipun Peat tidak menginginkannya.
"Tentu, Khun."
Lain di hati, lain juga di mulut. Fort memasang senyum manis sebagai persetujuan, tetapi otaknya sudah mulai memikirkan berbagai macam rencana. Dia akan tetap menjalankan semua itu, baik tanpa persetujuan Peat sekalipun. Fort ingin mengamankan posisinya, menjaga agar dia dapat berada di sisi Peat dalam waktu yang lebih lama. Sehingga dia kali ini akan menjalankan rencana tersebut, bahkan tanpa sepengetahuan Peat sekalipun.
Dua pria turun dari mobil, sesaat kendaraan mereka berhenti tepat didepan gedung tinggi. Peat melihat ponsel, melihat tak ada balasan pesan singkat yang baru saja dia kirim. Sepertinya orang tersebut masih marah, padahal pria cantik pikir dia sudah dimaafkan. Tetapi ternyata belum, sehingga sekarang satu-satunya cara yaitu menemuinya secara langsung. Peat bahkan telah membawa begitu banyak barang, hadiah untuk pria manis. Dia siap berbaikan dengan Noeul, sahabat manisnya itu.
"Khun anda datang?"
"Apa Noeul ada didalam?"
"Iya, Khun. Silahkan masuk."
Mereka masuk kedalam ruangan sesaat sekertaris pria itu mengetuk pintu, juga memberitahukan kedatangan mereka. Awalnya Peat pikir karena Noeul masih marah padanya, maka pria itu akan mengusirnya begitu datang. Tetapi ternyata tidak, mereka bahkan dipersilahkan untuk masuk. Dan Peat langsung tersenyum, begitu mendapati pria manis duduk dibalik meja kebesarannya. Juga ada Boss yang duduk pada sofa, menyapanya dengan anggukan terlebih dahulu. Baru setelah itu berdiri dari duduknya, berniat keluar dari ruangan. Bahkan tanpa bicara, membawa serta Fort untuk mengikutinya keluar. Membiarkan hanya Peat dan Noeul berada dalam ruangan tersebut. Berjalan cepat, dia mencapai tempat Noeul berada dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not) Love (FortPeat)
FanficHubungan simbiosis mutualisme, itulah yang tengah terjalin diantara mereka berdua. Peat Wasuthorn pengusaha muda kaya raya yang selalu haus akan sex, bertemu dengan Fort Thitipong karyawan biasa yang ingin merubah kehidupan menyedihkan dengan cara a...
