Part 29

801 42 11
                                        

TAP!TAP!TAP!

Peat melangkah keluar dari dalam kamar, dengan langkah pelan yang terlihat begitu berat. Sepertinya kelelahan akibat aktivitas kemarin, justru terasa hari ini. Sehingga begitu bangun dari tidurnya, Peat merasa lemas, juga tak memiliki tenaga sedikitpun. Seandainya perut kosongnya tak berbunyi keras, pria cantik itu pasti tak akan pernah meninggalkan ranjang empuknya. Dan begitu sampai dapur, dia telah menemukan makanan diatas pantry. Terhidang dengan rapi, terlihat sangat menggugah selera. Juga jangan lupakan Fort, yang berdiri disana dengan secangkir Americano ditangan. Terlihat menyesap cairan pekat itu dengan nikmat, sangat menikmati pagi cerahnya.

"Khun sudah bangun, ingin ku buatkan secangkir kopi?"

Mengangguk, Peat terlihat menginginkan segelas kafein tersebut untuk menghilangkan lelah. Duduk di kursi pada meja pantry, setelah menghidupkan mesin kopi Fort dengan cepat mengambil piring. Mengisi dengan makanan yang sebelumnya dia masak, lalu menghidangkan tepat dihadapan Peat. Pria cantik itu harus mengisi perutnya dahulu, baru bisa meminum kopi paginya. Walau Fort jelas tak melakukan semua itu, karena dia memang tak terbiasa sarapan dengan makanan berat. Segelas kopi selalu menjadi pengisi lambungnya ketika pagi, mengingat dia harus bekerja keras sedari pagi. Dan tak ada waktu untuk menikmati sarapan lengkap di pagi hari, hal berbeda untuk Peat. Beruntung, Aya selalu memberitahukan kebiasaan Peat padanya agar Fort tak melakukan kesalahan ketika bersama pria cantik itu.

"Ini kopimu, Khun. Tapi habiskan dulu sarapannya, agar perutmu tak sakit."

"Bagaimana denganmu?"

"Aku hanya sarapan dengan kopi, kebiasaan lama yang tak bisa dirubah."

Menerima alasan Fort, Peat memilih untuk mulai menyuap makanannya. Menikmati makanan yang terasa cukup asing, karena Peat merasa tak pernah mencoba makanan dengan rasa seperti itu sebelumnya. Itu bukan rasa makanan dari sebuah Restoran mewah, tetapi justru terasa seperti makanan rumahan. Hal yang cukup baru, karena Peat jelas tak pernah memakan makanan dengan rasa itu sebelumnya.

"Dimana kau membeli makanan ini? Kurasa tidak ada Restoran keluarga didekat sini."

Bertanya, Peat menjadi sedikit penasaran. Dia jelas merasa cocok dengan rasa makannya, itu tidak mewah namun tetap terasa lezat. Bahkan sangat sederhana, tetapi Peat hampir menghabiskan setengah isi piringnya dalam waktu singkat. Membuat Fort yang melihatnya tersenyum, lalu kembali mengisi piring dengan lauk pauk yang lain. Dan Peat terlihat tidak keberatan, dia kembali menyuap makanannya dengan lahap.

"Aku yang masak. Saat turun kebawah, aku menemukan banyak bahan masakan di supermarket. Jadi aku membelinya dan memasak."

"Kau masak?"

"Ya."

"Bagaimana bisa?"

Benar, kondominium itu memiliki toko swalayan dilantai dasar. Sehingga tak perlu keluar dari gedung untuk berbelanja, namun bukan itu yang Peat permasalahkan. Dia masih begitu heran, ketika Fort berkata dia yang memasak semua makanan itu. Jadi maksud pria itu adalah dia bisa masak, bahkan memasak makanan selezat itu? Itu sesuatu yang tak pernah ada dalam bayangan Peat, walau sebenarnya bukan hal mustahil. Tetapi pada dasarnya, Peat selalu merasa takjub melihat orang yang memiliki kelebihan basic seperti itu.

"Apa itu sesuatu yang mengejutkan?"

"Tentu saja, bisa masak itu sesuatu hal yang luar biasa."

"Khun tidak bisa, bukan berarti orang lain juga tidak bisa. Percaya padaku, lebih banyak orang yang bisa masak sepertiku dari pada berbisnis seperti Khun."

"Benarkah? Kupikir berbisnis bahkan jauh lebih mudah dari semua itu."

Untuk ukuran orang kaya, berbisnis bukan hal sulit karena mereka memiliki modal besar. Tetapi tidak untuk orang miskin, yang bahkan seumur hidup bekerja untuk orang lain. Memulai bisnis sama saja, menggantungkan hidup dengan begitu tinggi. Itu seperti sebuah taruhan, jika kau berhasil maka akan hidup dalam waktu yang lama. Namun jika gagal, maka tamatlah riwayatnya mu. Judi dengan segala resiko, karena tidak memiliki modal awal yang mumpuni. Berbisnis tak semudah seperti yang Peat pikirkan, karena sejatinya dia bahkan telah terlahir dengan sendok emas. Dan memilki kekayaan miliaran bath, bahkan sebelum dia bisa menghitung banyak jari pada tangannya.

(Not) Love (FortPeat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang