Ruangan itu telah kosong, semua orang berlalu pergi sesaat rapat selesai. Hanya menyisakan tiga orang, yang kini diam tanpa kata. Aya orang yang pertama kali bergerak, dia membalikkan badan menghadap Peat. Menerima anggukan, wanita itu membungkuk untuk kemudian berjalan pergi dari sana. Meninggalkan hanya Fort dan Peat, yang tertinggal dalam ruangan besar yang kini kosong tersebut. Memutar kursi, Peat sekarang menghadap tepat kearah Fort. Melihat pria tan itu dengan alis terangkat, juga seringai yang terulas culas. Siap mendengar pendapat Fort, akan sesuatu yang telah Peat lakukan untuk pria itu. Haruskah itu sebuah rasa terimakasih? Atau hal yang jauh lebih dari itu.
"Aku rasa Khun menyuruhku untuk memilih sendiri cara untuk balas dendam. Ataukah aku yang lupa dengan ucapan Khun?"
"Kau terlihat tidak akan melakukan apapun, jadi aku membantumu."
SREETT!GREEPP!
Menarik pegangan kursi, dia membuat Peat berada tepat dihadapannya. Membungkuk, dia menatap sepasang mata rusa tanpa gentar. Menyelami kilauan yang begitu indah, tetapi menyimpan banyak kengerian yang tak akan bisa orang lain bayangkan. Bahwa pria cantik itu akan mampu membuatmu bertekuk lutut, menempatkan mu ditempat paling bawah. Begitu rendah, bahkan untuk merangkak pun akan susah dilakukan. Karena orang seperti Peat akan menginjak mu tanpa ampun, merendahkan mu sampai tak mampu bangkit lagi. Dan Fort yang menerima bantuan darinya sekarang, tak akan menunjukkan bahwa dia puas dan senang dengan semua hal yang pria cantik itu lakukan. Mari membuatnya berpikir bahwa ini lebih menarik, karena Fort tak senang dengan segala hal yang dia lakukan. Bermain tarik ulur yang Peat sukai.
"Apakah kau tak suka?"
"..."
"Kau sungguh tak menyukainya, Fort?"
"Apa aku boleh tak suka?"
"Tentu, itu perasaanmu. Kau boleh merasakan apapun."
"Iya, aku tak begitu suka."
"Lalu, haruskah aku dihukum karena kau tak menyukainya?" Membuat wajah menyesal yang sangat tak tulus, Peat benar hanya bermain-main dengan Fort saat ini. Dan pria tan akan meladeni permainan itu, dia tak akan keberatan untuk melakukannya. Peat suka bermain, maka Fort akan ikut serta dalam permainan pria itu.
"Benar, kau harus dihukum Peat."
SREETT!BRUUGG!
Tersenyum lebar, Peat bangun dari duduknya untuk kemudian bertukar dengan Fort. Saat pria itu dia tarik, lalu Peat dudukkan di kursi miliknya. Lalu mundur beberapa langkah, berdiri diam seolah menunggu. Fort terkejut pada awalnya, tetapi saat melihat Peat yang berdiri tak jauh darinya kini mulai memutar otak untuk berpikir. Hal apa yang harus dia lakukan agar pria itu merasa senang sekarang?
"Lalu, apa hukumannya?"
"Berlutut!"
"Berlutut?"
"Lakukan, Peat!"
Menurut dengan patuh, Peat berlutut begitu saja. Tak ada protes, bahkan tak ada kemarahan yang membayangi wajah. Dia melakukan semua itu dengan ekspresi senang sekarang, tersenyum dengan begitu lebar. Bukankah dia begitu gila?
"Apa selanjutnya? Haruskah aku menggonggong?"
"Kau kucing nakal, mengeong lah!"
"Mengeong?"
"Dari pada menggonggong, aku lebih ingin melihatmu merangkak sambil mengeong Peat."
Terlihat berpikir, Fort merasa sedikit was-was. Karena tak seperti saat dia menyuruh Peat berlutut, pria cantik itu sekarang terdiam untuk beberapa saat. Apakah dia marah karena Fort berlaku kurang ajar? Dia memang sedikit lancang, menyuruh Peat melakukan semua itu. Tetapi, bukankah mereka berniat untuk bermain sekarang? Seharusnya Peat tak akan mempermasalahkan, saat dia bahkan terlihat begitu siap seandainya Fort menyuruhnya menggonggong. Lalu, apa bedanya dengan Fort yang menyuruh mengeong sekarang?
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not) Love (FortPeat)
FanfictionHubungan simbiosis mutualisme, itulah yang tengah terjalin diantara mereka berdua. Peat Wasuthorn pengusaha muda kaya raya yang selalu haus akan sex, bertemu dengan Fort Thitipong karyawan biasa yang ingin merubah kehidupan menyedihkan dengan cara a...
