GREETT!
Kesepuluh jemari tangan memutih, saking eratnya dia menggenggam palang besi. Posisinya terasa begitu ambigu, karena kini tengah menungging dengan tubuh bersandar pada pagar balkon. Seperti yang mereka sepakati, Peat menyetujui ide Fort untuk melakukan seks disana. Di tempat terbuka, yang kapan saja mereka akan dapat dipergoki. Namun tak menaruh peduli, saat Peat kini merasakan sebuah kenikmatan. Dari aksi Fort dibelakang sana, menggoda lubang sempit dengan mulut juga lidah lihai. Menjilat dengan rakus, Peat merasakan ciuman dibibir lubang. Jangan lupakan, jilatan yang terasa sesekali. Memberikan sensasi geli, pada titik paling sensitif dari tubuh pria cantik.
"Fort, jangan terus menggoda.~"
Lirihan kecil, Peat bahkan merasa tak mampu mengeluarkan kalimat lainnya. Karena dia begitu sibuk mendesah, menyuarakan kenikmatan yang tengah dirasa. Kakinya bahkan gemetaran, saking terasa sensitif tubuhnya yang terus menerus diberi rangsangan. Semua hal itu terasa terlalu nikmat, sehingga dia tak lagi menaruh peduli. Bahkan pada tempat juga orang yang mungkin akan melihat perbuatan mereka, sekarang hanya semua kenikmatan itu saja yang menjadi fokus utama. Persetan dengan orang-orang, Peat hanya ingin Fort memasukinya secepat mungkin.
"Bukankah sudah kukatakan, aku akan memuaskan Khun kali ini."
Naik menciumi punggung mulus, Fort mengangkat baju Peat keatas. Untuk kemudian menghujami kulit putih dengan ciuman, dengan tangan yang juga tak tinggal diam. Menelusuri bagian depan, sampai berhenti pada dada. Untuk melakukan gerakan memutar, menggosok pada bagian daging yang menonjol. Meremas keduanya, Fort begitu menikmati menggerayangi tubuh Peat. Bahkan tengkuk pria cantik tak dilewati sedikitpun, saat dia menyedot kulit untuk meninggalkan tanda kemerahan. Peat sendiri hanya semakin mengeratkan genggaman, menikmati setiap sentuhan yang Fort lakukan.
GREEPP!SREETT!
"Khun, lihatlah. Tidak hanya terlihat dari bawah, kita juga bisa dilihat oleh orang diseberang sana."
Menyentuh dagu, lalu mengangkatnya untuk dapat menunjukkan perkataan. Peat yang sedari tadi terpejam, menikmati setiap sentuhan Fort. Kini jadi membuka kedua mata rusa, untuk menemukan orang-orang digedung seberang yang tengah beraktivitas seperti biasa. Dan seperti yang Fort katakan, jika mereka menoleh keluar jendela maka perilaku tak senonoh mereka akan langsung dilihat. Sikap tak tahu malu, karena coba melakukan seks ditempat terbuka. Namun bukan merasa malu, Peat benar-benar menjadi begitu bersemangat. Dia bahkan mengambil tangan Fort, untuk kemudian dia kulum dengan rakus. Memasukkan dua jari kedalam mulut, lalu menjilatinya seperti sebatang permen. Peat berniat membantu Fort untuk dapat melonggarkan dirinya, saat napsu nya sendiri sudah sampai ubun-ubun. Dia ingin Fort menyentuhnya, dengan keras juga sekasar mungkin.
"Kau benar-benar orang yang tak tahu malu, Khun."
SREETT!TRUST!
Fort menarik tangan, untuk kemudian memasukkan dua jemarinya itu kedalam lubang Peat. Masuk begitu dalam, dia menyentak dengan keras. Melakukan dengan kuat, membuat Peat memekik saking kerasnya itu. Bahkan dua jari itu langsung menyentuh sweet spot nya, memukul tepat pada tonjolan tersebut. Namun tak hanya sampai disana, saat dia langsung melakukan gerakan keluar masuk dengan kasar. Mengaduk lubang senggama tanpa ampun, membuat tubuh kecil turut maju mundur tanpa sadar. Mengikuti setiap irama gerakan tangan Fort, membuatnya terantuk palang besi berulang kali. Berbahaya, sebenarnya posisi mereka saat ini begitu berbahaya. Tak menahan tubuh dengan cukup erat, Peat bisa terjun bebas. Jatuh dari balkon kondominium nya sendiri karena melakukan seks, alasan kematian yang cukup konyol.
"Mau mengganti tangan dengan penisku, Khun?"
"Mau, cepat ganti.~"
Tertawa kecil, Fort menggeleng mendengar rengekan Peat. Dia sangat suka menggoda pria cantik ketika libido nya sudah dipermukaan, dia menjadi orang paling tak sabaran. Juga akan bersikap sangat manja, ketika meminta untuk segera disentuh. Tetapi Fort tak akan melakukan langsung, seperti yang dia katakan bahwa dia suka menggoda. Dan hanya saat itu kesempatan untuk melakukan itu, membuat Peat kehilangan kesabaran. Menjadi begitu kesal, karena Fort tak kunjung memasukinya. Dia sudah sangat menginginkan pria itu, sangat ingin sampai rasanya begitu gatal dibelakang sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not) Love (FortPeat)
FanfictionHubungan simbiosis mutualisme, itulah yang tengah terjalin diantara mereka berdua. Peat Wasuthorn pengusaha muda kaya raya yang selalu haus akan sex, bertemu dengan Fort Thitipong karyawan biasa yang ingin merubah kehidupan menyedihkan dengan cara a...
