Part 22

845 46 46
                                        

"Kau akan memukulku?"

"Tentu saja, tidak!"

GREEPP!CUP!PLAASSH!

Tentu tidak, Fort tidak akan mungkin melakukan itu. Semarah apapun dia, tak akan mungkin dengan berani memukul seorang Peat Wasuthorn. Sehingga hal yang dilakukan justru sebaliknya, saat dia meraih dagu Peat lalu menciumnya. Itu ciuman yang kasar, dan bahkan Fort menarik diri mereka masuk kedalam air. Dan sekarang wajahnya dan wajah Peat tenggelam dalam air pada bathtub. Tetapi hal itu tak menghentikan ciuman yang Fort lakukan, saat dia semakin bersemangat meraup bibir Peat. Menyedot dengan keras, tak peduli bahwa mereka mulai kesusahan bernapas akibat ciuman juga air yang menenggelamkan kepala. Gelembung udara bahkan telah banyak muncul dipermukaan air, menandakan bahwa mereka kehabisan oksigen.

SREETT!SPLAASSH!

Fort menarik Peat kembali kepermukaan, mengangkat tubuhnya juga tubuh Peat kembali berada diluar air. Dia dengan cepat mengatur napas, sedangkan Peat terbatuk keras. Dia hampir merasa tercekik, akibat ciuman dalam air yang Fort lakukan. Peat bahkan baru bisa membuka kedua matanya, karena wajahnya sebelumnya dipenuhi oleh air. Dan begitu kembali dapat melihat, Fort masih berada begitu dekat dengan wajahnya. Pria itu berada tepat dihadapan Peat, masih dengan tatapan setajam tadi.

"Lalu?"

Tidak, Peat tak membiarkan Fort berhenti disana. Saat dia kembali membuka suara, menanyakan hal yang akan pria tan lakukan selanjutnya. Terlihat coba memancing, reaksi lain yang akan Fort tunjukkan. Tak memiliki rasa takut sedikitpun, tak memiliki kekhawatiran sedikitpun. Peat masih tetap memposisikan diri menjadi seseorang yang memegang kendali, walau sekarang Fort tidak sedang dalam posisi patuh. Pria tan tidak bersikap seperti yang biasa dia tunjukkan pada Peat.

"Bukankah sudah ku peringatkan, bahwa kau mungkin tak akan bisa mengatasinya, Khun?!"

"Benarkah?"

"Ingin membuktikannya?"

Peat mengangkat sebelah alis sebagai respon, tanda bahwa dia tak mempercayai ucapan Fort. Lebih tepatnya meremehkan, juga sikap menantang coba membuat pria tan membuktikan ucapan. Sedangkan Fort yang menerima tantangan tersebut, menjadi sedikit bersemangat. Sehingga sekarang dia akan melakukan apapun yang ingin dia lakukan, kita lihat apa Peat akan menyesali keputusannya. Karena coba bermain-main dengan kemarahan Fort kini.

Mendekat! Toleh! Mendekat! Toleh!

Setiap Fort mendekat, maka Peat akan menghindar. Setiap pria tan akan coba mencium dirinya, Peat akan menolehkan wajahnya kearah lain. Sehingga yang Fort cium pada akhirnya hanya ruang kosong, udara hampa yang Peat tinggalkan. Sedangkan Peat, dia mengulas senyum puas. Melihat wajah kesal yang kini Fort pasang, karena tak berhasil menciumnya.

"Kurasa, aku bisa mengatasinya."

"Tidak, kau tidak bisa!"

GREEPP!

Sebelum Peat sempat menghindar kembali, Fort menggunakan sebelah tangan. Meraih leher Peat erat, mencegah pria cantik itu untuk melakukan pergerakan berlebih. Lalu Fort mulai bergerak, bukan menargetkan bibir Peat kembali karena kini pria itu justru menuju kearah leher putih. Ada beberapa tanda kemerahan diatas kulit, dan Fort sekarang menjilatnya. Menyapu dengan lidah basahnya, kemudian sedikit menyedot pada bagian kemerahan. Membuat tanda baru diatas tanda yang sudah ada, seolah ingin menghilangkan jejak sebelumnya.

"Ngghhh..."

Peat dengan cepat meraih pinggiran bathtub, menjadikan sebagai pegangan. Karena Fort menyerang setiap titik sensitif, coba menghilangkan setiap kissmark yang orang lain buat pada tubuh Peat. Selesai dengan leher, Fort melanjutkan kearah dada juga perut Peat. Dan saat dia juga melihat begitu banyak tanda disana, Fort tak dapat menahan diri untuk tak memaki.

(Not) Love (FortPeat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang