Berhenti.
Peat menghentikan langkah, sesaat mendengar kalimat yang sang ayah ucapkan. Berbalik, dia kembali melipat kedua tangan didepan dada. Mengangkat sebelah alis, dia menginginkan penjelasan lebih atas perkataan Tuan Sirinthai. Ketika pria tua itu menyinggung tentang seorang pewaris, saat Peat memberitahukan tentang keberadaan Fort disisinya.
"Haruskah aku memiliki seorang penerus?"
"Tidakkah kau ingin memiliki anakmu sendiri?"
Berpikir, Peat terlihat memikirkan pertanyaan tentang memiliki anaknya sendiri. Dahulu sekali, dia pernah berpikir untuk melahirkan seorang anak. Menuruti keinginan sang ayah, untuk memiliki penerus dengan kekasih hatinya. Namun belum sempat semua hal terealisasikan, dia justru mendapati penghianatan besar. Tidak hanya diselingkuhi, bahkan mimpi untuk memiliki anak harus dia kubur dalam-dalam. Sehingga sekarang begitu ayahnya membahas permasalahan itu, Peat sanksi bisa memiliki keinginan tersebut kembali. Walau ada bagian di relung hatinya yang merasakan keraguan, bahwa dia akan teguh dengan keputusannya itu. Karena jelas, keberadaan Fort disampingnya merubah pikiran Peat sedikit demi sedikit. Tetapi tidak terlalu jelas, itu perubahan yang baik atau mungkin justru sebaliknya.
"Kurasa tidak dalam waktu dekat."
"Baiklah, kapanpun itu Ayah akan menunggu. Katakan saja saat kau ingin Ayah melamarkan kekasihmu, aku pastikan dia tak akan pernah menolak."
Tuan Sirinthai berkata ringan, mengingat Peat tidak menunjukkan penolakan oleh kalimatnya. Dia seperti berkata bahwa suatu saat jika telah siap, dia pasti akan memiliki anaknya sendiri. Seorang keturunan Chaijindar yang akan lahir dari rahimnya sendiri, mengingat Peat memiliki keistimewaan tersebut. Sehingga Tuan Sirinthai tak lagi mengkhawatirkan permasalah tersebut, keturunan mereka yang tak akan pernah terputus asalkan Peat menemukan seorang pasangan yang dia inginkan kali ini.
"Terserah, asal kau tak ikut campur lebih dari ini saja."
"Tentu saja, percaya pada ayah. Aku hanya akan melakukan apapun yang kau ingin kulakukan."
Mengangkat kedua bahu acuh, Peat berbalik pergi. Tak terlalu memikirkan perkataan Tuan Sirinthai, tetapi tidak juga coba membatah apapun. Seperti yang dia pikirkan sebelumnya, dia juga tak terlalu mengerti perasaannya kali ini. Biarkan saja waktu yang nanti akan menjawab, sekarang cukup membiarkan semua berjalan tanpa harus memberatkan pikirannya. Dan yang lebih penting, dia ingin menemui pria tan itu lebih cepat. Dia ingin memberikan apresiasi tinggi, mengingat Fort mematahkan kecurigaan yang sebelumnya Peat rasakan. Memberikan lebih dari rasa kagum, bahwa Fort ternyata melakukan hal yang tak pernah ada dalam bayangan dirinya sebelum ini.
"Mari memberinya hadiah."
CKLEEK!
Masuk kedalam kondominium asing, sepertinya dia tak salah tempat karena Peat mengirimkan alamatnya dengan sangat jelas dari pesan singkat tadi. Tetapi yang menyambutnya kini justru hanya kegelapan, ketika seharunya lampu menyala secara otomatis namun disana tidak terjadi seperti itu. Sehingga Fort merasa sedikit bingung, tak mungkin bukan kondominium mewah seperti ini mengalami pemadaman listrik. Dan bahkan di koridor tadi, lampu disana menyala seperti biasa. Tetapi mengapa di dalam sini justru begitu gelap, walau selanjutnya matanya mulai terbiasa. Saat ada berkas-berkas cahaya mulai tertangkap retina, dari bias dari ruangan lain. Membuat Fort coba berjalan kearah datangnya cahaya, dengan perlahan agar tak tersandung benda apapun yang berada disana.
"Khun, apakah kau ada disini?"
Tidak ada jawaban, walau begitu Fort tetap melanjutkan langkah. Kali ini kearah sebuah ruangan, yang ternyata cahaya redup datang dari arah meja dari ruangan tersebut. Dan tatapannya jatuh, pada lilin-lilin diatas meja makan. Beberapa makanan terhidang, tertata rapi lengkap dengan bunga besar sebagai penghias. Juga jangan lupakan keberadaan Peat disana, yang berdiri dengan sebuah senyum lebar. Berpenampilan luar biasa, sesuatu yang bahkan lebih menarik dengan semua hal yang ada disana. Apa sebenarnya semua ini?
KAMU SEDANG MEMBACA
(Not) Love (FortPeat)
Hayran KurguHubungan simbiosis mutualisme, itulah yang tengah terjalin diantara mereka berdua. Peat Wasuthorn pengusaha muda kaya raya yang selalu haus akan sex, bertemu dengan Fort Thitipong karyawan biasa yang ingin merubah kehidupan menyedihkan dengan cara a...
