Alam menggapai kopi instan dari dalam kabinet. Diseduhnya kopi tersebut dengan air panas kemudian diaduk secara perlahan. Dia berdehem ketika Nio-teman satu divisi menghampiri.
Hanya sekitar lima orang di pantry termasuk Alam. Alam bersandar di meja pantry sembari mengangguk singkat pada Nio yang berjalan bmelalui dirinya.
"Salim hectic bener hadepin bu Susi." Ucap Nio mendekat dengan cangkir ditangannya.
Bu Susi adalah kepala divisi dari Departemen pemasaran. Wanita berusia awal empat puluhan itu memang terkenal dengan sikapnya yang kerap kali menyerocos kepada para staff.
"Denger-denger enam bulan kedepan emang bakalan lebih padat lagi."
"Bukannya emang selalu bakalan sibuk ya? Udah jadi makanan sehari-hari."
"Lo beneran belum dengar berita terbaru dari tiga hari lalu? Parah lo, Lam. Ini beneran berita penting, katanya bakalan ada mutasi plus promosi ke perusahaan di Singapura. Gokil bro kalau dapet tuh." Nio masih sibuk dengan kopi diatas meja namun tetap menjelaskan pada Alam.
Alam mengangguk.
"Beneran belum tau lo? Alam-Alam." Nio menggeleng-geleng. "Salah satu kandidat dari divisi kita ya lo."
"Kok jadi lo yang tau duluan daripada gue?"
"Lo ngeraguin gue? Salah orang lo. Tapi kita berdua bersaing secara sehat aja ya, gue juga termasuk tuh."
"Congrats." Alam bertos ria dengan Nio.
Nio tertawa menyambut tangan Alam, "Kita mah bersaing sehat aja ye kan."
"Berapa posisi yang dibutuhin?"
"Kalau itu gue kurang tau. Sebenarnya pengumuman resminya belum muncul tapi udah bocor duluan. Taulah anak-anak sini pada gercep semua."
"Yaudah lah, gue duluan. Laporan gue belum selesai nanti Bu Susi mengaum lagi."
Alam membuka ponselnya, beberapa hari lalu ia sudah disibukkan dengan berbagai keribetan. White Building akan mengadakan pameran yang nantinya akan memperkenalkan proyek baru perusahaan yang akan diluncurkan 6 bukan dari sekarang. Tentunya ia ikut andil sebagai asisten menejer.
Dia mendapat pesan dari Saphira, wanita itu mengabari bahwa nanti mereka berdua untuk pulang bersama. Wania, Mamah-nya baru saja pulang dari Bali menghadiri pesta pernikahan sepupunya dan dia ingin memberikan oleh-oleh pada Alam dan Dewi.
***
"You always look great. This denim shirt look good on you."
Saphira baru saja memasuki mobil dan pujian tersebut langsung ia lemparkan pada sang kekasih.
Alam tersenyum lembut, "Thanks, sayang." Ia mengelus lengan Saphira singkat.
"Enggak ke resto dulu buat isi perut? Hari ini pasti capek banget." Tanya Alam dengan mobil yang mulai melaku sedang.
Jalanan sore yang senantiasa padat di hari kerja. Suara kelakson dari pengendara lain menghiasi suasana sore. Langit jingga juga mulai tercetak yang nampak indah dari kaca mobil Alam. Sejenak gedung-gedung pencakar langit nampak lebih menarik dengan latar belakang langit jingga.
"Engga usah deh, kan nanti kita mau mampir ke tempat kamu. Kamu nggak lupa kan aku mau ngasih oleh-oleh mamah ke tante Dewi."
"No, aku nggak lupa. Kali aja kamu mau mampir ke resto dulu. Tapi tadi aku lupa ngasih tau mamah kalau kamu mau datang."
"Babe, kayak sama siapa aja." Saphira menyandarkan punggungnya.
"Soal promosi waktu itu-" Saphira terjeda, "Aku mesti siapin proposal yang mateng-mateng buat kuatin posisi aku."
"Kamu pasti bisa, aku nggak pernah raguin kemampuan kamu. Buat kamu sampe ke posisi ini dengan waktu singkat aja udah jadi bukti kegigihan kamu."
Saphira menoleh pada Alam, ia tersenyum sembarienatap Alam dengan pandangan sayang. "Makasih sayang udah selalu pengertian sama keadaan aku. Kadang aku emang terlalu sibuk sama dunia aku sendiri tapi kamu selalu dukung aku. Jangan pernah lelah hadapin tingkah aku ya."
Tatapan mereka beradu beberapa detik hingga Alam kembali fokus pada jalanan. Bibir Alam terangkat kala ia mendapat ciuman secepat kilat dipipi kirinya. Sementara Saphira hanya terkikik geli.
***
"Bagi ya catatan fisika kemarin, lu tau kan gue mana sempat nulis semua tuh catatan yang dipapan tulis."
"Lo enggak sempat nulis ya karna molor, Re."
Rere terbahak diseberang sana, "Tau aja lo. Tapi ya Eina juga nulisnya kecepatan tau, gue masih nulis A eh dia udah sampe Z aja kan gue jadi males." Rere menyebutkan nama sekretaris kelas mereka.
"Yaudah nanti gue kirim."
"Oke pokoknya jangan lupa ya, enggak usah buru-buru ngirimnya ini gue juga masih diluar."
"Yaa, Hati-hati."
"Baik, Puri Riane. Gue tutup ya."
Puri bersender di pembatas balkon. Berdiam diri ditempat ini sekarang sudah menjadi rutinitas setiap malam. Sambil memandang langit dan kalau-kalau beruntung dapat menyaksikan Alam pulang kerja.
Tunggu apakah sekarang Puri sudah mengakui perasaannya pada Alam? Katakan saja iya namun dia tentu masih dipenuhi dengan kebimbangan.
Suara deru mobil milik Alam mengalihkan perhatian Puri. Biasanya ia langsung mengibrit masuk kekamar dan hanya mengintip dari jendel sebelum sangat empunya mobil keluar dari mobil. Sungguh hal yang konyol. Namun belum sempat melakukan hal tersebut seseorang yang terlebih dahulu keluar dari pintu depan penumpang seakan menarik Puri ke dunia nyata secara paksa.
Saphira nampak cantik dengan tentengan totebag ditangannya. Lihatlah betapa serasinya dua orang itu. Didepan sana mereka berdua berjalan beriringan.
Seketika Puri menertawai perasaan konyolnya, "Masih SMA udah main cinta-cintaan aja sama pacar orang lagi." Puri tertawa getir. Baiklah biar dia sendiri saja yang akan menata ulang hatinya.
_______
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
FIX YOU
RomancePuri Riane menyadari ketertarikannya pada Alam Sagara. Masalahnya Alam bukanlah pria single. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu sudah memiliki kekasih. Bagaimana Puri mengatasi perasaannya?
