thirteen

418 12 0
                                    

Sejak mengetahui Alam ternyata bisa membuat kue Ku sebenarnya Puri sudah berekspektasi lebih. Kue Ku dengan warna yang tidak seperti biasanya sudah terhidang. Baru kali ini Puri melihat Kue khas Tionghoa itu berwarna coklat.

"Saya mau mau nyoba yang baru aja, Ri. Sekalian eksperimen." Ungkap Alam saat pembuatan kue tadi. Puri tidak membantah, ia hanya mengernyitkan dahi atas penuturan Alam.

Gadis itu meletakkan kue kembali ke atas piring. Bayangan rasa kue ku yang sama seperti dibuat Dewi ternyata hanya ekspektasi belaka. Kue ini bahkan kurang manis. Namun tak ayal Puri mengakui kemampuan Alam layak diacungi jempol.

"Kurang manis, ya?" Bahkan Alam menyadari kekurangan kue buatannya.

Puri tersenyum kecil sembari mengangguk.

"Kalau ditambah susu kental manis kira-kira gimana, ya?"

Kedua mata Puri membola, ia menggelengkan kepala. "Enggak usah, ini juga udah enak. Lagian kebanyakan gula kan juga nggak bagus buat kesehatan, mas."

Alam hanya mengendikkan kedua bahu. Sekarang jam masih menunjukkan pukul satu siang. Dan mereka sudah menyelesaikan kegiatan pembuatan kue Ku. Alam dan Puri juga sudah membereskan kekacauan yang sempat tadi mereka buat didapur.

"Saya lapar, kamu mau pesan apa, Ri?"

"Mas mau pesan makanan, ya?"

"Iya, saya lagi pengen makan nasi padang."

"Kalau gitu aku ngikut mas aja." Selama berkutat didapud Puri berpikir ulang untuk mengubah cara bicaranya menjadi lebih nyaman dan leluasa pada Alam. Memangkas keformalan antara mereka berdua. Lagian dia juga capek terus menerus menggunakan saya. Tidak biasa.

Puri menggembungkan pipinya, ia melirik Alam dari ekor mata. Ruang tengah tiba-tiba terasa hening. Benda persegi panjang didepan yang menampilkan pergulatan antara dua pria tidak dapat menarik perhatiannya.

Sementara Alam masih sibuk dengan ponselnya. Puri mencari posisi yang nyaman, jarak antara dia dan Alam hanya beberapa jengkal saja. Puri mengikuti gerakan Alam yang mengambil kue Ku. Sepertinya pria itu benar-benar kelaparan.

Tangan kanan Puri menutup mulutnya yang menguap. Matanya sampai berair karena kantuk menyerangnya. Wajar saja sebenarnya setelah aktivitas yang cukup menguras tenaga.

Kira-kira berapa menit lagi pesanan mereka akan tiba? Pasti Puri hanya menunggu beberapa menit lagi mungkin sekitar dua puluh menit lagi. Tapi sekarang matanya benar-benar berat. Dia tidak dapat menahannya. Tampilan televisi didepan juga sudah terlihat blur dari mata brown Puri hingga berubah menjadi gelap total.

***

"No surprise. Ini bukan pertama kalinya juga."

"..."

"Kamu harusnya lebih awal ngasih tau."

"Jangan minta maaf terus-terusan kalau nantinya juga kamu ulangi lagi." Suara Alam tertahan membalas ucapan seseorang diseberang sana.

Ia mendengus kasar tanpa menunggu lama lagi lalu menutup panggilan dengan perasaan kesal yang menjalar. Kekasihnya Saphira selalu membuat keputusan sepihak tanpa meminta pendapat dirinya terlebih dahulu. Hubungan adalah dua orang yang terlibat didalamnya. Namun agaknya konsep itu tidak berjalan sesuai semestinya antara dia dan Saphira.

Samar-samar telinga Puri menangkap suara pergerakan Alam. Ia bergerak pelan lalu berkedip beberapa kali, masih mencerna kenapa ia sampai ketiduran disofa ini. Seingatnya tadi ia tertidur dengan posisi duduk namun kini ia sudah menguasai sofa alias berbaring di atasnya. Apakah Alam yang memperbaiki posisinya?

Puri menoleh kesamping, ia menemukan Alam yang duduk anteng di single sofa.

"Kamu udah bangun ternyata." Ujar Alam dengan ponsel yang masih ditangannya. Alam tidak ingin menunjukkan rasa jengkel nya pada gadis itu.

Puri segera bangun dari posisinya kemudian memegang keningnya karena pergerakannya yang tiba-tiba.

"Jangan langsung bangun gitu, Ri. Pusing kan jadinya."

Puri menyengir.

"Kamu makan dulu, tapi nasinya udah keburu dingin. Kamu tadi tidur nya kelihatan nyenyak. Saya jadi enggak enak bangunin kamu." Alam menggeser nasi padang yang masih dibungkus kehadapan Puri.

"Emang sekarang udah jam berapa, mas?" Tanya Puri sembari berdehem.

"Setengah tiga."

Pantas saja ia merasa lemas karena jam makan siang ternyata sudah lewat.

"Tante Dewi belum balik, mas?" Puri turun dari sofa lalu duduk lesehan diatas lantai. Duduk dengan posisi ini terasa lebih nyaman karena dekat dengan meja.

"Belum, sepertinya agak sorean baliknya. Kue yang tadi masih ada di dalam kulkas, kamu jangan lupa bawa, ya."

Puri yang memasukkan suapan nasi hanya mengangguk atas ucapan Alam.

"Saya tinggal bentar ya, Ri. Saya mau keatas dulu." Alam bangkit dari tempat duduknya. Pria yang rambutnya sekarang tidak klimis itu meninggalkan Puri yang masih belum selesai dengan nasi padangnya.

"Puri."

"Iya, mas?"

"kamu tadi ngorok."

Puri tersedak. Benar-benar tersedak bercampur malu dan kaget karena ucapan Alam. Ia merasakan perih ditenggorokan dan rasanya beberapa nasi masuk ke hidungnya.

Pun Alam langsung sigap menghampiri Puri. Ia jongkok dan menepuk-nepuk punggung Puri pelan. Tangannya yang bebas merapikan rambut yang menutupi wajah Puri.

Sementara Puri masih batuk, ia menunduk dengan minum yang tidak absen.

"Maaf, Ri. Saya benar-benar nggak ada niatan bikin kamu kayak gini. Saya tadi cuma becanda."

Puri mengangguk lalu setelah merasa baikan ia menyandarkan punggungnya.

Alam dengan inisiatif penuh membawa Puri duduk ke atas sofa. Tangan Alam belum lepas dari punggung Puri.

"Saya benar-benar mengacaukan makan siang kamu."

"Iya, nggak apa-apa. Aku cuma kaget aja tadi. "

"Yah, tetap saja."

"Tapi aku beneran enggak ngorok kan, mas?"

"Kamu masih aja bahas itu. Saya tadi emang niatnya cuma becanda."

Puri ber-oh ria. Sebenarnya ia memang masih lapar, tapi Alam merasa bersalah sekali.

"Kalau begitu saya akan traktir kamu sebagai permintaan maaf."

"Enggak usah repot-repot."

"Saya enggak menerima penolakan. Saya siap-siap dulu, kamu juga siap-siap sana. Atau kamu mau pergi dengan pakaian kayak gitu?" Alam melirik baju Puri yang sudah basah kena tumpahan air minum karena tadi minum dengan rakus.

"Sekarang, mas?"

"Saya tunggu lima belas menit lagi." Ucap Alam sambil berlalu pergi.

"Mas Alam gitu amat." Gerutu Puri.

"Saya dengar Puri."

________

Tbc.

FIX YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang