twenty eight

595 19 0
                                        

Selama dua minggu Puri berlakon menjadi seseorang yang aneh karena menghindari Alam. Percaya tidak percaya dia melakukan itu untuk memastikan bahwa perasaan tidak wajar yang mengganjal itu hanyalah sebatas angin saja.

"Kok gue malah kayak main kucing-kucingan gini, ya."

Puri sedang duduk dibalkon kamarnya.

"Aneh banget, kok jadi gini ya?"

Caramu melihat seseorang akan berubah ketika dia pernah singgah dalam mimpimu. Dan itu benar adanya, Puri benar-benar merasakannya. Apalagi mimpi bermesraan dengan Alam selayaknya sepasang kekasih.

Ingatan Puri terlempar pada Alam saat dikelab. Alam menolongnya, dia juga mengantarnya dan satu hal yang tidak bisa dipungkiri Alam sangat amat tampan dibawah lampu mobil yang remang-remang.

Puri seratus persen sadar menaruh hati pada pria macam Alam yang sudah memiliki kekasih adalah masalah besar. 
Tersentak, Puri menggeleng kepala cepat-cepat.

Dibawah sana, didepan rumah Alam nampak mobil hitam memasuki pekarangan rumah. Tidak salah lagi itu adalah mobil milik Alam.

Dengan dorongan yang kuat Puri berdiri mengawasi sang empu-nya mobil dari tempatnya. Hingga Alam keluar dan pandangan mereka bertemu.

Puri tersenyum kaku tanpa pikir panjang lagi ia berbalik badan masuk kedalam kamar dengan terburu. Tidak memperhatikan air muka Alam yang menunjukkan ekspresi keheranan.

"Non, maaf tadi saya udah ketok pintu tapi nggak ada jawaban."

Puri menggaruk dahinya, "Iya bi kenapa?"

"Makan malam sudah selesai terus nyonya juga sudah menunggu."

"Makasih, bi."

Sepeninggal Bik Sari dia berdehem, dengan kesadaran penuh sekali lagi dia mengintip dari jendela dan sepertinya Alam sudah memasuki rumah.

***

Mas Alam
Mamah nanyain kamu

Pesan dari Alam belum dibalas dan dia juga tidak ada niatan memberikan balasan pesan itu. Puri hanya melirik sekilas ia lalu melahap suapan terakhir dari piringnya yang diatas meja.

Pagi hari yang sepi, di meja makan itu hanya diisi oleh Puri. Saras nampak memiliki kesibukan dua kali lipat dibanding sebelumnya. Puri tahu dari mana sikap avoidant-nya ini menurun, tidak salah lagi pasti dari Saras.

Mamahnya semakin tidak tersentuh, Kadang-kadang timbul perasaan tidak diinginkan di lubuk hati Puri. Kasih sayang jarang sekali ditunjukkan oleh Saras.

Puri kesepian.

"Non, anu den Alam nunggu diteras."

"Gimana bi?"

Puri tidak mengerti, tiba-tiba saja pria itu sudah diberanda rumahnya.

"Den Alam diteras katanya mau ketemu sama non."

Tas diatas meja sudah berpindah ke tangan Puri, dia menuju tempat Alam berada. Benar saja disana Alam tengah berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Kemeja hitam yang rapi dan licin dan wangi khasnya yang memenuhi penciuman Puri.

Alam tersenyum, dia mendekat beberapa langkah.

"Kita berangkat bareng Puri."

"Aku udah pesan taksi, mas." Elak Puri tanpa berpikir.

"Cancel aja."

Gampang dan mulus sekali kata-kata itu keluar dari mulut Alam.

Tidak mendapati pergerakan dari Puri, Alam keheranan, alis kanannya terangkat dan tangannya meraih lengan Puri melangkah bersama.

"Kamu nanti telat."

Disamping mobil, Alam masih belum melepaskan tangan Puri. "Tugas kamu banyak, ya?"

Puri menggeleng. Alam bersandar di pintu mobil, "Terus kenapa kamu keliatan banyak pikiran?"

Puri tertawa canggung, "Masa sih mas? Perasaan mas doang kali."

Alam mengendikkan kedua bahunya, "Soalnya yang ini dari tadi berkerut terus." Jemari itu hingga mengelus kening Puri yang menunjukkan tiga garis halus.

Tubuh Puri konstan tersentak. Tindakan Alam merupakan kesalahan karena saat ini Puri bisa merasakan sekujur tubuhnya yang tegang.

Jangan katakan kalau dia beneran baper atas perlakuan Alam selama ini. Pun Alam berjalan menuju tempat kemudi. Puri dengan gerakan lambat membuka pintu mobil. Dia menghela nafas kasar.

***

"Udah berapa nyali ya gue ingetin niat nggak dekat-dekat sama calon kakak ipar gue." Suara itu penuh dengan tekanan. Siapa lagi kalau bukan Laura yang mudah tersulut emosi.

"Maksudnya apa ya?" Jelas nada keheranan dilemparkan Puri.

Hanya mereka berdua didalam toilet, padahal saat memasuki bilik toilet Puri masih melihat beberapa orang yang sibuk dengan agendanya masing-masing. Tahu-tahu keluar dari bilik ia malah mendapati Laura dengan ekspresi tidak enak. Siap menerkam siapa saja. Pasti para antek-anteknya sedang berjaga diluar toilet. Kurang kerjaan saja.

Puri menduga-duga alasan apalagi yang membuat pacar Radit ith mendatanginya seperti ini.

"Enggak usah bloon, peringatan gue yang waktu dikelab nggak bikin lo mikir dua kali buat deket sama mas Alam lagi?"

"Gue nggak pernah deketin mas Alam. Cukup ya Laura jangan nuduh gue sembarangan!"

"Alah! Dasar cewek gatel!"

"Lo!" Puri benar-benar kehabisan energi menghadapi Laura.

"Pasti lo nuduh gue nggak beralasan kayak gini karna masalah Radit waktu itu. Please deh Laura padahal gue tau pasti lo tau banget gimana tabiat cowok lo."

Laura tersenyum sinis, dia menyingkirkan jari Puri dari hadapannya.

"Selain gatel gue lihat lo sotoy juga ya. Tadi pagi jelas-jelas gue lihat lo keluar dari mobil Mas Alam. Lo nggak mikir perasaan kakak gue? Tiap hari lo dianter sama pacarnya?"

Suara Laura bergema di dalam toilet. Dia tertawa remeh, "Lo mestinya jangan klemer-klemer kasih batasan yang jelas. Padahal lo tau kalau mas Alam udah punya cewek."

Puri tidak mengeluarkan sepatah kata. Semua ucapan Laura bagai sentilan padanya. Dia jelas adalah gadis kesepian yang ketika dihadapkan dengan sikap Alam langsung luluh.

Laura berbalik meninggalkan Puri dengan wajah puas. Sementara Puri menatap kedepan dengan perasaan gamang. Dia beralih pada cermin toilet. Memandangi refleksi dirinya disana lama.

"Dasar lemah." Kalimat itu ditujukan pada dirinya sendiri.

___________

Udah lama nggak up.



Tbc.


FIX YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang