thirty one

602 30 11
                                        

Puri benar-benar tidak bisa menghindar dari acara kumpul-kumpul di rumah Alam. Dia sama sekali tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolak niat baik Dewi. Dan di sini lah dia berada bersama Dewi sedang berkutat didapur.

Baru saja menginjakkan kaki disana Dewi sudah menyambutnya dengan celemek dibadannya. Ibu dari Alam itu menuntun Puri kearah dapur. Disana alat tempur memasak dan bahan-bahan sudah memenuhi meja makan.

Tidak tahu mesti bersikap bagaimana terlebih disana juga ada Neira yang notabene-nya adalah orang yang masih asing bagi Puri membuat dia hanya mengikuti Dewi. Sementara Neira bolak-balik mengawasi Mico yang sedang dalam masa aktifnya. Anak laki-laki berusia tiga tahun itu kesana kemari dengan mainan ditangannya.

"Tante baru aja mau mulai bikin kukisnya. Mico dari tadi rewel banget."

Puri tersenyum tipis menanggapi. Suasana hari minggu pagi itu nampak hangat. Puri memandangi Neira dan Mico kemudian beralih pada Dewi. Sekali lagi netranya masih memandang kesana kemari. Tidak ada kata yang keluar dari mulut namun hatinya bertanya-tanya. Agaknya hati mungilnya mengharapkan seseorang yang akan muncul dari tangga.

"Puri bisa bantu apa tante?"

Dewi berpikir, "Kita bikin adonannya bareng, ya Puri. Kayaknya Mico beneran enggak bisa ditinggal begitu aja. Tumben banget pagi ini cucu tante rewel sekali."

"Raka menantu tante baru bisa nyusul kesini agak siangan nanti. Jadi mbak mu Neira aja dulu yang handle Mico. Mico sekalinya rewel jadi rewel minta ampun."

"Ihh enggak papa tau tante, kan aku kesini juga mau sekalian belajar."

"Bagus, perempuan itu dimata tante kalau bisa masak kayak gini nilai plusnya nambah, nak Puri. Bukan berarti tante memaksakan ya, itu kan kembali lagi ke pribadi masing-masing. Tapi tante senang aja gitu."

Obrolan mereka bedua mengalir begitu saja. Sementara Puri tersenyum malu atas ucapan Dewi. Kegiatan itu diselingi dengan Dewi yang sesekali memperhatikan dan tertawa karena tingkah cucu pertama dikeluarga mereka itu. Mico sangat amat lucu.

"Om-om." Mico berucap riang sembari melompat-lompat.

Kehadiran Alam disana menyita perhatian balita itu. Tidak tinggal Puri sendiri yang sedari tadi juga memang sudah mencari-cari keberadaan pria itu berusaha menyembunyikan senyumannya. Pipinya menghangat hanya melihat Alam saja dari jarak jauh seperti ini.

"Mbak Saphira."

Memalukan sekali, apakah disekitarnya menjadi blur seperti ini? Puri benar-benar tidak menyadari keberadaan Saphira didepan pria itu sampai Neira menyapanya.

Neira tertawa, dia mendekati sepasang kekasih itu dan memberikan pelukan. Mereka berdua jelas terlihat akrab dan memiliki hubungan calon per-iparan yang baik. Sungguh manis.

"Kita udah lama banget mbak ketemu loh. Kangen aku tuh."

"Ihh sama banget, kapan-kapan ngopi lagi yuk."

"Semoga aja Mas Raka mau ngemong Mico."

"Sama Mas Alam aja nggak sih? Biar kita girls time dulu, kalau dia nggak mau mbak ngambek nanti." Ucap Saphira diakhiri tawa dan lirikan pada Alam.

"Tuh, dengerin Mas."

Tau-tau Mico sudah berpindah kegendongan Alam. Pria itu hanya-hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Muncul pertanyaan di kepala Puri begitu saja. Kira-kira sehabis darimana sepasang kekasih itu pagi-pagi begini.

"Alam tadi jemput Saphira, ya sekalian udah lama nggak kumpul-kumpul seperti ini."

FIX YOU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang