Arkan menyusuri lorong sekolah Zanna, ia menaiki tangga mengingat-ingat dimana letak ruangan wali kelas adiknya. Banyak sekali ruangan di sayap barat dan timur membuatnya bingung. Menyadari kalau ia tersesat ia pun menelpon Zanna menanyakan titik lokasi gadis itu, setelah mengetahui dimana ia harus melangkah Arkan menutup telfon dan berbelok ke sayap timur lalu berjalan lurus hingga menemukan gadis mungil menggemaskan yang berdiri bersandar di dinding terlihat lesu.
Semalam gadis itu dengan gugup memberikan secarik kertas padanya, setelah ia perhatikan ternyata hanyalah surat panggilan wali murid dari wali kelasnya. Arkan bertanya tanpa mengintimidasi kenapa ia tiba-tiba mendapatkan surat panggilan itu, tetapi Zanna hanya menggeleng tak mau menjawab dan hanya menyuruhnya datang menggantikan papa dan memintanya merahasiakan surat panggilan itu dari orang tua mereka. Melihat ketakutan gadis itu membuat sisi manipulasi Arkan muncul, ia memanfaatkan ketakutan Zanna untuk membuatnya nurut di ranjang. Bagaimanapun juga, setiap ada urusan di sekolah adiknya ia yang selalu datang sebagai wali semenjak gadis itu SMP. Papa dan mama selalu tidak sempat dan sering kali absen dan hanya memberikan janji-janji manis yang pada akhirnya tidak ditepati.
Menyadari ada langkah kaki yang mendekat, Zanna menoleh dan menemukan Arkan sudah berdiri di sisinya. "Kak, kok telat?" tanyanya.
Tangan Arkan terulur mengelus puncak kepala Zanna,"maaf sayang, kakak baru selesai menghadiri pertemuan kolega"
"Ayo kak masuk, wali kelas aku udah nunggu daritadi" ajak Zanna.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki ruangan. Ketika masuk mata yang diyakini milik wali kelas Zanna menatap kedatangan mereka. Arkan tersenyum sopan dan meminta maaf karena datang terlambat. Setelah dipersilahkan, mereka mereka berdua duduk bersisian di depan meja wali kelas Zanna. Ia menyerahkan hasil nilai ulangan Zanna yang anjlok padahal Zanna adalah salah satu murid yang memiliki prestasi dan entah alasan apa hal ini bisa terjadi. Guru itu menjelaskan bahwa Zanna seringkali tidak fokus belajar dan nilainya tertinggal jauh dari teman-temannya, kalau Zanna tidak segera mengejar hal itu bisa berakibat fatal, tentu sekolah elit ini menginginkan murid yang mampu mencapai nilai yang memuaskan dan nilai-nilai Zanna kini begitu memprihatinkan. Namun dengan kebaikan hati sang wali kelas ia bersedia memberikan tugas tambahan agar Zanna mampu menyusul teman-temannya. Namun kemungkinan semester ini Zanna bukan lagi murid yang mampu bersaing di tiga besar. Tak masalah, Arkan tak pernah mempermasalahkan nilai Zanna, ia bukan wali yang diktator seperti papanya.
"Mohon maaf sebelumnya, pak. Apakah Zanna ada masalah di rumah?" tanya sang guru dengan tatapan menyelidik.
Arkan melirik Zanna yang menunduk dan menautkan jarinya gugup, ia pun menatap kembali wali kelas adiknya. "Sejauh ini saya tidak melihat ada masalah di rumah. Hubungan keluarga juga baik-baik saja" jawabnya.
"Bukan bermaksud ikut campur, tapi Zanna akhir-akhir seperti memikirkan sesuatu yang kadang membuatnya tidak fokus hingga saya serta guru-guru yang lain sering menegur-"
Arkan mendengarkan secara seksama menunggu sang guru melanjutkan perkataannya.
"-dan saya rasa masalah ini lumayan serius, pak. Beberapa kali siswi lain memergoki Zanna muntah-muntah di toilet sekolah, dan beberapa kali juga ia mau tak mau meninggalkan pelajaran harus beristirahat di uks. Dan setelah diperiksa ternyata dia mengalami gerd. Hal ini mungkin saja bermula dari kecemasan Zanna yang berlebih yang meningkatkan resiko gerd atau mungkin saja pola makan yang tidak benar. Sebagai wali kelas saya meminta anda untuk memperhatikan Zanna pak" tutur wali kelas Zanna.
Mendengar penuturan wali kelas Zanna membuat Arkan tercengang. Ia merasa kecolongan, bagaimana bisa ia tidak menyadari kondisi Zanna? Pantas saja gadis itu kian hari kian kurus. Arkan mengucapkan terimakasih dan berjanji akan memperhatikan Zanna dengan baik agar hal ini tidak akan terulang lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSANE MAN (Complete)
RomancePria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit. Arkan t...
