Arkan masih berkutat di depat laptopnya di ruang kerja papanya setelah selesai makan malam hingga kini padahal malam sudah larut. Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 12 malam, ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya merancang proyek yang akan di presentasikan di depan para investor. Ia yakin gadis kecilnya itu pasti sudah terlelap dan ia sudah tidak sabar ingin segera memeluk tubuh mungil itu atau mungkin saja menyentuh di beberapa tempat agar gadis itu terusik.
Papanya juga tadi berada di ruangan ini, namun tak lama kemudian pergi setelah berpamitan ingin menemani sang istri tidur. Ia hanya tersenyum masam begitu papanya berlalu dari ruangan ini. Papanya sama seperti dirinya, terlihat sudah sangat tidak sabar untuk memeluk sang pujaan hati, hanya saja ia memiliki pengendalian diri yang lebih kuat karena orang tua mereka yang masih di rumah dan bisa saja mengawasi. Tapi begitu keduanya pergi, sudah pasti ia tidak akan menahan diri untuk menguasai gadis yang selalu berputar-putar di kepalanya.
Arkan tersenyum cerah begitu pekerjaannya tuntas, ia menutup laptop dan keluar dari ruangan kerja papanya menuju kamar Zanna. Ia dengan cepat menaiki anak tangga dan melangkah lebar menyusuri lorong yang menghubungkannya ke kamar gadis itu. Begitu tangannya menyentuh handle pintu suara langkah kaki dan tawa lembut mamanya terdengar. Ia hendak beranjak kabur ke kamarnya sendiri tetapi sudah terlambat, suara berat papanya memanggil namanya.
Arkan menoleh, mendapati papa dan mamanya kini berdiri di ujung tangga. Papa membawa nampan yang berisi satu botol sampanye dan dua gelas kosong serta beberapa cemilan sementara mama bergelayut di lengan suaminya. Pasangan suami istri itupun menghampiri Arkan. Mamanya berekspresi tenang seperti biasa sementara papanya mengernyit menatapnya.
"Mama sama papa mau ke mana?" sapa Arkan memasukkan tangan ke dalam saku celana menyembunyikan gugupnya.
"Mau ke balkon, bosen ngobrol di kamar terus sesekali sambil liatin langit malam, ya kan mas?" sahut Arabella dengan nada ceria.
Revan masih menatap Arkan penuh selidik. "Mau ngapain kamu?"
"Mau ngecek Zanna udah tidur apa belum, pa" Arkan beralasan.
"Kamu memang tidak sadar, tapi papa sering perhatiin kamu suka keluar masuk kamar adik kamu. Kadang papa liat kamu baru keluar dari sana pas subuh. Ngapain kamu?"
'Sial' batin Arkan mendengarkan penuturan papanya. Jujur saja ia belum menyiapkan jawaban apabila diintrogasi seperti ini. "Nemenin Zanna tidur pa. Nggak tiap malem pa, kadang-kadang doang kalau Zanna minta"
"Ngapain harus nemenin adik kamu? Dia udah besar gak perlu lagi kamu temenin kayak pas dia masih kecil" ujar Revan. Sedangkan Arbella menatap kedua pria itu bergantian dengan raut kebingungan karena tak menyadari ketegangan diantara keduanya.
"Zanna yang minta pa, sekalian bantuin dia ngerjain tugas sekolah. Aku gak tahu kenapa pa, tapi akhir-akhir ini Zanna sering mimpi buruk. Apalagi kalau pas aku di Bandung dan papa sama mama gak di rumah. Dia sering kesepian dan minta aku buat cepet pulang" alibinya. Berharap dari penjelasannya, papanya mau mempertimbangkan agar ia boleh sering-sering di Jakarta agar memiliki waktu lebih banyak dengan adik manisnya itu.
Raut keras Revan perlahan melembut kemudian digantikan dengan tatapan cemasnya.
Merasa bahwa sang papa terjebak akan ucapannya, Arkan pun menambahkan. "Tadi wali kelas Zanna minta aku untuk ke sekolah, pa. Dan dia menjelaskan kalau Zanna beberapa kali masuk uks gara-gara perutnya sakit. Ini mungkin disebabkan karena kita jarang di rumah jadi pola makan Zanna gak teratur, pa" benar kan? Ia sepenuhnya tidak berbohong. Ia hanya mengungkapkan apa yang tadi ucapkan wali kelas Zanna.
"Astaga, pantesan Zanna keliatan kurus banget sekarang. Mama selalu tanya keadaannya tapi dia selalu jawab tidak apa-apa atau nggak cuman pusing sedikit" sahut Arabella khawatir. "Mama mau liat dia sebentar" lanjutnya melepas rengkuhannya di lengan suami.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSANE MAN (Complete)
RomancePria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit. Arkan t...
