50

10K 409 35
                                        

"Nggak!" Zanna menghempaskan cengkraman Arkan di tangannya, karena begitu kuat tarikannya tanpa sengaja ponsel ditangannya terlempar. "Aku mau tetap di sini. Kalau mau pulang, pulang aja sendiri!"

"Jangan coba-coba menguji kesabaran kakak, Zanna. Atau kamu akan tahu akibatnya!" ancam Arkan.

"Apa? Kak Arkan mau paksa aku? Terserah aku tetap gak akan pulang!"

"Kamu tahu kakak gimana, Zan. Kamu mau atau tidak kakak akan tetap bawa kamu pulang" ucap Arkan penuh penekanan menyeret Zanna dengan menarik lengan gadis itu.

Zanna mendorong cengkraman Arkan di lengannya, dan karena tak berhasil ia merangsek maju untuk menggigit bahu pria itu. Dan rupanya itu membuahkan hasil, kini Arkan mengerang dan melepasnya. Segera ia memungut ponselnya, berlari menjauh menuju kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Terdengar dari luar Arkan mengamuk dan menggila namun ia tak peduli

Zanna melihat ponsel yang masih menyala meskipun sedikit tergores bagian case-nya dan telfonannya dengan Cassy masih berlanjut.

"You okay? Gue denger suara Arkan. Kakak lo udah nemuin lo?" tanya Cassy di seberang nadanya suaranya meninggi. "Kok bisa secepat itu anjing? Pake ilmu dukun mana dia sampe bisa dengan cepat nemuin alamat lo yang sekarang?"

"Gue gak tau, Cas. Dan kak Arkan masih mengamuk di luar" ucap Zanna menjauhi pintu dengan mengigit jarinya cemas.

"Gue juga denger suara berisiknya dia. Kakak lo gila ya? Minta om Revan buat bawa dia ke psikolog deh. Syarafnya udah kepelentir itu kayaknya" Cassy berucap tak habis pikir.

"Makanya gue kabur Cas" sahut Zanna dengan nada frustasinya.

"Ck, gue tuh penasaran yang bikin kakak lo segitu obsesinya sama lo apasih? Zan, lo bikin gue khawatir tau gak disini! Gue kasih tahu om Revan ya?"

"Kalau papa gue tahu gimana nasib kak Arkan, Cas?"

"Lo tuh ya! Gak usah mikirin kakak lo! Cowok aneh kayak begitu gak usah lo lindungin! Lo ikutan gak waras juga kayak dia! Stockholm syndrome lo ya?" maki Cassy.

Sementara itu Arkan masih mengedor-ngedor pintu kamarnya seperti kehilangan akal membuat Zanna semaki kebingungan. "Apa gue coba ngomong baik-baik aja sama kak Arkan? Gak bisa gini terus, Cas. Sampai kapan gue sembunyi di sini sementara gue gak ada jalan keluar buat kabur? Mungkin ini emang saatnya gue yakinin kak Arkan buat izinin gue tinggal di sini sampe dia bisa lupain gue"

"Yakin gue seratus persen kakak lo gak bakalan izinin. Lo genjot seharian juga gak bakalan luluh dia. Dia tuh mau lo. Dia mau lo jadi milik dia tunduk sama dia" ujar Cassy.

Belum sempat menjawab perkataan sahabatnya, teriakan Arkan menginterupsi, "Zanna! Jangan sampe kakak buka paksa itu pintu dan kakak bakalan kasih pelajaran ke kamu, atau..." hening sejenak dan detik berikutnya terdengar suara hantaman benda yang sangat keras. Dan benar saja hantaman ke tiga badan pintu sudah rusak dengan adanya sedikit retakan yang membuat pintu itu berlubang. Dan Zanna yakin beberapa kali hantaman lagi pintu itu akan rusak parah.

"Gue ngomong dulu sama kak Arkan" ucap Zanna buru-buru mematikan telfonnya. Ia pun menghela napas panjang lalu berbicara, "iya kak, iya, aku nyerah. Oke aku keluar sekarang!" Ia melangkah mendekati pintu dan membuka kuncinya. Begitu pintu terbuka ia terperanjat melihat Arkan yang menghunus tajam padanya dengan Fire extinguisher di tangannya yang sedikit penyok.

"Kak kamu gila? Astaga! Kamu ngapain sih kak?" hardik Zanna.

"Kemasi barangmu kita pulang. Sekarang!" titah Arkan.

"Kita perlu ngobrol kak" sahut Zanna. "Aku mau kak Arkan tenang dulu. Aku gak mau berantem sama kamu kak. Aku mau kita damai. Dan aku-"

"Kamu pulang kita damai. Masalah selesai" potong Arkan.

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang