36

16.2K 376 13
                                        

Malam kian larut, ruangan pesta mulai sepi karena kebanyakan pengunjung sudah pulang ataupun sekedar menginap di hotel. Zanna pun sejujurnya sudah mulai kelelahan dan mengantuk. Ia ingin pulang tetapi Arkan belum kunjung datang. Sampai kapan kakaknya akan terus berbicara dengan Braga? Karena merasa sudah tidak sabar ia mau tak mau ia kembali ke area kolam guna meminta Arkan untuk mengantarnya pulang akan tetapi begitu sampai di sana ia tak melihat seorangpun duduk di tepi kolam seperti yang terakhir kali ia lihat. Matanya memindai sekitar mencari keberadaan Arkan.

Ia kembali masuk ke dalam melewati lorong berharap segera menemukan kakaknya.

"Mau kemana adek cantik?" bisik suara yang terdengar familiar.

"Astaga" ekspresi kaget Zanna membuat senyum Arkan merekah lebar. Tangannya merangkul pinggang Zanna sama sekali tidak memperdulikan wajah gadis itu yang masih kaget. Ia menarik Zanna mengikuti langkahnya cepat.

"Kaget ya?" tanya Arkan jenaka.

"Kak Arkan kemana sih?" kesal Zanna.

"Ada urusan sebentar tadi" jawab Arkan sekenanya.

"Urusan apa?" tanya Zanna penasaran.

"Ketemu klien papa" ucap Arkan.

Zanna tahu Arkan berbohong, ia melihat dan menguping pembicaraan Arkan dengan Braga. Ia pun heran kenapa kakaknya malah diam saja seolah ia bisa mengatasi semuanya bukannya berbicara lebih dahulu padanya, seolah pria itu tahu yang terbaik untuknya.

Baiklah, kalau Arkan tahu yang terbaik untuknya tapi bukan berarti kakaknya itu harus mengancam laki-laki manapun yang naksir padanya. Bukan berarti dia juga menyukai Braga, baginya Braga adalah sosok familiar layaknya Cassy. Cassy menyayangi Braga begitupun ia menyayangi Braga sebagai teman.

"Terus kita mau kemana?" Zanna kembali melontarkan pertanyaan karena Arkan terus menyeretnya mengikuti pria itu. Sekali lagi ia diingatkan akan kekuatan fisik Arkan yang jauh lebih besar darinya. Hanya dengan sebelah tangan saja Arkan mampu membuatnya tak berkutik dan terpaksa mengikuti langkah pria itu. "Aku mau pulang"

"Pulang? ulang Arkan menaikkan sebelah alisnya. "Kakak udah booking kamar buat kita berdua dan kakak udah ngabarin papa jadi jangan alesan" ucap Arkan ketika melihat Zanna hendak memotong.

Mereka menaiki lift dan berjalan melewati lorong hingga kini berdiri di depan pintu kamar mereka. Arkan menempelkan kartu dan pintu terbuka. Arkan mempersilahkan Zanna masuk terlebih dahulu lalu ia menyusul di belakang gadis itu. 

"Ganti baju dulu" titah Arkan dagunya menunjuk paperbag di sofa sementara ia dengan tenang melepaskan jas dan dasi yang terasa mencekik. Sebelum menemui Zanna ia sudah lebih dulu memesan kamar dan bahkan sempat membeli pakaian ganti untuk gadis itu.

Zanna tak bersuara tetapi ia melangkah mengambil paperbag tersebut dan berlajalan ke kamar mandi. Kalau boleh jujur ia juga merasa tidak nyaman dengan dress ketatnya ini dan pasti sangat tidak nyaman dipakai untuk tidur.

Sembari menunggu Zanna, Arkan menanggalkan kemejanya dan melemparnya ke sofa kemudian membuka botol whiskey yang ada di atas meja karena sebelumnya ia memesan minuman tersebut kepada pihak hotel. Ia menuangkan minuman itu ke gelas dan meminumnya perlahan. Matanya dari tadi fokus memandangi ponsel Zanna yang terletak di atas meja di sebelah slingbag gadis itu.

Tak lama terdengar bunyi pintu yang dibuka ketika menoleh Arkan melihat Zanna sudah berganti pakaian. Gadis itu mengenakan kaos polos putih oversize dan celana pendek menyempil sedikit karena tertutupi oleh panjangnya kaos.

Arkan mendekat lalu mengelus pipi gadis itu. "Masih lapar? Mau kakak pesenin makanan?" tanyanya.

Zanna menggeleng,"nggak, langsung tidur aja"

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang