"Kak, tenangkan dirimu" Zanna mengelus punggung Arkan yang bergetar. Basah di bahunya menandakan bahwa pria itu kini sedang menangis. "Aku tahu kakak benci sama aku, aku minta maaf kak"
Arkan menjauhkan kepalanya yang awalnya bersandar pada gadis itu. "Kakak nggak bisa benci sama kamu, Zan. Setelah semua ini pun kakak nggak bisa benci sama kamu" ia menatap dalam-dalam gadisnya. Seandainya gadis itu merampok semua yang ia miliki, bahkan membunuhnya, sepertinya ia tidak akan mampu membenci Zanna sekeras apapun ia mencoba. Perasaannya yang dalam memang mengalahkan logikanya. Ia tak masalah karena sedari awal ia sudah menyerah pada kuasa gadis itu akan dirinya. Membiarkan dirinya dikendalikan meskipun gadis itu tanpa sadar betapa besar kontribusinya akan kewarasan Arkan.
"Kakak tahu kamu tidak menginginkan semua ini" lanjut Arkan. Dan air mata Zanna yang sudah mengering kembali basah lagi. "Kamu menanggungnya tanpa tahu bahwa kakak yang menipumu soal kontrasepsi itu"
"Kenapa kak Arkan bisa melakukan itu? Andaikan aku tidak hamil ini tidak akan pernah terjadi" tanya Zanna.
"Haruskah aku menjawabnya? Haruskah aku mengulang semuanya?" Arkan menangkup pipi Zanna menyelami mata indah yang basah oleh air mata.
Tanpa dijawab pun Zanna tahu alasannya. Arkan memang pria yang keras kepala dan nekad. Ia pun sebenarnya sama, sebesar apapun amarah dan dendamnya pada pria itu, hal itu tak sebanding dengan rasa sayangnya yang jauh lebih besar. Ia menyayangi pria itu sama seperti sebelumnya terlapas dari segala kegilaan yang telah dilalui bersama pria itu. Katakan bahwa tidak waras, rasa sayangnya pada Arkan, rasa hormatnya pada pria itu karena pernah menjadi sosok kakak yang membimbing dan melindunginya, dan segala hal baik tentang Arkan terus melintas dan kenangan menyenangkan yang pernah mereka lalui membuat kebenciannya tak cukup kuat untuk menghapusnya.
"Kakak mau kamu, Zan" ujar Arkan menyatukan dahi mereka.
"Tapi aku sudah membunuh anak kamu-"
"Kakak tetap mau kamu, sayang" potong Arkan sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
"Kakak nggak pernah cinta sama aku. Itu hanya obsesi kamu" ucap Zanna. "Aku mau kakak menelaah perasaan kakak sebelum mengatakan ini" sebab ia tidak mau sakit hati lagi. Selama ini Arkan selalu mengatakan menyayanginya, mencintainya, tapi yang pria itu tunjukkan sangat berbeda. Perlakuan Arkan membuat ia merasa tak memiliki tempat spesial di hati pria itu. Merasa dirinya hanya sebatas pelampiasan nafsu, merasa dirinya tak seberharga dan tak sepenting itu untuk sekedar pria itu perhatikan keadaanya. Ia hanya merasa dirinya sebagai mangsa lemah yang mudah untuk ditaklukkan, tak mampu mengelak, tak mampu melawan, dan diam saja tanpa tahu caranya lepas.
"Kamu bagian dari hidup kakak, Zan. Tanpa kamu kakak nggak tahu musti gimana. Kakak bisa beri segalanya buat kamu. Ngalakuin apapun kalau itu berkaitan soal kamu. Kakak sayang kamu. Apa kamu tidak bisa melihatnya?" Arkan diam-diam menyesal atas perbuatannya selama ini. Kalau ditarik lagi dari awal memang caranya menunjukkan perasaannya telah salah. Perlakuan pada gadis itu begitu keliru. Ia ingin memperbaiki, tapi apakah masih ada kesempatan?
"Dengan memaksaku? Itu yang kakak sebut sayang?" Zanna menyanggah.
"Maafin aku sayang. Aku salah, selama ini aku salah. Aku tidak tahu caranya. Aku menyakitimu. Aku sadar sekarang sayang" Arkan meraih kedua telapak tangan Zanna dan menempelkannya di pipinya yang lebam. "Aku membuatmu menderita, membuatmu merasa terpenjara akan obsesiku yang aku saja tak bisa membendungnya, membuatmu melakukan tindakan impulsif membunuh bayi kita, aku salah, aku yang salah. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi sayang. Aku bisa gila kalau kamu juga pergi dariku" Arkan menangis dan memohon pada gadisnya yang juga tersedu-sedu.
"Sumpah aku menyayangimu. Terlepas dari segala perbuatan bodohku, aku sangat mencintaimu" Arkan mencium punggung tangan gadisnya begitu lama, menyalurkan rasa kekalutan akan ketakutan ditinggalkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSANE MAN (Complete)
RomancePria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit. Arkan t...
