41

12.1K 273 10
                                        

"Congratulation, Zan!" pria muda datang mengejutkan Zanna yang sedang berbincang dengan teman sekolahnya dengan memeluk dan memutar-mutar tubuhnya di dalam dekapan pria itu hingga kakinya melayang. Pria itupun menurunkan Zanna sembari tersenyum lebar.

"Astaga Gama! Bikin kaget!" gerutu Zanna dengan pipi bersemu merah karena diperhatikan oleh semua orang akan tindakan kekanak-kanakan Gama.

"Ini nih yang udah lulus?" timpal Gama jenaka.

Selama dua bulan ini dia dan Gama sudah menjalin hubungan pertemanan yang cukup akrab semenjak keduanya memutuskan untuk bertemu lagi di sebuah cafe dekat sekolah dua bulan lalu. Sejak itu mereka semakin intens berkabar lewat telfon dan kerab beberapa kali hang out bareng, kadang berdua dan kadang bertiga bersama Cassy. Dan tentu ia harus berbohong pada Arkan soal pertemanannya ini dengan seorang laki-laki. Karena meskipun ia mengaku hanya sebatas teman, Arkan seolah memiliki pemikirannya sendiri dan menganggap semua laki-laki yang berkeliaran di sekitarnya adalah tidak baik. Kakaknya selalu berkata, 'tidak ada laki-laki yang mendekatimu hanya untuk menjadi sebatas teman, Zan. Mereka punya tujuan. Dan kakak gak suka memikirkan ada laki-laki yang punya niat mengambil kamu'

Zanna melirik ke arah Arkan yang tadinya berbincang dengan wali kelasnya kini sedang terang-terangan menatap tajam ke arahnya. Seketika Zanna memalingkan wajah menutupi rasa gugup yang tiba-tiba mendera.

"Ngapain ke sini? Perasaan aku gak pernah ngasih tahu kalau hari ini hari kelulusan?" tanya Zanna.

"Aku yang ngasih tahu!" ucap Cassy semangat, muncul dari belakang. "Yew, parah, masa Gama gak dikasih tahu sih Zan?" ia mencibik kesal, detik berikutnya ia menaik-turunkan alis menggoda Zanna. "lagi deket padahal" lanjutnya terkikik geli.

"Cassy!" Zanna memperingati. Sekali lagi ia melirik ke arah Arkan yang berpamitan dengan wali kelas mereka dan kini menghampiri mereka. "Jangan keras-keras ih nanti kedengeran kak Arkan. Tahu sendiri kan kakak gue gimana?" bisik Zanna.

"Sorry, sorry, lupa gue. Kakak lo kan mor'du" bisik Cassy merasa bersalah.

"Acaranya udah selesai kan? Kita pulang sekarang" ucap Arkan merengkuh pinggang Zanna dan tak segan-segan mencium pipi Zanna di depan Cassy dan Gama.

"Kak, kita sekelas mau foto-foto dulu" sahut Cassy. "Fotografernya udah nungguin dari tadi, ya kan Gam" ia menyikut lengan Gama jahil. "Gratis kan? Gratis dong udah gue bantuin deketin temen gue" lanjutnya lalu kemudian meringis karena lagi-lagi keceplosan.

Mata tajam Arkan beralih menatap Gama yang tersenyum ramah padanya. Alih-alih membalas senyuman itu, ia malah mendengkus seolah malas berurusan dengan laki-laki tampang tak seberapa yang mencoba mendekati adiknya.

Selama ini ia berpura-pura tidak tahu dan berpura-pura tenang ketika mengetahui bahwa Zanna berusaha menjalin pertemanan dengan laki-laki dihadapannya ini. Setiap ia memantau DM-an laki-laki itu pada adiknya, selalu mampu membuat darahnya mendidih dan perasaan gelisah itu membuat hari-harinya tidak tenang. Tapi ia tahu bahwa saat ini kuncinya adalah bersabar dan memperhatikan, sejauh mana Zanna akan berbuat. Dan kalau dia gegabah melabrak Zanna maka gadis itu akan murka karena ia telah mencuri privasi dengan memata-matainya. Dan siapa tahu bahwa Zanna semakin nekat mencari cara lain untuk bertemu dengan laki-laki sialan itu diam-diam dibelakangnya.

Arkan tahu bahwa saat ia pergi ke Bandung untuk urusan kerja, Zanna membuat janji temu dengan laki-laki itu di sebuah cafe yang ia tahu dekat dengan sekolah Zanna. Dan sejak kepulangannya itupun ia langsung menetapkan aturan yang lebih mencekik Zanna seperti tidak boleh keluar rumah tanpa dirinya kalaupun keluar harus dengan keadaan yang mendesak serta tak lupa melapor dan mengirim foto dimana pun ia berada, mendesak gadis itu untuk terus-menerus berada di ruang kerja papanya dengan alasan ia harus belajar untuk memperbaiki nilai-nilai yang sebelumnya turun, dan bahkan menyita ponsel Zanna pada jam sembilan malam,  'Karena Zanna sudah masuk tahun akhir SMA' begitulah ucapnya kala Zanna protes sikap kerasnya pada gadis itu. Padahal sesungguhnya bukan itulah tujuan utamanya ketika menetapkan semua aturan ketat untuk adik manisnya.

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang