56

9.7K 357 62
                                        

Zanna baru pertama kali menemui terapis yang direkomendasikan Arkan. Terapis yang pernah menangani kakaknya. Berkat hal itu, Zanna mendapatkan keberanian untuk melangkahkan kaki menuju proses penyembuhannya.

Setelah selesai sesi terapinya, Zanna keluar dari kamar terapis, ia mendapati Arkan masih disana menunggunya. Duduk di salah satu sofa ruang tunggu.

Kala melihat Zanna yang baru keluar, Arkan berdiri,  "udah selesai?"

"Udah, kak. Kenapa kak Arkan masih nunggu disini? Harusnya kamu pulang saja. Kalau ada yang lihat terus ngelaporin ke papa gimana?" satu hal yang harus diketahui bahwa Revan masih memiliki dendam dan kebencian pada Arkan meskipun mereka berdua sudah berdamai dan ingin memperbaiki semuanya. Tentu untuk bertemu mereka harus sembunyi-sembunyi. Beberapa kali Zanna menyadari kalau ada orang suruhan papanya yang mengikutinya dan dia berhasil mengakali hingga sampai saat ini belum ketahuan. Hari ini mereka beruntung bagaimana kalau nanti? Hal ini memang cukup merepotkan mereka berdua.

Tak menjawab,  Arkan membantu Zanna mengenakan jaket hitam, topi, masker dan ranselnya. Mengode dengan kepalanya agar mereka berdua segera menuju parkiran.

Mereka masuk ke dalam mobil. Lalu Arkan membawanya menuju sebuah restoran.

"Kenapa malah mampir?" Zanna bertanya setelah keluar dari mobil dan mengikuti Arkan.

"Sebentar saja, sayang" jawab Arkan mendorong pelan punggung Zanna menuju ruang VIP. Ketika pelayan datang Arkan menunggu gadis itu menyebutkan pesanannya.

Setelah hanya mereka berdua. Arkan pun membuka suara. "Gimana sesinya tadi?"

"Hmm...lumayan. tapi..."

"Tapi?"

"Seperti aku kurang cocok sama terapisnya"

Arkan tersenyum. "Mau ganti terapis?"

"Emang boleh gitu?" Zanna bertanya.

"Boleh, kamu pikir berapa lama kakak gonta-ganti terapis sampai nemu yang cocok?" jelas Arkan. "Kita akan cari terapis yang lain yang cocok sama kamu"

Keingin Arkan yang tulus, membuat rasa hangat melingkupi hati Zanna.

"Satu kali sesi terapi saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah kesehatan mental. Proses pemulihan membutuhkan waktu, kesabaran, dan usaha yang konsisten. Kesehatan mental tidak bisa dipulihkan dengan instan, melainkan perlu terapi yang berkelanjutan, dukungan yang tepat, dan perubahan pola pikir atau kebiasaan secara bertahap. Jadi, kamu tidak perlu terburu-buru, sayang. Kakak akan menemani dan mendukungmu" lanjut Arkan.

"Kenapa kak Arkan tiba-tiba nyaranin aku ke psikiater?" tanya Zanna lagi.

Arkan menghentikan gerakan tangannya yang memainkan alat makan, lalu menatap lurus Zanna. "Karena kakak sadar kalau mental health itu penting. Pasti kamu bertanya-tanya soal kakak. Kenapa kakak melakukan itu.
Memanipulasimu. Menjotosi orang disekitar kamu seolah kakak nggak bisa manage kemarahan." Arkan menyentuh pipi Zanna dan mencubitnya pelan, "terus masalah kamu juga sampai minum obat antidepresan. Hal itu yang menjadi alasan kakak pergi ke psikiater dan memintamu juga untuk melakukan terapi. Kakak mau kita berdua baik-baik saja. Siapa tahu kalau kakak paham dan belajar kakak bisa menjadi orang yang kamu percayai untuk bersandar bukannya malah nambahin masalah"

Mata Zanna terbelalak mendengarnya. Ditengah-tengah permasalahan yang mereka hadapi, ia bersyukur bahwa Arkan mau belajar memperbaiki semuanya. Meskipun Arkan terlihat diam saja, ternyata pria itu memikirkan situasi mereka yang membuatnya diam-diam terharu.

"Sayang, jangan berhenti ya terapinya?" Arkan menyentuh tangan Zanna yang berada di atas meja.

Salah tingkah, Zanna lalu mengangguk.

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang