42

13.6K 303 20
                                        

Hal pertama yang ingin Arkan lakukan setelah lelah dengan urusan pekerjaan seharian ini bahkan dilanjutkan lagi sampai malam, memasang topeng kepura-puraan dihadapan para investor dan rekan kerja papanya, serta menjanjikan keuntungan dari proyek yang dijalankan adalah memeluk tubuh mungil yang selalu terasa pas di dekapannya dan membenamkan wajahnya di leher gadis itu menghirup aroma tubuh yang selalu berhasil merilekskan syaraf-syarafnya. Akan tetapi, begitu ia masuk ke dalam kamar gadis itu tak ada seorangpun di sana. Tempat tidur masih terlihat rapi seolah tak pernah di sentuh, meja rias yang berantakan oleh produk-produk kosmetik yang biasa Zanna pakai.

"Zan" panggil Arkan tak ada sahutan. Ia sama sekali tak merasakan kehadiran gadis itu di dalam kamar tersebut. Bergegas ia menuju lantai satu dimana ia terakhir kali melihat mamanya sebelum ia melangkah cepat ke kamar Zanna.

"Ma, Zanna kemana?" tanya Arkan begitu menemui mamanya yang kini membaca buku di ruang tamu.

Wanita itupun menurunkan buku di tangannya lalu mendongak pada putranya yang menatapnya sedang menuntut jawaban. "Keluar" jawab Arabella lalu melanjutkan kegiatan membacanya.

"Kemana?" tanya Arkan lagi karena tidak puas dengan jawaban mamanya.

"Acara kelulusan, prom night" ucap Arabella tetap membaca buku di tangannya.

Arkan mendengkus lalu tanpa basa-basi langsung melangkah keluar.

Mendengar dengkusan anaknya Arabella menyahut, "mama yang izinin dia pergi, tidak perlu sekhawatir itu Arkan"

Arkan menghentikan langkah lalu berbalik menatap mamanya yang kini menoleh padanya. "Gimana nggak khawatir, ma. Ini sudah malam sementara dia masih berkeliaran di luar sana"

"Adik kamu cuman ke acara kelulusan. Biarkan dia menikmati acara itu sama temen-temennya. Lagipula masih jam sepuluh tidak perlu berlebihan. Mama liat-liat kamu memang terlalu keras sama adik kamu, Arkan" sahut Arabella. Ia meletakkan buku di atas meja sudah tidak memiliki minat membaca buku itu.

"Bukan berlebihan, ma. Tapi jam segini anak perempuan sepertinya harus di rumah tidak usah berkeliaran. Mama tidak tahu bagaimana acara itu, banyak orang-orang yang datang bahkan sampai ada yang minum-minum. Aku tidak akan membiarkan Zanna ke tempat seperti itu tanpa ada orang dewasa yang menemani. Dia boleh pergi asal ada aku, mama, atau papa disisinya" tegas Arkan.

Arabella terdiam, dia bukan orang tua kolot yang tidak tahu pesta seperti apa yang dihadiri oleh putrinya. Ia juga pernah muda dan beberapa kali menikmati acara seperti itu. Namun, ia memiliki alasan mengapa ia mengizinkan Zanna pergi. Putrinya yang malang selalu dibiarkan sendiri di rumah, ia cukup tau bahwa ia bukanlah ibu yang baik. Dia sendiri tahu bahwa ia sering absen di setiap tumbuh kembang putrinya hingga kini menjadi gadis remaja. Sering ia dapati putrinya akhir-akhir ini sering melamun, pendiam, dan merenung. Ia tahu penyebabnya, karena Arkan mengekang gadis itu dengan berbagai aturan yang tidak masuk akal. Jadi, apa salahnya ia membantu Zanna untuk malam ini agar bisa menikmati pesta dengaan teman-teman sebayanya?

"Mama tidak tahu seperti apa Zanna. Mama tidak punya waktu untuk mengenali putri anda sendiri, ma. Di usianya yang sekarang aku justru harus menemaninya, mungkin di mata mama tindakanku berlebihan tapi aku punya alasan yang jelas, pergaulan anak-anak sekarang begitu menakutkan aku tidak ingin Zanna kenapa-kenapa" lanjut Arkan. Tanpa rasa malu dan rasa bersalah telah membuat mata mamanya meredup digerogoti oleh rasa bersalah, ia melenggang pergi meninggalkan ruang tamu dengan langkah lebar dan tergesa.

 Tanpa rasa malu dan rasa bersalah telah membuat mata mamanya meredup digerogoti oleh rasa bersalah, ia melenggang pergi meninggalkan ruang tamu dengan langkah lebar dan tergesa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang