48

8.2K 367 71
                                        

"Jadi bagaimana? Apakah saya terkena penyakit serius?" Zanna bertanya dengan bahasa inggris yang fasih sembari perlahan duduk dari tempat tidur pemeriksaan di klinik rumah sakit. Dan dia masih menunggu hasil tes darah. Zanna memang meminta sang dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh akibat ia yang tiba-tiba paranoid. Sang dokter mengambil sampel darah dan urinenya lalu dokter juga melakukan USG. Yang terakhir ia tidak meminta dokternya saja yang inisiatif. Tidak boleh menyepelekan penyakit, lebih baik ia memeriksa sekarang daripada nanti ia menyesal dikemudian hari begitu pikirnya.

"Anda tidak sakit, hanya saja anda sekarang hamil dan hal itu wajar bagi seorang wanita yang mengalami trimester pertama. Dan beruntung gejala yang anda alami tidak terlalu berat menandakan bahwa bayi anda sehat nona"

"Hamil?" Zanna bertanya memastikan ia tidak salah dengar. Bagaimana bisa? Apakah kontrasepsi yang ia gunakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya? Padahal ia sudah mendengar seksama penjelasan dokter saat di rumah sakit tiga bulan lalu bahwa kontrasepsi yang ia pakai tingka keberhasilannya mencapai lebih dari 99% jika digunakan sesuai jadwal. Artinya, kemungkinan hamil hanya sekitar 1%. Dan ia merasa ia belum melewatkan jadwal suntikannya. Apakah ia termasuk bagian dari 1% itu?

"Benar nona" ucap sang dokter memvalidasi.

"Bagaimana bisa? Saya sudah melakukan kontrasepsi suntik tiga bulan lalu di Indonesia. Apakah anda tidak salah mendiagnosis?" Zanna menyuarakan kebingungan dalam hatinya.

"Tes dengan menggunakan sampel darah anda dijamin akurat nona. Saya bisa memastikan bahwa anda benar-benar hamil" jawab sang dokter tegas membuat Zanna semakin linglung. Dan ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia tidak mengharapkan dirinya hamil bahkan ia amat sangat tegas menolak kehamilan yang pada akhirnya ia memilih melakukan suntik kontrasepsi tiga bulan lalu. Ia tetap tidak bisa mempercayainya. Dan apa yang harus ia katakan begitu orang tuanya mengetahui ini?

"Saya akan menjadwalkan pemeriksaan rutin kesehatan bayi anda dan saya juga akan memberikan beberapa vitamin supaya tubuh anda tidak terlalu lemah apabila anda mengalami morning sickness" sahut sang dokter lagi.

Zanna hanya menggangguk dengan pandangan kosong, berterima kasih dengan suara yang lemah, lalu pamit pergi dan melangkah keluar dengan lunglai.

Ia belum mampu mencerna situasi yang dialaminya kini. Apakah benar ia hamil? Kalau tidak, kenapa dokter tadi mengatakan ia hamil? Bagaimana bisa?

 Apakah benar ia hamil? Kalau tidak, kenapa dokter tadi mengatakan ia hamil? Bagaimana bisa?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Zanna duduk di sofa yang menghadap jendela apartemennya. Pemandangan malam kota yang indah tak mampu menghapus perasaannya yang kini kalut. Beberapa kali ia mengelus perutnya yang masih rata berusaha merasakan apakah ada tanda-tanda akan perubahan fisiknya. Sekarang masih belum kelihatan. Bagaimana dengan tiga bulan kedepan? Apakah ia mampu menutupinya? Dan untuk jujur pada orang tuanya saja ia tidak sanggup. Ia tak ingin mengecewakan mereka dan sekarang hal tanpa diduga ini tentu akan membuat mamanya pingsan.

Apa ia diam-diam saja tanpa memberitahu siapapun? Ia sekarang sendiri di negara orang dan mereka tidak akan tahu perihal kehamilannya selama ia menutupi ini dari mereka. Tapi bagaimana nanti ia menjelaskan tentang seorang anak yang hidup bersamanya? Apakah orang-orang akan percaya kalau ia beralasan mengadopsi seorang anak? Ataukah ia mengugurkannya saja? Tapi hatinya merasa tak tega dan tak mampu berbuat sekeji itu. Astaga! Ia betul-betul kebingungan dengan situasi yang rumit ini!

Meskipun ia berpikir keras tetap saja tak menemukan solusi yang tepat akan masalahnya. Ia pun menelepon Cassy meminta bantuan. Beberapa kali tak diangkat, namun pada panggilan yang kelima barulah Cassy menerimanya. Terdengar suara grasak-grusuk dan erangan sahabatnya.

"Lo gila nelfon gua jam segini? Ada masalah apa?" Cassy menyahut dengan nada malas khas orang bangun tidur.

Zanna melirik jam di dinding sudah pukul 19.32 yang berarti di Indonesia sudah sekitar jam 1 pagi lebih. Pantas saja sahabatnya kini mengeluh karena perbedaan waktu yang jomblang. Karena begitu didera kekhawatiran yang berlebihan Zanna sampai lupa akan kenyataan itu.

"Lo bener. Gua hamil" Zanna membuka suara.

"What!" terdengar nada syok Cassy. "Seriusan?"

Zanna mendecak kesal. "Serius! Gua aja gak percaya. Padahal udah pakai kontrasepsi tapi kenapa bisa?"

"Lo lagi apes kali!" sahut Cassy sekenanya. Suaranya terdengar jernih yang berarti sahabatnya kini sudah sadar total.

"Kenapa gua sial gini ya?" Zanna mengangguk menyetujui.

"Terus mau lo apakan bayi lo?"

"Belum tahu, yang pasti gue gak bisa gugurin. Gak tega gue"

"Gimana lo ngomong sama Bokap lo, Zan?"

"Gua juga bingung, Cas"

"Mending lo jujur aja sama orang tua lo kalau yang hamilin lo kak Arkan" Cassy menyahut dengan ragu. "Yang pasti ini bukan murni kesalahan lo. Bukan lo yang minta diperkosa kakak lo"

"Gua gak berani ngomong ini sama papa" Zanna tentunduk lesu.

"Terus lo mau gimana? Tu perut nanti bakalan gede kalau orang tua lo liat lo mau jawab apa?"

"Gua malah berencana nutupin ini dari orang tua gua"

"Terus pas tu anak brojol, mereka liat dan nanyain itu anak, lo mau bilang apa? Tu anak lo nemuin di dalem timun gede warna emas? Timun emas anak lo?"

"Cas!" Zanna membentak kesal. Dalam situasi begini Cassy malah sempat bercanda padahal ia sedang kelimpungan.

"Ya kita harus gimana? Saran dari gua sih mending lo jujur"

"Nanti gua ngomongnya gimana? Harus mulai darimana? Gua takut"

"Gua bisa bantu lo ceritain ini semua ke orang tua lo. Lo hanya perlu jawab kalau ada sesuatu yang papa lo nanyain dan gua gak tahu. Ibarat nih gua jadi kuasa hukum lo" Cassy cengengesan.

"Gua serius!" kesal Zanna.

"Gua juga serius!"

Disaat mereka masih berbicara tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Zanna mengingat-ingat apakah ia tadi memesan makanan atau layanan jasa lain. Tapi ia rasa tidak ada. Jadi siapa orang yang bertamu ke apartemennya ini?

"Bentar gua ke depan dulu ngecek siapa yang datang" Zanna bangkit dari duduknya tanpa mematikan telpon.

"Hati-hati jangan sampe lo di apa-apain sama om-om Eropa mesum.  Amit-amit kalau itu psikopat kayak di film"

"Cas, jangan nakut-nakutin lo tu-" ucapan Zanna terhenti begitu mengetahui siapa tamunya.

Kakaknya... Arkan...ada di hadapannya menatapnya balik dengan keterkejutan yang terlihat jelas dan juga sedikit kemarahan.

Tubuhnya membeku, dan perlahan-lahan menurunkan ponsel dari telinganya. Ia pasti hanya bermimpi bukan?

Tapi semua ternyata nyata dan Zanna yakin ia tidak sedang bermimpi.

Bagaimana bisa kakaknya kemari dan menemukan alamatnya?

Melihat Arkan hanya membuat kenang-kenangan buruk kembali terasa di tubuhnya. Menjalar bagaiman ribuan jarum yang menusuk-nusuk jiwa dan hatinya.

"Siapa yang datang?" samar-samar Zanna masih mendengar suara Cassy yang cemas.

"Mau kabur kemana lagi sayang?" desis Arkan begitu mengintimidasi.

"Mau kabur kemana lagi sayang?" desis Arkan begitu mengintimidasi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

To be continue

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang