33

20.5K 412 21
                                        

"kak"

"Ya?"

"Aku ngantuk"

Gerakan Arkan terhenti, wajahnya ia tenggelamkan di ceruk leher Zanna salah satu tangannya merengkuh tubuh gadis itu agar menempel erat padanya dan satu tangannya lagi masih terbenam di balik celana gadis itu. "Nanti ya tidurnya, udah dari kemarin-kemarin pengen ini. Puasin kakak dulu ya?"

Tubuh Zanna menggeliat dan betapa bahagianya Arkan mendapati adik kecilnya itu juga menginginkannya. Setidaknya, walaupun gadis itu menyangkal perasaannya dan menganggapnya hanya sebagai sosok kakak, gairahnya yang selalu menggebu-gebu dapat diterima dengan baik. "Zanna juga lagi kepengen kan sayang?" tanya Arkan lembut.

Arkan mencolek milik Zanna yang basah dan dapat ia lihat leher dan telinga gadis itu memerah seolah mengakui hasratnya adalah hal yang paling memalukan di dunia. Tak lama Arkan merasakan bahwa gadis itu perlahan mengangguk. Ia tersenyum lebar lalu memberi kecupan di leher jenjang itu.

"Kakak enakin kamu dulu, Zanna juga enakin kakak. Abis itu kita tidur?" tanya Arkan menawarkan.

Lagi-lagi Zanna menggeliat di pelukan Arkan namun ia tak mau melepaskan gadis itu. "Semenjak masuk kamar kamu kakak udah kepikiran ini banget" ujar Arkan lalu melakukan hal yang sedari tadi ia ingin lakukan kala melihat tubuh cantik itu tertidur pulas, mencium bibirnya.

Arkan mengeluarkan tangannya dari dalam celana Zanna lalu bangkit menindih gadis itu. Lagi, ia mencium bibir ranum itu, mencicipinya sedikit. "Habisnya kalau minta kamu puasin kakak lewat vidio call kurang seru, Zanna kayak ketakutan gitu. Makanya kakak mau ngelakuin langsung, di sini, sekarang"

Kedua tangan Zanna terkepal hendak mendorong Arkan, tetapi pria itu lebih dulu menahan pergelangan tangan gadis itu menangkapnya dengan mudah lalu menguncinya di samping tubuh mereka yang saling melekat erat.

Arkan yakin Zanna pasti merasakan kejantanannya yang mengeras. Sejujurnya ketika tahu gadis itu akan kembali ke Jakarta, Arkan bergegas pulang membawa semua pekerjaannya yang menumpuk untuk ia selesaikan di rumah saja. Begitu nelihat Zanna yang terbaring lemah dan begitu rapuh, ereksinya langsung muncul namun tak tega menganggu tidur gadis yang terlihat kelelahan itu. Dan setelah mendapati Zanna kini sudah terbangun, itu merupakan kesempatan emas baginya. Di tempat yang sama, di rumah hanya meraka berdua, dan suasana kamar yang remang, tidak ada pilihan lain untuk juniornya selain ingin terbenam di kelembutan basah dan hangat dari perempuan yang ia gilai itu.

Arkan bangkit turun dari ranjang, tak sabar melepas kancing celana dan menurunkan resletingnya hingga celana kain itu lolos dari kakinya. Dengan bertelanjang ia naik ke tempat tidur lalu duduk dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang Zanna.

Zanna juga bangkit duduk dan hanya menatap Arkan dengan raut kebingungan.

Melihat tatapan gadis itu, Arkan tersenyum penuh arti dan dagunya naik seolah menunjuk kejantanannya yang mengacung tegak. "Sini sayang" jari Arkan mengail meminta Zanna mendekat.

Gadis itu menurut dan perlahan mendekatinya. Begitu Zanna menghampirinya, ia tanpa sadar menangkup pipi gadis itu, ibu jarinya mengelus bibir bawah yang terlihat ranum itu lalu memasukkan jarinya ke dalam mulut mungil yang selalu berhasil membuatnya kecanduan untuk melumatnya. Seketika darahnya berdesir, sudah lama Zanna tak mengoralnya. Kalau ia tak meminta, sampai matipun sepertinya Zanna tak akan pernah inisiatif.

"Jilat sayang" titah Arkan menatap dalam bola mata hitam keabuan itu. Bola mata cantik itu melebar lantaran terkejut membuat ia sekuat tenaga menahan tawa gelinya dan tak lama gadis itu mengangguk lalu menunduk melahap miliknya yang ujungnya basah oleh cairannya sendiri karena tak kuasa menahan hasratnya yang begitu luar biasa akan gadis itu.

"Oh yeeaah, that's it baby" gumam Arkan memejamkan mata ketika mulut mungil itu ternyata sanggup menelannya hingga ke pangkalnya. Zanna menarik kepala naik lalu diturunkan lagi mencicipi seluruh pusat yang membuat laki-laki itu kehilangan akal.

Arkan membuka matanya menatap pemandangan indah dimana Zanna menjilat miliknya begitu lahap. Sesekali gadis itu tersedak tetapi perempuan cantik itu tak menyerah membuatnya melebur. Ia menarik sejumput rambut gadis itu menikmati lembutnya lidah Zanna menyapu miliknya apalagi ketika gadis manisnya itu menyedot dan menjilati ujung penisnya seketika seluruh tubuhnya merinding. Dan begitu mendekati klimaks Arkan menahan kepala Zanna.

"Kakak gak pengen keluar sekarang sayang sebelum menikmati menu utama" ucap Arkan mengelus sudut bibir Zanna yang basah oleh air liur.

"Sekarang lepas semua baju kamu" bisik Arkan mengecup pelipis Zanna.

Zanna turun dari ranjang melepas seluruh kain yang melekat di tubuhnya di dalam pengawasan Arkan. Ketika gadis itu kebingungan harus berebut apa, Arkan mengggenggam tangan Zanna. "Kita coba hal baru" ujar Arkan.

"Hal baru?" ulang Zanna tak paham.

"Kamu yang di atas sayang, hmm?" tawar Arkan.

Zanna gelagapan, jujur ia belum pernah menganisiasi percintaan mereka. Selalu Arkan yang bersikap dominan dab menguasai ritme percintaan mereka. Tapi ia tak menolak, Zanna merangkak mendekat lalu naik ke atas paha Arkan.

"Masukin punya kakak sayang" ucap Arkan.

Zanna lagi-lagi menurut, tangannya meraih kejantanan Arkan kemudian memposisikannya tepat di pintu kewanitaannya yang merekah. Perlahan Zanna menurunkan pinggulnyanya ke bawah sehingga sedikit demi sedikit vaginanya menelan milik Arkan dengan sempurna.

"Kak" panggil Zanna mengernyit seolah merasa sakit.

"Kenapa sayang? Bener kayak gitu, kesayangan kakak emang pinter" puji Arkan sembari mengelus pinggang ramping Zanna. "Coba gerakin pelan-pelan" bujuknya.

Zanna mengangguk lalu menaik-turunkan pinggulnya dengan sangat pelan tetapi masih mampu membuat Arkan merasakan nikmat.

Sementara Zanna menggoyangkan pinggulnya, Arkan meraih kedua payudara Zanna dan meremasnya. Tak cukup puas, ia mendekatkan wajahnya ke payudara Zanna lalu menjilati dan menghisap dada ranum itu bergantian kiri dan kanan seolah ia tak mampu menentukan mana yang paling ia sukai.

"Zan, fuck!" Arkan menarik pinggang gadis itu hingga tubuh bagian depan mereka melekat erat lantaran Arkan merasa gemas dengan gerakan Zanna yang seperti siput hingga ia harus mengambil alih dengan menaik-turunkan pinggulnya dengan ritme yang cepat membuat gadis yang duduk di pangkuannya kini memekik.

"Kak, ahhhh pelan-pela aakh" Zanna tanpa sadar menjambak rambut Arkan lantaran milik kakaknya yang kini bagaikan tombak yang terus-menerus menghujam di dalam tubuhnya.

Bringas

Brutal

Ia tak mampu mendefinisikannya, kini Arkan bergerak tanpa peduli ritme, suara pangkal paha yang saling bertabrakan, erangannya, dan nafas berat Arkan membuat suasana begitu sensual dan erotis. Kaki Zanna bahkan gemetaran akibat ereksi Arkan yang bergerak cepat dengan mulus karena sudah terlumasi oleh cairannya sendiri. Ia berusaha meminta Arkan berhenti sejenak atau untuk sedikit lebih pelan, tetapi Arkan seolah tuli dan dikuasai oleh keinginan untuk membuat Zanna tak berdaya.

Arkan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zanna, sambil meningkatkan kecepatannya pertanda ia sudah dekat.

"Nngghh..." suara Arkan tertahan, Arkan keluar sambil menggigit bahu gadis itu dan kedua tangannya memeluk erat penggang ramping itu. Ereksinya menusuk hingga ke dalam, menabrak dinding rahim Zanna menumpahkan seluruh isinya ke dalam.

 Ereksinya menusuk hingga ke dalam, menabrak dinding rahim Zanna menumpahkan seluruh isinya ke dalam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang