Pria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit.
Arkan t...
"Kalian ini dimana sih, mas? Aku kebangun tadi pagi tidak menemukan kalian di rumah. Aku tanya pak Adam juga tidak tahu kalian lagi kemana. Dan baru sekarang kamu ngabarin aku? Aku itu cemas mas!" kebawelan Arabella menembus speaker ponsel hingga membuat Revan harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Maaf sayang. Aku bawa Zanna ke rumah sakit. Dan kami masih di sini. Kata dokter Zanna perlu rawat inap selama tiga hari untuk pemulihan dan setelahnya boleh pulang" jelas Revan.
"Rumah sakit? Zanna? Ada apa, mas? Kasih tahu aku sekarang Zanna kenapa?" Arbella berujar cemas.
"Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja" ucap Revan.
"Iya, terus, Zanna kenapa ke rumah sakit? Jadwal dia ngecek kehamilan?" Arabella terus memberondongi suaminya dengan berbagai pertanyaan.
"Bukan, hanya..." Revan terdiam sejenak menimang-nimang kalimat apa yang bisa dia ungkapkan untuk meminimalisir kemarahan istrinya.
"Hanya?"
"Ck, sayang jangan marah padaku. Jangan usir aku dari kamar kita. Aku tahu ini gila tapi hanya ini solusi yang terbaik untuk kita" Revan menyugar rambutnya kebelakang. Ia bolak-balik di depan kamar Zanna.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan bilang-" Arabella berucap ragu diseberang sana.
"Iya sayang. Aku melakukannya. Kumohon maafkan aku" Revan seketika mendengar amukan istrinya dari ponselnya.
"Kamu gila, mas? Bagaimana dengan Zanna? Apa dia setuju?"
"Aku yakin Zanna setuju-"
"Darimana kamu bisa yakin kalau dia setuju untuk aborsi?" potong Arabella.
"Aku yakin dia setuju karena setelah aku mengatakan itu dia bahkan tak menolak ataupun memberontak. Dengar sayang, sedikit saja Zanna memberontak aku pasti akan menghentikan semuanya," Revan tak berbohong. Ia sudah membawa Zanna ke rumah sakit dan mengatakan bahwa gadis itu akan melakukan aborsi untuk melihat apakah ada penolakan. Zanna hanya ragu dan sedikit mempertanyakan. Begitu ia mengatakan bahwa itu solusi yang terbaik, gadis itu hanya diam dan pasrah menerima suntikan bius.
"Apa kamu memastikan bahwa ia pasrah karena tak ingin kamu membencinya? Jangan buat putri kita menjadi takut padamu, mas. Kamu tidak ingin berbicara padanya saja sudah membuatnya begitu sedih" sahut Arabella.
Revan memijat pangkal hidungnya, ia memang tak memperkirakan ini.
"Aku akan kesana" ucap Arabella.
"Minta pak Adam untuk mengantarmu, sayang. Aku tidak mau kamu menyetir sendiri dengan suasana hati yang tak tenang seperti ini. Jangan bahayakan dirimu" ujar Revan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arabella keluar dari dalam lift begitu pintu lift terbuka di lantai tujuannya. Lantai teratas rumah sakit tempat kamar VIP yang disediakan Revan untuk putri mereka. Bunyi ketukan heels-nya menggema di lorong yang sepi itu. Dan tak jauh di depannya ia melihat sang suami baru keluar dari satu ruangan. Segera ia mempercepat langkahnya menghampiri suaminya yang kini telah melihat kedatangannya.