57

7.4K 247 16
                                        

"Tidak!" Revan menolak tegas.

Arkan merasakan dejavu. Dua tahun lalu ia juga meminta restu tetapi ditolak dan hari ini pun sama.

"Pa," Zanna memanggil papanya yang duduk diseberangnya dan Arkan. Ia meremas lengan kakaknya untuk menenangkan. Sudah ia duga hal ini akan terjadi. Padahal dua hari sebelumnya ia sudah menyiapkan pertemuan ini. Memastikan kapan jadwal kedua orang tuanya kosong, dan mengatakan bahwa Arkan ingin berbicara pada mereka dengan niat baik, bahkan ia dan kakaknya sudah berdiskusi tempat yang cocok untuk sebuah pertemuan lalu pada akhirnya mereservasi restoran yang kini tempat mereka berada. Meskipun disiapkan sebaik mungkin papanya tetap menolak dengan tegas.

"Arkan, mama tahu kedatangan kamu kali ini tujuannya baik, melamar anak mama. Tapi kamu tahu kan, Zanna masih kuliah" ujar Arabella. Meskipun usia putrinya telah legal untuk menikah tetapi tetap saja menikah semuda itu membuatnya khawatir, ya walaupun dulu dia juga menikah diusia muda.

"Aku tahu ma. Ini juga sudah aku omongin dengan Zanna. Dan dia setuju untuk menikah denganku" ucap Arkan.

"Saya diam saja saat kamu membawa putriku kemanapun, dan kini kami ingin melamarnya. Percaya diri sekali kamu. Saya sejujurnya tidak lagi sudi menerimamu, tapi saya diam karena saya tahu putri saya butuh dukunganmu untuk kesembuhan mentalnya. Meskipun menurut saya itu tidak masuk akal meminta dukungan pada orang yang membuat mentalnya sendiri hancur" setelah mengatakan itu Revan beralih menatap Zanna.

"Saya minta maaf, pa. Meskipun sampai kapanpun kesalahan saya itu tetap berbekas di hati mama dan papa terutama Zanna, saya ingin memperbaiki semuanya, meminta Zanna dengan baik-baik pada mama dan papa, dan berjanji akan melindunginya," Arkan menggenggam jemari Zanna dibawah meja.

"Saya selalu tidak habis pikir dengan jalan pikir anak-anak ini!" Revan mendengkus kesal. "Putri saya terlalu muda untuk menikah. Dan kalaupun menikah, tidak dengan kamu!" Revan menunjuk Arkan. Ia berdiri dengan gusar karena sedari tadi duduknya gelisah akibat permintaan tidak masuk akal yang tiba-tiba ini.

"Sebaiknya pembicaraan ini selesai disini saja," Revan menarik pelan lengan istrinya. Dan Arabella pun paham maksud sang suami dan ia pun bangkit berdiri. "Saya tetap tidak mengizinkan kalian menikah. Dan keputusan saya ini tidak akan bisa diubah. Ayo kita pergi." Revan merangkul pinggang sang istri dan mereka keluar beriringan sementara Zanna dan Arkan terpaku ditempat.

"Sebentar ya mas, saya panggil bapak dulu," ucap seorang wanita muda yang bekerja sebagai ART di rumah yang Arkan datangi hari ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Sebentar ya mas, saya panggil bapak dulu," ucap seorang wanita muda yang bekerja sebagai ART di rumah yang Arkan datangi hari ini.

Arkan mengangguk, ia menjatuhkan bokongnya di kursi santai dekat kolam berenang untuk menunggu seseorang yang ingin ia temui datang. Sembari menunggu ia menyalakan ponselnya untuk menghabiskan waktu.

"Saya tadinya tak percaya kalau nak Arkan datang ke rumah saya." Seorang pria tua yang pernah mengajaknya bermain golf datang mengampiri. Ia memang membangun bisnis bersama pria tua itu, jadi wajar saja mereka sering bertemu dan berinteraksi.

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang