Pria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit.
Arkan t...
"Cepetan kejar, Ga! Mobil kak Arkan makin ngejauh!" desak Cassy menarik-narik lengan baju Braga yang sedang mengemudi.
"Cassy stop! Jangan ngerengek depan kuping gue!" ujar Braga kehilangan kesabarannya. Keringat di dahinya bercucuran, kakinya yang menginjak pedal gas gemetaran, dan kedua tangannya mencengkram setir dengan erat. Sungguh firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Jika ditanya perasaan sekarang, maka dengan lantang ia akan menjawab bahwa ia begitu khawatir pada Zanna dan merasa dibodohi oleh Arkan. Bagaimana bisa seseorang yang ia anggap teman, kakak dari gadis yang ditaksirnya, sesuatu yang dia anggap tidak berbahaya ternyata orang yang mengambil sesuatu yang amat sangat diincarnya selama ini. Dia sibuk menghalau semua teman laki-laki Zanna dan Cassy mendekati gadis pujaannya padahal seharusnya yang ia waspadai adalah Arkan. Bajingan! Braga tak henti-henti mengumpat dalam hati.
"Si sialan itu bawa mobilnya kenceng banget! Gak takut mati apa?!" hardik Braga memukul setir mengejutkan Cassy.
Mereka menyalip satu per satu mobil di jalan namun hal itu tidak cukup untuk mengejar Arkan yang mengemudi bak kesetanan. Sekuat apapun ia menginjak pedal gas, mobil di depan mereka kian menjauh nyaris tak terlihat. Sial, sial , sial, seharusnya ia tidak membawa mobil tua milik papa Cassy ini!
"Lu harus ngejer mereka, lu harus bawa Zanna pulang sama kita!" panik Cassy menggigit kuku jarinya cemas.
"Gua tau, tanpa lo bilang gua juga tau! Mending lo diem sebelum gua lempar keluar!" bentak Braga menatap tajam Cassy. Dan begitu ia kembali menghadap ke jalan, di depan mereka ternyata ada simpang pertigaan. Dan naasnya lagi mobil Arkan sudah tak terlihat. Braga bingung menentukan arah, antara ke kiri atau ke kanan. Begitu ban mobil semakin mendekati persimpangan tersebut, Braga membanting setir ke kanan tak mau memikirkan lebih lama lagi sebelum mereka disoraki pengendara lain kalau berhenti di tengah jalan.
Mereka membelah jalanan dengan cepat guna menyusul mobil Arkan. Namun semakin jauh mereka melewati jalan mereka tak menemukan bentuk belakang mobil Arkan sama sekali dan hal itu pun semakin membuat keraguan Braga menguat. Apakah mereka salah jalan?
"Kayaknya mereka gak lewat sini" celutuk Cassy.
Braga mengangguk. "Ya, kayaknya mereka gak lewat sini. Kita putar balik sekarang"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Disisi lain, Zanna melihat keseliling jalan dengan takut. Bagaimana tidak? makin jauh mereka pergi, jalanan semakin sepi, dan di sekeliling hanya ada pepohonan yang diselimuti malam yang gelap. Jantungnya berdegup kencang, bagaimana kalau disaat mereka lewat ada sekelompok begal yang mengejar? Bagaimana kalau bahan bakar mobil Arkan habis dan harus terjebak di hutan entah berantah? Zanna melirik ke samping, Arkan sedang mengemudi dengan wajah datar menghadap ke depan. Wajah kakaknya memang tak menunjukkan ekspresi apapun namun kepalan jari Arkan begitu kuat pada setir hingga urat-urat di lengannya menonjol.