39

14.6K 349 23
                                        

"Pagi cantik" sapa Arkan begitu mata cantik Zanna perlahan terbuka, mereka terbaring berhadapan dan ia masih memeluk pinggang Zanna.

"Kak, lepasin mau pipis"

Dengan malas Arkan melepas pelukannya membiarkan gadis itu bangkit dan terbirit-birit ke kamar mandi. Ia berbaring miring menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat menunggu Zanna keluar. Tak lama pintu itu pun terbuka, Zanna muncul dari sana dan melangkah menggigil akibat baru menyentuh air yang dingin. Gadis itu pun menghambur ke atas kasur dan menarik selimut menutupi dirinya.

Arkan menarik pinggang Zanna agar tubuh mereka menyatu. Dan Zanna pun membenamkan wajahnya di dada bidang Arkan.

"Kak, jangan gini" suara Zanna teredam di dadanya.

"Gini, gimana?" tanya Arkan pura-pura polos.

"Kak, mending gak usah peluk-peluk. Lepasin!" Zanna mendorong perut Arkan tetapi pria itu malah mempererat belitannya.

"Masa peluk doang gak boleh?"

"Boleh. Tapi gak gini juga!" ucap Zanna berusaha melepas diri dari Arkan.

"Oh kamu mau peluknya kayak gini? Oke!" Arkan menarik bahu Zanna agar telentang, ia pun pindah ke atas tubuh Zanna memeluk perut gadis itu dan meyandarkan kepalanya di dada Zanna seperti anak kecil yang memeluk ibunya membuat gadis itu sesak.

"Kak!" keluh Zanna sementara Arkan menahan senyum.

"Apa sayang?" tanya Arkan berpura-pura bodoh. "Kamu maunya di atas?"

Zanna mendengkus, menepuk-nepuk pundak Arkan. "Kalau gitu 'adeknya' dikondisikan dulu kak, nyenggol-nyengol kaki aku. Mesum banget!"

Seketika tawa Arkan pecah, "Ini normal. Setiap laki-laki ngalamin ini tiap pagi. Masa kamu gak nyadar sih? Padahal dari malam sampe pagi kakak meluk kamu terus?"

Zanna menggeleng, ya karena memang ia tak pernah menyadari dan tak pernah berpikir ke situ. Lagipula terkadang sebelum ia bangun Arkan sudah lebih dulu pindah ke kamarnya sendiri.

"Ini namanya morning wood, sayang" lanjut Arkan.

Zanna mendorong dahi Arkan menjauh. "Kak, sesak!"

Arkan mengangkat kepalanya lalu merangkak naik mensejajarkan wajahnya dengan wajah Zanna lalu tanpa aba-aba mencium bibir ranum itu. Mengulum bibir bawah Zanna hingga membengkak lalu menelusupkan lidahnya mengajak lidah Zanna untuk saling membelit. Ciuman Arkan turun ke leher Zanna mengendus aroma tubuh gadis itu dan memberi beberapa kecupan karena tak bisa membuat tanda di sana. Memberikan tanda di leher gadis itu sama saja dengan membongkar kebusukannya, leher Zanna selalu terekspos. Berbeda dengan dada, ia bebas membuat tanda sebanyak apapun yang ia mau, lagipula siapa juga yang akan menyingkap baju Zanna selain dirinya?

"Kak udah pagi, balik ke kamar sekarang" pinta Zanna mendorong dada Arkan.

"Masih jam 4 pagi sayang" bisik Arkan kemudian melanjutkan aktivitasnya.

"Kakak udah janji gak bakalan apa-apain aku" ujar Zanna begitu Arkan menegakkan tubuhnya.

Arkan mengerling nakal membawa tangan Zanna ke area intimnya yang masih ditutupi celana membuktikan bahwa ia sedang sangat bergairah sekarang. "Kan janjinya semalem doang. Ini udah pagi. Berarti sekarang boleh dong" Arkan tetap menahan tangan Zanna di sana meskipun gadis itu berusaha melepaskan genggamannya. "Adek manis, kakak udah cukup bersabar semalaman ini. Jangan jual mahal lagi"

Melepas tangan Zanna, Arkan menunduk untuk memegang karet celana Zanna kemudian menariknya hingga lepas beserta celana dalam tipis gadis itu. Zanna mengatup kakinya tapi Arkan menahan agar tetap terbuka untuknya.

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang