"SIALAN!" Revan menampar kencang pipi Arkan. Tangannya yang digunakan untuk menampar terasa panas namun tamparan itu tidak cukup untuk meredakan amarahnya. Nafasnya terasa begitu sesak oleh amarah dan kekecewaan. Matanya juga memerah kala melirik putrinya yang duduk menangis di sofa dengan istrinya dan Cassy yang memeluk gadis itu. Dadanya terasa terhimpit akan penyesalan-penyesalan yang menggerogoti jiwanya. Ia terus merapal dalam hati harusnya tidak begini, harusnya tidak begitu. Namun apa mau dikata? Semua telah terjadi. Andaikan ia bisa memutar waktu kembali ke masa lalu sebelum ia begitu mempercayai bajingan di depannya ini.
"Pa, aku tahu aku salah tapi aku akan bertanggung-" sekali lagi tamparan melayang di pipi Arkan dengan tenaga yang sama kuatnya. Arkan menatap diam papanya meskipun bekas tamparan itu terasa perih dan berdenyut. Dia memang pantas menerima ini setelah apa yang telah dia lakukan pada adiknya sendiri. Setelah membawa Zanna pulang ke Indonesia, ia sudah memutuskan untuk mengatakan pada orang tua mereka perihal kehamilan Zanna dan siapa yang harus bertanggungjawab. Ia menceritakan dari awal ia merenggut kesucian adiknya sendiri. Melakukan pengakuan dosa dengan mengatakan terus terang cara dia mengancam dan memanipulasi Zanna selama ini. Ia berkata jujur karena sudah berjanji pada Zanna bahwa ia akan memastikan bahwa papa tak akan membenci gadis itu. Biarkan ia yang akan menanggung semua kebencian papa dan mama mereka. Karena ia memang pantas mendapatkannya.
"Dengan cara apa kamu bertanggung jawab? Setelah kamu menghamili anak saya kamu mau bertanggung jawab seperti apa, HAH?" Revan menghadiahi satu tinjuan di rahang Arkan hingga sudut bibirnya pria itu mengeluarkan darah.
"Saya akan nikahi Zanna, pa" Arkan menjawab dengan tenang seolah yang dia ucapkan adalah solusi terbaik saat ini tak peduli tatapan mencemooh Revan padanya.
"Saya tidak sudi menikahkan putri saya dengan bajingan seperti kamu!" Revan tetap mengamuk dengan menendang perut Arkan hingga pria itu terjatuh ke lantai. Sementara ketiga perempuan yang menyaksikan memekik karena suara hantaman punggung Arkan dengan display table cukup kencang hingga vas koleksi Arabella berjatuhan dan pecah.
"Mas!" Arabella menghardik dengan air mata yang mengucur deras. Ia pun bingung dengan apa yang kini ia rasakan. Rasanya begitu sakit melihat putri mereka telah dilecehkan oleh anak yang ia anggap putranya sendiri. Namun disisi lain ia juga sedih melihat Arkan terus dipukuli oleh suaminya.
Arkan memegang perutnya yang terasa sakit perlahan ia mendongak menatap papanya yang juga menatapnya bengis, "aku tahu papa tidak akan pernah izinin aku menikahi Zanna. Terpaksa aku harus pakai cara ini, pa. Maafin aku kalau harus pakai cara sekotor ini. Tapi aku hanya ingin Zanna tidak wanita manapun"
"Seharusnya saya tidak pernah mengadopsi anak kurang ajar dan tidak tahu diri seperti kamu!" ucap Revan penuh penekanan.
Arkan tertawa kecil mendengar perkataan Revan barusan. Ia juga pernah berpikir seperti itu. Andaikan ia tidak diadopsi apakah obsesinya ini tidak akan pernah ada apakah mereka akan bertemu? Dan kadang ia memiliki angan-angan bertemu dengan Zanna dengan kondisi yang berbeda yakni sebagai orang asing, dengan kata lain ia tidak diadopsi agar ia bisa mengejar gadisnya sesuka hati tanpa ada yang membelenggu dengan kata sialan 'adik' yang membuatnya harus mati-matian menahan rasa yang tiap hari kian menguat pada gadis yang harus dia anggap sebagai adiknya.
"Dimana barang yang kamu gunakan untuk mengancam anak saya?" tanya Revan sembari menggulung lengan kemejanya.
"Di kamarku, pa. Di laptop dan kamera. Disimpan di laci meja kerja aku" Arkan menjawab pasrah. Meskipun ia amat sangat menyukai menonton kembali berulang kali adegan ia yang sedang menggagahi Zanna, ia tak masalah kedua benda itu dirampas. Karena sejujurnya video-video tak sebegitu pentingnya untuk ia jadikan senjata, karena meskipun tanpa vidio itupun ia dapat bertaruh bahwa ia pasti akan menggunakan seribu cara untuk mendominasi gadisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSANE MAN (Complete)
Storie d'amorePria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit. Arkan t...
