Pria yang sudah Zanna anggap sebagai pelindungnya, kakaknya, memiliki sisi tegas tapi juga lembut, perlahan mulai gila sejak ciuman pertama mereka. Seharusnya ciuman itu tidak pernah ada karena mengakibatkan hubungan keduanya menjadi rumit.
Arkan t...
Malam kian larut menuju dini hari. Sudah dua jam mobil hitam terparkir tak jauh dari salah satu rumah yang berada lokasi perumahan elit tersebut dengan seseorang di dalamnya mengawasi. Kaca filter yang gelap membuat orang-orang tak akan mengetahui siapa orang didalam mobil itu.
Pasti ada yang bertanya, bagaimana ia bisa masuk ke perumahan elit itu dengan mudah, lolos dari pengawasan sekurity tanpa usaha lebih? Sebab sekurity tahu bahwa yang datang adalah salah satu penghuni di perumahan tersebut, lebih tepatnya pernah tinggal disana. Tentu sekurity tersebut tidak akan tahu perihal ia yang telah diusir dari sana. Yang sekurity itu ketahui hanya ia anak dari salah satu pemilik rumah di sana.
Arkan memakai topi dan memasangkan tudung hoodie-nya yang membuat wajahnya tertutupi apalagi digelapnya malam sembari mengambil linggis yang di letakkan di jok mobilnya. Ia keluar dari mobil, berjalan santai memutari rumah menuju belakang. Niatnya tak mudah karena tingginya pagar yang menjulang. Namun itu masih bisa diakali dengan menaiki tong sebagai pijakan awal, begitu telapak tangannya meraih ujung pagar beton tersebut ia menarik tubuhnya ke atas dengan kekuatan lengan dan bahunya. Tak lama kakinya kini menginjak halaman belakang rumah. Suasana rumah yang familiar memudahkannya menemukan jendela kamar Zanna yang berada di lantai dua. Ia tahu gudang di halaman belakang menyimpan berbagai perkakas, dan ia langsung mengambil tangga disana, meletakkan tangga sejajar dengan balkon kamar Zanna dan mulai menaiki tangga itu.
Sesampainya di atas begitu sebelah kakinya menginjak lantai balkon, tanpa sengaja kaki satunya mendorong tangga hingga terjatuh dan menimbulkan suara yang berisik. Ia menahan nafas sejenak, namun beberapa menit menunggu tak ada pergerakan dari dalam kamar gadis itu. Sepertinya gadis itu begitu terlelap tanpa tahu seseorang kini menyelinap.
Linggis ditangannya ia gunakan untuk mencongkel jendela kamar Zanna dengan hati-hati berusaha menimbulkan suara seminimal mungkin. Meski sedikit kerepotan akhirnya ia berhasil juga. Ia memiringkan tubuh besarnya kala melewati jendela yang setengah terbuka. Satu kakinya menginjak lantai kamar gadis itu lalu disusul kaki yang satunya lagi hingga sepenuhnya ia berada di dalam kamar itu.
Dari jaraknya berdiri ia dapat melihat Zanna terlelap begitu damai dengan posisi miring menghadapnya. Menginjak lantai berkarpet yang meredam suara langkah kakinya, ia pun sampai disisi gadis itu. Menatap dalam diam perempuan yang ia rindukan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BRAK
BRUK
Revan tersadar dari tidur singkatnya ketika mendengar suara kegaduhan seperti benda jatuh yang menimpa sesuatu. Dirinya yang paranoid seketika terduduk lalu turun dari ranjang memungut baju dan celananya yang tergeletak di lantai.
Merasakan pergerakan sang suami, Arabella pun perlahan membuka mata. "Kenapa, mas?" tanyanya dengan suara serak.
"Aku ingin mengecek ke luar, suaranya tadi berisik sekali" ucap Revan sembari mengancing piyamanya.
"Sepertinya hanya kucing, mas. Tidurlah lagi" ujar sang istri manja.
"Disekitar sini jarang ada kucing, sayang" ucap Revan ketika selesai memakai pakaiannya.