23

55.4K 623 32
                                        

Pagi-pagi buta Zanna terjaga dan mendapati tubuhnya masih ditindih oleh Arkan yang tidur lelap. Perlahan-lahan ia memindahkan lengan Arkan yang melingkari perutnya dan juga kaki pria itu yang menumpang di pahanya. Perlahan ia beringsut turun dari tempat tidur kemudian memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dan memakainya, lalu keluar dari kamar dan menutup pintu dengan hati-hati.

Tak menunggu waktu lama, Zanna berlari ke kamar mandi pribadinya. Pakaian yang ia kenakan sebelumnya ia buka lagi, matanya memandangi cermin di dalam kamar mandinya dengan pedih, tanda kepemilikan Arkan di leher dan dadanya membuat hatinya sakit.

Dengan lemah ia menyalakan shower, perlahan derasnya air membasahi dari ujung kepala hingga kaki.

"Kakak sayang kamu Zan. Kakak ngelakuin ini karena sayang sama kamu"

Zanna tak pernah memimpikan hal ini terjadi padanya. Sekuat apapun ia menyangkal tetap saja Arkan sudah memperkosanya. Perbuatan bejad yang ia lihat di berita siapa sangka kini ia menjadi korbannya. Apakah ia pantas dikatakan sebagai korban kalau ia hanya melakukan perlawanan remeh? Seharusnya semalam ia tidak di rumah, seharusnya ketika tau kedua orangtuanya belum pulang ia menginap di rumah Cassy, seharusnya Arkan tak melihat pesan dari Braga, seharusnya ia tidak bersembunyi di balik tanaman hias, seharusnya dari awal Arkan menciumnya ia bersikap tegas. Penyesalan demi penyesalan menghantamnya hingga ia menjerit menumpahkan kebenciannya terhadap Arkan.

Aku benci kak Arkan!

Zanna menggosok tanda dari Arkan dengan kuat kemudian menangis lagi merasa putus asa, bukannya menghilang malah kulitnya semakin memerah dan perih.

Tidak seharusnya aku mengalami ini!

Tubuh Zanna menggigil, hal ini menunjukkan reaksi terhadap ketakutan, rasa bersalah, dan jijik terhadap pengalaman yang baru dialaminya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tubuh Zanna menggigil, hal ini menunjukkan reaksi terhadap ketakutan, rasa bersalah, dan jijik terhadap pengalaman yang baru dialaminya.

Ia merasa terisolasi sehingga ia memeluk tubuhnya sendiri yang gemetaran begitu hebat.

Air matanya tak dapat dibendung. Ia berada dalam konflik batin yang membuatnya menderita. Ia memiliki kasih sayang terhadap Arkan sebagai sosok yang selama ini dekat dan melindunginya, tetapi kini justru menjadi pelaku kekerasan terhadap dirinya. Hal ini membuatnya semakin bingung apakah rasa sayangnya pada Arkan dapat menutupi luka hatinya yang menganga akibat pria itu?

Zanna tidak hanya takut akan apa yang terjadi padanya, tapi juga takut pada dampaknya jika ia bicara. Ia juga merasa seolah ia bertanggung jawab atas kehancuran keluarga jika ia melapor.

Zanna mulai mempertanyakan kebenaran versinya sendiri karena manipulasi atau karena ia belum bisa membedakan antara kekerasan dan hasrat. Sebab meskipun semalam sekuat tenaga ia menolak, tubuhnya menghianati. Dengan menjijikannya ia malah merasakan orgasme dari sentuhan yang dipaksakan itu.

 Dengan menjijikannya ia malah merasakan orgasme dari sentuhan yang dipaksakan itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Zanna, sayang" panggil Arkan. Ia menggoyang bahu Zanna hingga mata cantik itu sedikit terbuka.

Sama-samar pemandangan kamarnya terlihat lagi. Wajah Arkan mula-mula kabur, semakin lama makin terlihat jelas. "Kak Arkan" sapa Zanna.

Awalnya Arkan menyipitkan mata, bibirnya lurus tipis, lalu kemudian rautnya melembut, ujung jarinya membelai wajah Zanna.

Sentuhan jari Arkan membuat Zanna perlahan sadar siapa Arkan dan apa yang telah mereka lakukan semalaman kemarin. Tanpa bisa dicegah ia berusaha menghindari sentuhannya, namun Arkan tetap menggenggam pundaknya.

"Sayang, kenapa ninggalin kakak?" Tanya Arkan.

Sambil berbaring Zanna mengamati wajah kakak angkatnya. Sejak dulu ia tau bahwa Arkan dikaruniai wajah yang rupawan. Tidak hanya tampan, ia memiliki tinggi badan dan perawakan yang maskulin yang selalu membuatnya terlihat mencolok. Satu lagi yang membuatnya tak mengalihkan pandangan dari pria itu, bahwa luka di pelipisnya kini sudah diobati dan ditutup plaster.

Namun yang dia rasakan hanya rasa sayang sebagai adik untuk kakaknya. Akan tetapi setelah ciuman saat ia ketahuan pergi ke club untuk pertama kali dan pendekatan yang terus-menerus Arkan lakukan setelahnya, ia sedikit demi sedikit seperti dipaksa untuk mendapati kanyataan bahwa Arkan adalah pria yang dewasa.

"Kenapa pindah ke sini?" Ulang Arkan.

Mengedip beberapa kali, Zanna membiasakan matanya akan cahaya di kamarnya yang kini semakin terang.

"Aku gak suka kamar kak Arkan" ucap Zanna jujur.

Setelah beberapa lama tidak ada suara, Arkan bertanya lagi, "kenapa?"

"Semalam di kamar kakak, kita..."

Tak perlu melanjutkan kalimatnya, Zanna yakin pasti Arkan memahami apa yang dia maksud. Tangan Arkan mendarat di pahanya, memijatnya lembut.

Membuang muka, Zanna memejamkan mata. Membiarkan air matanya mengalir lagi.

"Kakak gak suka kamu kaya gini" ujarnya sambil merangkul tubuh Zanna naik, memeluk gadis itu ke dadanya. " Apa yang harus kakak lakukan biar kamu gak nangis lagi? Kakak pengen kamu ceria lagi"

Zanna tak menjawab pertanyaan Arkan. Hanya air mata saja yang mengalir tak terbendung lagi. Tidak mampu berbuat apa-apa setelah kakaknya memperkosanya, membuat Zann kesal dan marah pada dirinya sendiri karena lemah. Pundaknya bergetar, punggungnya dielus Arkan. Ingin rasanya ia berpura-pura kalau semuanya tak pernah terjadi semuanya hanyalah mimpi.

"Ssstttt... sayang jangan nangis lagi. Maafin kakak ya? Maafin kakak udah jahat sama kamu. Kamu harus ingat kalau kakak sayang kamu, semuanya kakak lakuin karena sayang sama kamu. Jangan nangis lagi..."

"Kak..." lolong Zanna sambil mencebik menahan sesugukan yang tidak mau berhenti.

"Ssssttt...jangan nangis lagi. Maafin kakak ya? Maafin kakak ya sayang?" Ucap Arkan menciumi pelipis dan pipi adiknya. Dia terus membujuk Zanna dengan kata-kata manis. Meminta maaf pada gadis malang itu.

 Meminta maaf pada gadis malang itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

To be continue

INSANE MAN (Complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang