Selesai + belom direvisi
"Gue mohon sama lo! batalin pernikahan ini! gue gak kenal sama lo, begitupun lo gak kenal sama gue." Tegas Arzen kepada Clazoora.
"Idihh, gue juga gak mau kali nikah sama lo! mending gua gak nikah seumur hidup daripada haru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
36. Flashback
——
Senin. Dimana hari yang sangat dibenci oleh murid-murid sekolah. Tapi ada juga beberapa yang menyukai hari Senin. Ada beberapa anak yang rela membolos demi menghindari upacara, tapi sepertinya untuk saat ini mereka tidak bisa membolos seperti biasa. Karena apa? Karena Ujian semester akhir sudah dimulai, dimana pada semester ini siswa-siswi tidak bisa lagi untuk bermain-main. Kalau bermain-main, kelulusan taruhannya.
Ruang kelas yang biasanya ribut pada saat pagi hari, sekarang damai. Siswa-siswi fokus pada kertas yang berisi soal-soal yang mampu membuat kepala mereka meledak dihadapan mereka. Mungkin bagi murid pintar, soal-soal itu tidak ada artinya. Tapi bagaimana untuk murid yang bodoh? Mereka harus bersusah payah untuk menjawab soal demi soal.
Sama halnya diruangan 12 IPA 3—kelas Zoora. Semua murid fokus pada soal dihadapan mereka sekarang, hanya beberapa, yang lain hanya menunggu contekan dari teman sejatinya.
"Zoor, bagi jawabannya." Elena berucap pelan agar pengawas tidak mengetahui mereka.
Zoora yang sedang fokus pada lembar soal menoleh kearah samping—dimana bangku Elena berada.
"Cari sendiri," balas Zoora, setelah itu ia kembali fokus.
"Ck! Ayolah, Zoor. Satu ini aja," mohon Elena.
"Enggak."
"Please,"
"Sekali nggak tetap nggak."
"Ayolah, Zoor. Kat—"
"Itu dibelakang apa ribut-ribut? Fokus lagi sama soalnya, jangan nyontek. Usaha sendiri." Buk Melly yang menjadi pengawas 12 IPA 3. Guru yang terkenal sebagai guru muda di Alexander High School, bahkan murid laki-laki pun menyukai guru tersebut.
Elena mencabikkan bibirnya, ia kembali fokus pada soalnya setelah tidak mendapatkan jawaban dari sahabatnya.
Zoora hanya menggelengkan kepalanya. "Kebiasaan," gumam Zoora.
Elena beralih kebelakang—dimana bangku Zirana berada.
"Kiw cewek, Zir. Pacarnya Bian, bagi jawabannya dong." rayu Elena.
Zirana mendonggak. "Ogah," tolaknya.
Baiklah! Sepertinya Elena harus usaha sendiri sekarang. Semua temannya tidak ada yang mau memberinya jawaban. Sebenarnya Elena tidak bodoh-bodoh banget, ia juga puntah seperti sahabatnya yang lain. Tapi... kalau soal pelajaran IPS Elena angkat tangan, ia paling lemah dipelajaran satu itu.