Diary 25

54 7 0
                                        

Semarang, Februari 2024

Satang membiarkan buku-buku kuliah berserakan diatas meja. Entah sejak kapan Satang menjadi seseorang yang berantakan seperti ini. Biasanya dia akan langsung merapikan buku itu setelah ia gunakan. Tapi, kali ini tidak. Matanya menerawang menatap jendela kamar indekosnya yang sedikit berembun. Hujan baru saja turun dengan derasnya. Mengganggu padahal, karena seharusnya dia masih berada di kampus menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan oleh dosen.

"Untungnya masih ada beberapa hari lagi," gumam Satang sambil menghela nafas. Dia masih bisa menyelesaikan tugas itu, tapi entah kenapa otaknya tidak mau diajak bekerja sama. Terlalu banyak hal terjadi belakangan ini.

Satang meraih ponselnya, melirik notifikasi yang masuk. Dua pesan tak terbaca. Satu dari Fourth, dan satu lagi dari —

"Udah makan?" Winny -- pria yang sekarang semakin sering muncul di hidupnya.

Satang menggigit bibir bawahnya, bingung apakah harus membalas atau tidak. Hubungan mereka seperti ini entah sejak kapan. Seolah-olah Winny selalu tahu kapan harus muncul, kapan harus pergi, dan kapan harus mengirim pesan singkat yang sebenarnya tidak penting.

"Udah," jawab Satang singkat. Padahal, belum. Dia belum makan sejak tadi siang saat mampir ke kantin kampus.

Tidak sampai lima detik, ponselnya bergetar lagi. "Bohong. Yo uwis, 15 menit lagi."

Satang menatap layar ponselnya dengan ekspresi jengkel. "Dibilangin udah! Gak perlu kesini!"

"25 menit, macet," balas Winny lagi.

"Winny!" Satang mengetik dengan kesal, tapi tidak jadi mengirim. Dia tahu percuma berdebat dengan Winny. Pria itu akan tetap datang membawa makanan dan memaksanya untuk makan. Seperti biasa.

Satang bangkit dari kursinya, merapikan sedikit kamarnya yang berantakan. Setidaknya, jika Winny datang, dia tidak akan melihat kamar Satang yang kacau. Bisa-bisa Winny akan menggodanya seharian dengan hal itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya kesal.

Setelah merapikan beberapa baju yang tergeletak di kasur, buku yang berserakan, dan gelas kosong di meja, Satang melirik jam dinding yang terpasang di kamarnya. Sudah 20 menit berlalu, dan seharusnya Winny akan sampai sebentar lagi.

Seandainya saja Satang tidak pernah bertemu Winny di kereta api malam itu, mungkin hidupnya akan tetap tenang. Tidak ada gangguan, tidak ada pria yang selalu memanggilnya "cah ayu" dengan aksen Jawa yang kental, dan tentu saja, tidak ada perasaan aneh yang semakin hari semakin kuat ini.

Suara ketukan di pintu mengejutkan Satang dari lamunannya.

"Satang!" suara Winny terdengar dari luar. Satang menghela nafas dan berjalan ke arah pintu.

Saat Satang membuka pintu, Winny berdiri dengan senyum lebar dan kantong plastik di tangannya. Rambutnya basah terkena hujan, dan kemeja biru mudanya terlihat lembab di beberapa bagian. Wajahnya berseri-seri, seolah-olah hari ini adalah hari terbaik dalam hidupnya.

"Mas Ganteng udah dateng nih," ujar Winny, mengangkat kantong plastik yang dibawanya. "Bawa makanan buat cah ayu yang belum makan."

Satang memutar matanya, tapi membiarkan Winny masuk ke kamarnya. "Udah kubilang aku udah makan."

"Oh ya? Terus kenapa perutmu bunyi kaya genderang mau perang gitu?" Winny meletakkan makanan di meja, memindahkan beberapa buku yang masih berserakan.

"Gak bunyi kok!" sangkal Satang, tapi seperti mendengar sanggahannya, perutnya berbunyi cukup keras saat itu juga. Winny tertawa.

"Denger kan?" Winny membuka bungkusan makanan. "Ayo makan."

Satang duduk dengan enggan di kursi depan mejanya. "Kenapa sih kamu selalu maksa?"

DIARY : CAH AYU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang