Diary 27

34 5 0
                                        


Satang melirik jam tangannya, waktu hampir menunjukkan pukul dua siang. Ia baru saja keluar dari kelas setelah menyelesaikan presentasi tentang perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Entah kenapa, pikirannya tidak sepenuhnya fokus pada materi yang ia sampaikan tadi. Beberapa pertanyaan dari dosen pun ia jawab dengan tergagap.

"Hey," Fourth menepuk bahu Satang dari belakang.

"Oh, hey," jawab Satang sambil merapikan tumpukan kertas yang ia bawa.

"Ada apa? Kok kayak orang linglung gitu."

"Ah, masa? Enggak kok. Cuma kurang tidur," kilah Satang, menyembunyikan fakta bahwa sejak semalam, pikirannya dipenuhi dengan Winny. Lebih tepatnya, pesan singkat Winny yang mengatakan bahwa mereka perlu bicara tentang 'status' mereka. Status apa? Satang bahkan tidak yakin apa yang sedang mereka jalani saat ini.

"Okelah kalau begitu. Kamu mau ikut ke kantin? Aku yang traktir."

"Ehm, kayaknya aku lewat dulu. Ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan," Satang mengusap rambutnya yang berantakan, berusaha menenangkan pikirannya.

"Ya udah, sampai ketemu nanti sore di rapat ya," Fourth berjalan menjauh, meninggalkan Satang yang masih berdiri di lorong fakultas yang tidak terlalu ramai itu.

Satang memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Baginya, keheningan perpustakaan selalu menjadi obat terbaik ketika pikirannya sedang kacau. Dengan langkah gontai, ia berjalan menyusuri lorong panjang, menaiki tangga, dan akhirnya sampai di pelataran kampus yang cukup luas.

Satang berhenti melangkah. Matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal. Di bawah pohon rindang, berdiri Winny dengan setelan kemeja birunya yang khas, sedang berbicara dengan seorang gadis. Gadis itu cantik, rambutnya hitam panjang tergerai. Tubuh mungilnya membuat Winny terlihat jauh lebih tinggi. Mereka berdua nampak begitu akrab. Terlalu akrab hingga membuat Satang merasa tidak nyaman.

Tanpa sadar, Satang mengeratkan genggamannya pada tali tas yang ia bawa. Hatinya terasa berat, seolah ada batu besar yang menindihnya. Untuk pertama kalinya, Satang merasakan ketidakpastian tentang posisinya di kehidupan Winny. Apakah mereka hanya teman? Atau ada sesuatu yang lebih?

Winny tertawa, begitu juga gadis itu. Tangan Winny sesekali menyentuh pundak si gadis, membuat Satang semakin gelisah. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya telah berdiri cukup lama di tempat yang sama, memperhatikan keduanya.

"Cemburu ya?" sebuah suara mengagetkan Satang.

Satang menoleh dan mendapati Farel, teman satu kelasnya, sedang tersenyum jahil.

"Apaan sih. Ngaco," Satang berusaha menjaga wajahnya tetap datar, meski dadanya bergemuruh.

"Yakin? Dari tadi liatin Winny sama Virsa."

"Virsa?" tanya Satang, tidak sengaja terdengar terlalu penasaran.

"Iya, Virsa. Mahasiswa Fakultas Ekonomi. Satu angkatan sama kita, tapi dia udah punya usaha sendiri. Dia sering bantuin Winny soal bisnis keluarganya, setahuku."

Satang mengangguk, mencoba mencerna informasi itu. Jadi gadis itu bernama Virsa. Dan mereka cukup dekat sampai-sampai Winny meminta bantuan soal bisnis keluarganya? Sepenting itukah gadis itu bagi Winny?

"Kamu mau ikut ke kantin? Fourth udah disana," ajak Farel.

"Tadi katanya mau ke perpus," Satang masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Winny dan Virsa.

"Ya udah deh, duluan ya. Jangan lama-lama ngambeknya," Farel tertawa kecil sebelum pergi, meninggalkan Satang yang masih membeku.

Satang akhirnya memutuskan untuk berbalik arah. Ia tidak jadi ke perpustakaan. Entah kenapa, langkahnya membawanya ke taman belakang kampus yang sepi. Ia duduk di bangku panjang yang tersedia, meletakkan tasnya di samping, dan menghela napas panjang.

DIARY : CAH AYU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang