Malam itu seharusnya tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Satang mengerti pukul berapa waktu tidurnya akan datang, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ada sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang saat mengingat Winny.
"Apa benar?" gumamnya pelan, seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Gelisah, Satang membuka laptopnya, berharap tugasnya yang sudah menumpuk bisa mengalihkan pikirannya dari sosok Winny yang selalu menyebutnya Cah Ayu itu.
Dua jam berlalu, tetapi kondisi Satang masih sama. Matanya menatap layar laptop, tapi pikirannya tidak ada di sana. Satang menyerah. Digesernya laptop itu dari pangkuannya, kemudian ia merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit-langit kamar indekosnya yang terlihat suram di bawah cahaya lampu belajar yang remang-remang.
"Aku memang menyukainya." Satang berusaha mengakui apa yang ia rasakan pada dirinya sendiri. Matanya terpejam, mencoba mengingat semua ekspresi wajah Winny. Wajah pria itu saat pertama kali mereka bertemu di kereta, wajahnya saat menyebutkan "Mas Ganteng," wajahnya saat tersenyum melihat Satang memakan roti, dan wajahnya saat mereka bertemu lagi di kampus.
Semuanya diputar seperti roll film di kepala Satang. Pria itu telah membuatnya merasa spesial dengan cara yang aneh. Satang tersenyum malu saat mengingat bagaimana Winny selalu memanggilnya "Cah Ayu" meskipun Satang sudah berkali-kali menegurnya.
"Tapi kalau aku mengatakannya—"
Drrrt... Drrrt...
Ponsel Satang bergetar. Dengan malas, Satang mengambil ponselnya. Nama Fourth muncul di layarnya.
"Halo?"
"Woi, besok jadi ngumpul gak?" Fourth bertanya dengan nada yang cukup kencang, membuat Satang harus sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Jadi, iya. Malam-malam gini telepon buat nanya itu doang?" Satang sedikit kesal, meskipun ia tahu kalau Fourth selalu seperti itu. Anak musik memang terlalu ekspresif.
"Ya kali aja lupa. Btw, tadi gue ketemu sama si Winny loh."
Jantung Satang berdegup kencang mendengar nama itu. "Terus?" Tanya Satang, berusaha untuk terdengar kasual.
"Dia tanya tentang lo. Aneh deh, kayak kalian punya hubungan apa gitu."
Satang terdiam. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Apakah Fourth sedang mengerjainya? Atau Winny memang benar-benar bertanya tentangnya? "Gue gak kenal dia. Cuma pernah liat aja."
Fourth tertawa kecil. "Ya udah sih kalau gak mau cerita. Lo tau gak, katanya besok dia juga dateng ke acara kita. Gara-gara gue bilang lo yang ngurusin acara itu. Aneh kan?"
Satang merasa darahnya berdesir. Winny akan datang ke acaranya besok? Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana penampilannya nanti? Satang merasakan kepalanya pusing memikirkan kemungkinan bertemu dengan Winny lagi, apalagi setelah ia mengakui perasaannya sendiri.
"Gue tutup ya," kata Satang tiba-tiba, tidak memberi kesempatan bagi Fourth untuk menjawab.
Satang melempar ponselnya ke kasur, lalu menutup wajahnya dengan bantal. "Kenapa jadi ribet gini sih?" gumamnya frustasi.
Pagi itu, Satang bangun lebih pagi dari biasanya. Entah kenapa, dia merasa perlu waktu lebih lama untuk mempersiapkan dirinya hari ini. Satang memilih pakaian dengan lebih hati-hati, dia bahkan sampai mencoba tiga baju yang berbeda. Padahal biasanya, dia tidak pernah terlalu peduli dengan penampilannya.
"Ini konyol," ujarnya pada dirinya sendiri, merasa bodoh karena berusaha terlihat bagus untuk seseorang yang bahkan mungkin tidak akan menyadari kehadirannya nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIARY : CAH AYU
Hayran KurguBab 25-30 akan di revisi! Mohon maklum saya udah lama gak pegang ini cerita jadi kemungkinan cringe😅 📍Winny Pramudita -- Satang Digarahmana
