Langit Semarang terasa mendung hari ini. Satang lagi-lagi tertangkap basah oleh Fourth sedang melamun saat mereka berada di kantin fakultas. Entah apa yang ada di pikirannya, tetapi Fourth bisa menebak itu tentang sosok "mas ganteng" yang sudah beberapa minggu ini sering dibicarakan oleh sahabatnya.
"Duh, susah ya kalau udah kena penyakit cinta," ucap Fourth, memecah lamunan Satang.
Satang mengerjap cepat, kemudian menatap Fourth dengan tatapan kesal. "Hah? Apaan sih? Aku mikirin tugas dari Pak Sony, ini udah mepet banget, tau!"
Tawa Fourth meledak. "Tugas Pak Sony? Yang deadline nya masih dua minggu lagi? Ayolah, aku sudah kenal kamu dari semester satu, nggak usah bohong sama aku."
"Serius." Satang menyeruput es teh manis nya yang tinggal setengah.
"Nama tugas Pak Sony kok huruf depannya W terus huruf belakangnya Y ya? Aneh banget." Fourth masih menggoda.
Satang memutar bola matanya. "Udahan deh, aku mau balik ke kelas, masih ada jadwal jam dua."
Satang bangkit dari kursinya, mengambil tas yang ia letakkan di kursi sebelah. Tiba-tiba saja Fourth menyentuh tangannya, menahan Satang untuk tidak pergi. "Kalau kamu suka, kenapa nggak dideketin aja? Kebetulan banget hari ini aku lihat cowok itu di perpustakaan fakultas Ekonomi, sendirian lagi."
Telinga Satang seakan terpasang radar khusus saat mendengar topik tentang Winny. Dia berhenti, kemudian duduk kembali. "Masa sih?"
"Tuh kan, langsung semangat!" Fourth terkekeh. "Aku nggak sengaja lewat waktu mau ngumpulin makalah Bahasa Inggris. Dia duduk di pojok, dekat rak buku manajemen, pakai baju hitam, bawa laptop."
Satang mencoba untuk tidak terlihat terlalu antusias, tapi gagal. "Oh, gitu..."
"Oke deh, aku udah terlalu banyak ngasih clue. Sekarang tinggal kamu yang bergerak. Jangan cuma dilamunin aja, nanti keburu diambil orang."
"Nggak gitu juga!" Satang meninggikan suaranya tanpa sadar, membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh. "Maksudku... kita cuma kebetulan ketemu di kereta, terus ngobrol bentar, itu aja."
"Tapi setiap kali kamu lihat dia, matamu berbinar. Itu namanya suka, bang." Fourth berkata dengan nada yang lebih serius. "Kamu mau sampai kapan nyangkal terus? Udah hampir sebulan kamu sering bengong kalau udah ngomongin soal Winny. Kalau bukan suka, terus apa dong?"
Satang terdiam. Memang benar, dia sering memikirkan Winny. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya penasaran. Mungkin karena sikapnya yang percaya diri, atau mungkin karena cara Winny memanggilnya "cah ayu" yang sebetulnya membuat Satang kesal, tapi juga membuatnya tersenyum saat sendirian.
"Nggak tahu, Fourth. Beneran, aku sendiri nggak paham." Satang mengusap wajahnya. "Rasanya aneh. Kita cuma ketemu sebentar, tapi aku sering kepikiran. Mungkin karena dia orang pertama yang berani manggilku 'mas ganteng', padahal aku kesal setengah mati waktu itu."
"Tuh kan, suka." Fourth tersenyum puas. "Kalo mau, hari ini kita bisa ke perpus Ekonomi, aku temani. Pura-pura nyari buku atau apalah, terus kamu bisa sengaja ketemu. Kayak takdir gitu."
"Takdir apaan? Itu namanya pura-pura ketemu, bukan takdir." Satang tertawa kecil.
"Ya kalo kamu percaya jodoh itu nggak kemana, harusnya kamu percaya juga kalo ketemu di perpus juga bagian dari takdir, kan?"
Satang menatap jam tangannya, masih ada satu jam sebelum kelas dimulai. Dia menimbang-nimbang tawaran Fourth. Apakah dia sebegitu inginnya bertemu Winny lagi? Iya. Apa dia berani mengakuinya? Tidak.
"Oke, tapi cuma sebentar ya. Aku beneran ada kelas jam dua."
Fourth tersenyum lebar. "Yesss! Akhirnya cowok ini bergerak juga!"
KAMU SEDANG MEMBACA
DIARY : CAH AYU
FanficBab 25-30 akan di revisi! Mohon maklum saya udah lama gak pegang ini cerita jadi kemungkinan cringe😅 📍Winny Pramudita -- Satang Digarahmana
