Diary 30

112 5 1
                                        

Udara malam itu cukup dingin, tapi tidak bagi Satang. Ia baru saja keluar dari gedung laboratorium fakultasnya. Deadline tugas akhir semester membuatnya harus lembur hingga malam hari, dan itu sudah terjadi selama seminggu terakhir. Siluet ramping itu semakin jelas, meski cahaya lampu taman hanya memberi penerangan seadanya. Satang merapatkan jaketnya, seraya membetulkan tas ranselnya yang sedikit melorot.

"Kowe ning kene to?"

Satang menghentikan langkahnya. Suara itu. Suara yang selalu membuatnya kesal. Tapi entah kenapa, kali ini ada sedikit rasa hangat yang menjalari dadanya. Winny berdiri di depannya, satu tangannya memegang kopi yang masih mengepul. Kemeja biru muda yang sama, yang selalu dikenakan Winny. Rambut pendek, tapi sedikit lebih rapi dari pertemuan terakhir mereka.

"Kamu ngapain disini?" Satang bertanya. "Bukannya fakultasmu beda gedung?"

Winny tersenyum, mengangkat cup kopinya seolah itu menjawab pertanyaan Satang. "Aku lagi butuh inspirasi."

"Malam-malam gini?"

"Inspirasi bisa datang kapan aja," Winny menyesap kopinya. "Apalagi kalau ditemenin kopi."

Satang memutar bola matanya, berusaha untuk tidak tersenyum. "Udah berapa cup hari ini?"

"Yang ini cup ke-empat."

"Kamu sadar nggak sih kalau kadar kafein di tubuhmu itu udah berbahaya?"

"Wah," Winny tertawa kecil. "Cah ayu peduli sama mas ganteng ya?"

"Ih, jangan panggil aku begitu!" Satang menatap tajam, tapi tidak marah seperti dulu. Ada sesuatu yang berbeda. Winny menangkap itu.

Angin malam bertiup pelan. Suara gemerisik dedaunan hanya menambah keheningan malam itu. Tatapan keduanya bertemu. Satang selalu merasa aneh jika mata itu menatapnya terlalu lama, ada debaran yang tidak bisa ia jelaskan. Sedang Winny, selalu menikmati bagaimana mata Satang mengerjap ketika gugup, atau bagaimana alisnya akan naik ketika ia kebingungan.

"Apa lihat-lihat?" Satang memecah keheningan.

"Kowe ayu tenan." Winny menjawab santai. "Artinya-"

"Aku tahu artinya, Mas Ganteng," potong Satang. "Aku sudah sering denger itu."

"Oh, sudah belajar bahasa Jawa?"

"Sedikit-sedikit," Satang mengangkat bahunya. "Terlalu banyak orang yang ngomong bahasa Jawa disini."

Winny tersenyum. "Mau pulang bareng?"

"Memangnya rumahmu ke arah mana?" Satang balik bertanya.

"Gak jauh dari indekosmu."

"Kamu tahu indekosanku?"

Winny terkekeh, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tau dong. Aku kan pernah nganter kamu pulang, waktu itu."

"Kamu gak pernah nganter aku pulang, Mas Ganteng," Satang menatap heran. "Kecuali kamu ngikutin aku pulang, itu beda cerita."

Winny tersedak kopinya. "Ha-hahaha, masa sih? Mungkin aku lupa."

Satang menggelengkan kepalanya. "Dasar stalker."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Satang tidak tahu kenapa malam itu berbeda. Biasanya, ia akan segera pergi setelah bertemu Winny. Menghindar, mencari alasan, atau sekedar berpura-pura sibuk. Tapi malam ini, entah kenapa, ia ingin Winny tetap berdiri di sampingnya.

"Jadi, mau pulang bareng gak?" Winny bertanya lagi.

"Boleh," Satang akhirnya menjawab. "Tapi jangan macam-macam!"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 01, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DIARY : CAH AYU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang