Diary 28

44 4 1
                                        

Semarang, Desember 

Suasana kampus begitu ramai. Mahasiswa berlalu lalang dengan berbagai aktivitas mereka. Ada yang sibuk dengan tugas akhir, ada pula yang menunggu jadwal sidang, atau hanya sebatas menikmati jeda waktu di kantin.

Satang duduk di salah satu sudut kantin, tempat favoritnya untuk menunggu jadwal kuliah berikutnya. Kali ini sendiri, tanpa kehadiran Fourth yang biasanya menemani. Secangkir kopi hangat menemaninya, meski ia tak sepenuhnya menikmati minuman itu. Matanya menatap kosong ke layar laptop, jari-jarinya mengetuk meja tanpa ritme yang jelas. Pikirannya berkelana jauh, tidak pada tugas yang harusnya ia kerjakan.

"Kenapa gak pernah nolak kalau aku ajak nongkrong?"

Suara itu mengejutkan Satang. Mata Satang terbelalak melihat Winny yang sudah duduk di hadapannya. Kemeja hitam lengan panjang yang dikenakan Winny hari ini tampak rapi, berbeda dari biasanya yang selalu terkesan santai. Rambut hitamnya yang kini semakin pendek menampakkan garis tegas rahangnya.

"Karena aku gak ada kerjaan." Satang menjawab sambil menyesap kopinya. Mencoba menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.

Winny terkekeh pelan, tangannya mengambil kotak susu yang ia bawa dari kafetaria kampus. "Lucu banget sih. Bisa aja, bilang aja karena pengen ketemu sama aku."

"Siapa juga yang pengen ketemu sama kamu." Satang menekuk wajahnya, memberengut. Tapi jantungnya berdegup kencang, takut Winny bisa mendengarnya.

Beberapa bulan terakhir, hubungan mereka semakin dekat. Hampir setiap hari Winny mengiriminya pesan, mengajaknya makan siang bersama, atau sekadar duduk di kantin seperti sekarang. Winny selalu menemukan cara untuk menemui Satang dengan berbagai alasan yang kadang tidak masuk akal.

"Fourth tanya, kamu udah selesai bikin tugasnya?"

Satang mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa gak tanya langsung sama aku?"

"Ya, mau aja repot-repot nanyain ke orang lain." Winny menyeruput minumannya sambil melirik Satang yang masih sibuk dengan laptopnya.

Sejenak, mereka terdiam. Satang sibuk dengan tugasnya, sesekali mengetik sesuatu, lalu berhenti, termenung, dan kembali mengetik. Winny hanya memperhatikan dalam diam. Sesekali matanya melirik ke arah lain, tapi kemudian selalu kembali kepada Satang.

"Kapan mulainya?" Satang bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

"Apanya?"

"Sidang tugas akhir kamu. Bukannya harusnya minggu ini?"

Winny terdiam sejenak, matanya melihat ke arah jendela kantin yang besar. Hujan rintik-rintik mulai membasahi halaman kampus. "Seminggu lagi."

"Udah siap?" Satang akhirnya mengalihkan pandangannya dari laptop, menatap Winny yang terlihat berbeda hari ini. Lebih serius, lebih dewasa, mungkin juga lebih tampan.

"Belum." Winny menjawab singkat, sangat tidak biasa. Biasanya, Winny akan menjawab dengan gurauan atau kalimat yang terlalu panjang dan tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Satang.

Satang menutup laptopnya, menyingkirkan benda itu ke samping. "Kalau ada yang bisa dibantu, bilang aja."

Winny menatap Satang lebih lama, seolah mencari sesuatu di wajah Satang. Senyuman kecil terbentuk di bibirnya. "Ikut aku sebentar."

"Ke mana?" Satang bertanya, tapi tangannya sudah bergerak membereskan barang-barangnya, siap untuk mengikuti Winny ke mana pun.

"Lihat aja nanti."

Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor kampus yang mulai sepi. Hujan semakin deras, membuat udara terasa lebih dingin. Satang merapatkan jaketnya, sesekali melirik Winny yang berjalan santai seolah udara dingin tidak memengaruhinya.

DIARY : CAH AYU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang