Elizabeth berjalan di samping Hamdan untuk keluar dari gedung SMP Gandhi Memorial Intercontinental School setelah mengantar Yanti untuk melakukan kegiatan ekstrakurikulernya di sore hari begini.
Elizabeth pergi berbarengan dengan Yanti dan dikawal oleh Hamdan. Jika Yanti kembali ke sekolahnya untuk kegiatan ekstrakurikuler, maka Elizabeth hendak pergi untuk acara seminar di kampusnya. Alhasil, daripada repot, lebih baik pergi barengan saja meskipun acara seminar Elizabeth masih tiga puluh menit lagi.
Ini juga sebagai bentuk menghargai Hamdan, dia memang ajudan yang baik, tapi Elizabeth tak tega jika membuat Hamdan malah bolak-balik GMIS-Rumah Pak Nas-UNAS-Rumah Pak Nas. Memang kelihatan biasa saja, tidak kepanasan, hanya duduk menyetir. Tapi, yang merasakannya akan pegal sekali. Lagipula, Hamdan bukan supir. Tugasnya hanya sebagai seorang ajudan sekaligus salah satu pelindung keluarga Pak Nas. Alhasil, tentu Elizabeth tak mau semena-mena kepada siapapun yang bekerja untuk Omnya.
Baru saja sampai di area lapangan menuju parkiran, secara tiba-tiba seorang pria dengan setelan mantel berwarna hitam menubruk tubuh Elizabeth karena dia berlari dan sepertinya tak memperhatikan langkahnya, membuat gadis itu hampir terjatuh jika Hamdan tak memegangnya.
Si pria bermantel hitam itu membawa beberapa dokumen yang cukup banyak, namun karena dia menubruk Elizabeth, dokumen yang dia bawa langsung berserakan.
"Hei! Kalau jalan hati-hati! Awas lakumu lan gunakake mripatmu! Nona mudaku hampir terjatuh!" Hamdan sedikit kesal pada orang tersebut yang hampir melukai Elizabeth, untung saja Elizabeth tidak menghantam tanah, tubuhnya cukup kuat sekali tidak terjatuh. Karena pria yang menabraknya itu sangat tinggi dan juga gagah.
(Awas lakumu lan gunakake mripatmu! : Perhatikan langkahmu dan gunakan matamu!)
"Maaf, maafkan saya. Saya benar-benar tak sengaja," Elizabeth mengkerutkan keningnya mendengar aksen pria tersebut. Dia berbicara bahasa Indonesia dengan lancar tapi menggunakan aksen Perancis yang cukup kental. Sepertinya warga negara asing.
Elizabeth perlahan berjongkok dan membantu pria tersebut memungut beberapa kertas dokumen yang berserakan sambil terus mendengarkan permintaan maafnya.
Fokus Elizabeth tertuju pada sebuah dokumen yang memiliki sebuah foto, entah kenapa dokumen itu membuatnya tertarik. Tangan Elizabeth hendak menggapai dokumen tersebut, tapi pria yang menabraknya itu buru-buru mengambil dokumen tersebut sebelum dokumen itu sampai ke tangan Elizabeth.
"Saya benar-benar minta maaf, saya tak sengaja. Kamu baik-baik saja, nak?" Tanya pria itu lagi, membuat Elizabeth mendongak untuk melihat wajah pria tersebut, bersamaan dengan itu juga, pria itu mengangkat kepalanya untuk melihat wajah gadis yang baru saja dia tubruk.
Waktu di sekitar Elizabeth rasanya seperti berhenti berputar saat melihat wajah pria itu. Wajah yang sangat tidak asing, wajah yang begitu mirip dengannya. Wajah dirinya jika menjadi laki-laki. Wajah yang pernah memberinya sebuah kasih sayang meskipun hanya bertahan selama tujuh tahun.
Wajah itu... Wajah yang mirip sekali dengan mendiang ayahnya. Évrad Boulet. Elizabeth tidak salah lihat, wajah pria di depannya ini sama persis seperti wajah sang ayah. Tidak ada celah perbedaan sama sekali dengan wajah sang ayah.
Jika ditanya Elizabeth syok atau tidak, tentu dia akan sangat syok. Bahkan lebih dari syok, karena dia merasa waktu di sekitarnya seolah berhenti berputar.
"Kalau kamu mau lihat wajah kamu seperti apa jika kamu menjadi laki-laki, lihat saja papimu,"
Elizabeth ingat kata-kata ibunya sebelum dirinya meninggal dunia. Surati memang benar, Elizabeth adalah duplikat sempurna ayahnya, versi perempuan sang ayah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Elizabeth's Past (Discontinued)
Fantasía[TYPO BERTEBARAN] Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi makam kekasihnya yang gugur akibat peristiwa berdarah pada tahun 1965 lalu, Elizabeth mengalami sebuah kecelakaan hebat. Mobil yang dia kendarai tertabrak sebuah truk bermuatan besar hing...
