If pov
"Huhh.. capeknyaa"
Aku merebahkan tubuhku di sofa ruang keluarga karena aku masih terlalu malas untuk ke kamar karena harus menaiki tangga. Aku tersenyum mengingat kejadian tadi. Aku tidak tahu apa yang kurasakan, tapi aku menyukainya.
"If?"
"Astaga dad! Dadda ngagetin aja". Ujarku setelah bangun sambil mengusap dadaku.
"Kamu ngapain tiduran di sini? Senyum-senyum lagi". Ucap Dadda setelah duduk di sampingku.
"If males naik tangga jadi rebahan dulu di sini". Jelasku.
"Trus kenapa senyum-senyum?". Tanya Dadda.
"Hehe.. gapapa dadda". Jawabku membuat dadda menatapku curiga.
"Lagi bahagia kayaknya, cerita dong sama dadda". Ucap dadda.
Aku berpikir sejenak untuk bercerita atau tidak karena aku malu, tapi aku juga sepertinya butuh bimbingan dari dadda.
"Emm.. jadi gini dad. If ngerasa ada yang aneh sama perasaan If. If ngerasa suka, senang kalau lagi sama dia. Rasanya itu beda saat deket sama dia, rasanya gak kayak If deket sama temen-temen. If bingung dad". Jelasku.
"Hahaha.. anak dadda udah gede ternyata. Itu namanya kamu jatuh cinta sayang". Ujar dadda yang membuatku bingung.
"Dad gak mungkin If jatuh cinta secepat itu, ini If baru ketemu tadi pagi loh dad". Sangkalku.
"Dengerin dadda, jatuh cinta itu gak bisa kita paksain atau kita atur mau cepat atau lambat, sama siapa, karena apa dan lain-lain. Kalau yang kamu rasain itu kamu jatuh cinta pada pandangan pertama sama kayak dadda yang jatuh cinta sama mommy saat pertama kali ketemu". Jelas dadda yang membuatku berpikir apakah benar aku sedang jatuh cinta?
"Siapa orangnya If?". Tanya dadda.
"Adik kelas dad, temen baru Griffin dan Cia". Jawabku.
"Wahh.. namanya siapa? cantik gak orangnya?". Tanya dadda penasaran.
"C--cantik dad, badannya sedikit berisi, dan tingginya sedagu If. Namanya Jeslyn dad". Jawabku.
"Kapan-kapan kenalin ke dadda sama mommy ya". Ucap dadda.
"Ish.. dad, kami belum pacaran". Ujarku.
"Ya gak harus nunggu pacaran sayang. Bawa aja sebagai temen". Ucap dadda.
"Kapan-kapan aja dad, If juga belum terlalu deket". Ucapku.
"Iya gak perlu buru-buru. Sekarang dengerin dadda baik-baik, kamu udah mulai jatuh cinta, kamu harus sungguh-sungguh perjuangin dia. Kamu juga harus siap sama konsekuensinya kalau nanti kamu nyatain perasaan kamu terus kamu ditolak atau digantungin. Kalau dia terima kamu, kamu gak boleh bikin dia sedih dan nangis, apalagi khianatin dia. Harus turunin ego juga ya dan kalau ada apa-apa diomongin baik-baik. Dan inget hal ini, kalian pacaran yang sehat selama kalian belum menikah. Kalian boleh nginep bareng, tidur seranjang, dan ciuman, tapi jangan sampai ambil hal berharga dari diri masing-masing. Dadda perlu omongin ini di awal biar kamu tau. Dadda harap kamu paham". Jelas dadda.
"Iya dad If paham, If tau apa yang harus If lakuin, dan If tau batasan". Jawabku.
"Bagus kalau gitu. Sini peluk dulu". Ujar dadda.
Aku tersenyum dan memeluknya.
"Makasih ya dad selalu jadi tempat buat If cerita"
"Sama-sama sayang. Udah sekarang tidur ya, udah mau jam 11". Ujar dadda.
Aku melepas pelukan kami dan kami berjalan bersama menuju kamar masing-masing.
If pov end
KAMU SEDANG MEMBACA
The Happiness
General FictionSequel Choice of My Heart dan My Enemy is My Love.
