Di hari libur yang cerah ini... Oh tunggu, ini langitnya agak mendung. Oke, kuulangi. Di hari libur yang sedikit mendung ini, aku yang lagi enak-enakan masih di pulau kapuk terbangun oleh suara ketukan pintu. Aku duduk sambil mengucek kedua mataku.
"Iyaaaaaaa..." Kataku malas sambil menyeret kaki menuju pintu kamar.
Aku membuka pintu. Kulihat seorang wanita yang sangat kukenal berdiri di depanku dengan memakai kaus berkerah berwarna hijau dan celana jins selutut. Tapi karena aku masih setengah sadar, aku bisa saja menganggap orang ini bukan Mama.
"Riku, cepat mandi sana." Kata Mama.
"Hah? Madu?" Tanyaku. Penyakit ngawurku kumat lagi deh.
"Mandi. Kok bisa madu gitu lho? Sudah sana mandi." Kata Mama sambil memasuki kamarku.
Aku segera berjalan ke arah kamar mandi. Apa yang Mama lakukan di kamarku? Ah entahlah. Tapi tumben banget Mama membangunkanku jam segini. Hoaam. Aku menguap lagi. Kantuk ini masih menjadi pemberat kelopak mataku. Tapi apa daya, aku segera mandi.
Setelah mandi dan mengumpulkan nyawaku, aku segera bergegas ke dapur. Wuiiii... Ada nasi goreng nih. Tapi Mama sama Papa ke mana ya? Kudengar bunyi koran yang sedang dibalik di teras depan. Wah, pasti Papa nih. Aku segera berjalan menuju ke sana.
"Pa, sudah makan belum?" Tanyaku. Papa menurunkan koran yang sedang dibacanya.
"Sudah, Riku. Kamu makan saja sana. Mama sudah masak nasi goreng kesukaan kamu tuh."
"Ooh ya sudah, Riku makan dulu ya Pah."
"Iya, Sayang." Kata Papa, lalu kembali berkutat dengan koran yang sedari tadi dipegangnya.
Kuambil piring, sendok, dan garpu. Aku menyendok secentong penuh nasi goreng lalu kumakan dengan lahapnya. Setelah selesai makan, Aku menyikat gigiku, lalu pergi ke kamar. Sesampainya aku di depan kamar, Mama terlihat sedang menutup koper.
"Apa yang Mama lakukan daritadi?"
"Mama baru saja membereskan bajumu."
"Mama! Kita mau pindah rumah??!" Tanyaku panik.
"Tentu saja tidak, sayang. Kita mau pergi kok." Kata Mama. Aku menghela napas lega.
"Ooh syukurlah. Kita mau pergi ke mana Ma?"
"Yah, secara teknis sih bukan kita, ya Riku..." Kata Mama sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Lalu?"
"Yang pergi sih Mama sama Papa. Kita berdua mau retret sekalian reuni. Kamu ingat kan sama pertemuan Mama dengan Kurosawa? Yang Mama juga menawarkan retret itu lho. Nah, Mama juga ikut retret itu karena Mama jadi panitia."
"Kalau yang ikut Mama sama Papa, kok aku ikut dibawakan koper sih Ma?" Tanyaku bingung.
"Ooh masalah itu, kamu mau Mama titipkan di rumah Hibiki." Aku melongo.
"Di... Rumah... Hibiki?" Tanyaku terbata-bata.
"Iya! Mama sudah mengontak dan dia dengan senang hati menerimamu, Riku. Jadi Mama rasa tidak masalah, bukan?" Kata Mama sambil tersenyum.
"Tumben Mama menitipkanku ke orang lain. Biasanya juga aku ditinggal sendiri kan?"
"Oh ini sih ganti suasana. Biar kamu tidak bosan di rumah. Apalagi Fukuda kan belum sehat betul. Perkembangan terakhir sih katanya Fukuda sudah pulang, hanya saja harus rajin ke rumah sakit untuk perawatan tambahan."
"Oh iya ya... Bagaimana dengan keluarga Watanabe? Rumah Ame?"
"Mama sungkan kalau terus-terusan merepotkan keluarga Ame terus. Sudah berapa kali kau main dan menginap di rumahnya?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Slamdunk My Heart
Teen Fiction~ ○ ~ Shirokawa Riku, seorang siswi SMA yang dalam hidupnya belum merasakan apa itu cinta terhadap lawan jenis, mulai mengubah pemikirannya saat musim semi datang di tahun keduanya di SMA Kitahara. Di sana ia bertemu dengan Kurosawa Hibiki, murid pi...