Kepingan [24]

116 21 3
                                        

Andra menatap jauh ke dalam ruang kamar rawat Bian melalui kaca kecil di pintu. Pikirannya melayang jauh dengan netra yang tak lepas dari sang empu. Bian di dalam sana tengah dibantu perawat dalam bersiap. Bian pulang, malam ini.

Keinginannya untuk melakukan tindak operasi untuk anak itu harus direlakan menjauh untuk saat ini. Andra tidak punya pilihan. Terdesak oleh keadaan, dimana Haidar yang mencabut perizinan tindakan medis milik Bian di rumah sakit ini, serta Anilas yang tiba-tiba saja enggan untuk menjadi wali.

Setelah dipikir-pikir keputusan dari wali itu tanggung jawab yang sangat besar, Anilas meragu terlebih takut.. Katanya demikian. Lantas kembali pupus harapan Andra. Ditambah Bian-bocah sok kuat itu terus membujuk Andra untuk menunda sebentar lagi tindakan operasinya.

Berkali-kali membujuk pulang, Andra balas dengan layangan tolakan. Tapi Andra kalah, Andra menurut, memberikan izin Bian untuk diperbolehkan pulang dengan syarat kembali lagi dalam waktu tiga sampai lima hari untuk benar-benar melakukan tindakan operasi tersebut.

"Maaf.." Suara pelan dan serak milik Anilas terdengar dari balik punggungnya, Andra menoleh.

"Saya terlalu takut-" Andra menatap sebentar wajah lelah Anilas lalu perlahan kembali memandang jauh kedalam ruang kamar rawat Bian, tangannya masuk kedalam saku jas putih yang dipakai.

"Lupakan. Saat ini yang terpenting, saya masih bisa melihat bocah itu tersenyum seperti didalam sana." Anilas mengikuti pandangan si dokter.

Bian didalam sana terlihat tertawa dengan mata tenggelamnya, oh apa perawat itu tidak jatuh cinta melihatnya?

Senyum Bian terlalu manis dan tenang, tapi Anilas justru menangkapnya sangat menyakitkan.

Tangan Anilas mengepal disamping tubuhnya mengecap baik-baik sikap egoisnya. Serapah dan makian tak ada henti berbisik di dalam hati, payah dan pengecut.

_____

Setelah suasana canggung dan asing tiga jam yang lalu, Adma masih duduk di tempatnya. Namun, kini dengan perasaan cemas serta khawatir yang melanda sebab ia belum melihat keberadaan Bian sejak kemarin malam. Alasan Adma duduk sendirian berjam-jam lamanya di ruang tengah ialah niatnya menunggu Bian pulang.

Malam sudah semakin larut, orang-orang sudah sepatutnya berada di tempat tidur mereka untuk bersiap menyelami mimpi. Tapi Adma memilih berdiam diri di ruang tengah dengan perasaan cemas yang semakin lama mencekiknya. Bahkan Adma melewatkan makan malamnya. Ini salahnya karena hilang perhatian beberapa hari ini kepada adik bungsunya, Bian.

Di tengah kecemasannya, presensi Esa justru datang lagi membuat suasana kembali canggungg dan kaku. Meski tertutup buku bacaannya, Adma diam-diam mengamati setiap gerak Esa dari sudut ekor matanya, sedari Esa membuka pintu kamarnya yang berada tidak jauh dari tangga lalu berjalan menuju dapur untuk membuat segelas kopi hingga pemuda itu yang tidak diduga justru duduk di kursi meja makan dengan arah pandang ke tempat dimana Adma duduk sekarang.

Astaga Adma total dibuat kikuk dengan diamnya Esa sambil menatap ke arahnya dari jauh, seperti penguntit. Selang lima belas menit, Suara Esa terdengar dari jauh sana.

"Bacanya belum selesai? udah malem, tidur." Adma sedikit terlonjak lalu menoleh sekilas kepada Esa yang sudah bangkit dari duduknya sambil membawa gelas kopinya.

Adma berdeham sebentar lalu terlihat menggeleng, Esa melihatnya. Balasan kaku dari Adma yang tidak biasanya sebab kejadian saling jujur tempo hari nyatanya masih membekas. Esa yang sudah memutuskan akan kembali ke kamarnya dengan tangan yang sudah terangkat ingin membuka kenop pintu itu berhenti.

Tiba-tiba saja ingatan dua hari lalu perihal telepon ancaman dari Haidar melintas di kepalanya. Reflek tubuhnya kini tidak sadar semakin mengeratkan genggamannya pada gelas kopi. Esa yang mematung di sana membuat Adma memandang penasaran.

OBLIVIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang