Udara malam menggigit kulit, mencampur dingin dengan sisa panas emosi yang belum reda. Esa melangkah dengan langkah mantap, matanya menyapu gelap di depan rumah hingga menemukan sosok Anilas yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Bahunya turun naik, menahan sesak yang tak bisa ia bendung.
"Anilas," suara Esa berat, terdengar sirat cemas. Anilas tidak menoleh. Tangannya meremas erat handle pintu mobil, seakan itu satu-satunya pegangan untuk tetap berdiri. "Lo juga mau nyalahin gue? Silakan."
Esa menghela napas panjang, mendekat beberapa langkah. "Gue nggak nyalahin lo. Gue cuma mau tau... Aray ada di mana?" Kata itu membuat Anilas refleks menoleh, matanya merah basah.
"Habis lo tanya gini.. lo pasti tetep mikir gue memperkeruh situasi kaya apa yang Bian bilang, kan?"
Tatapan Esa menajam. Diamnya memberi jawaban tersirat, membuat dada Anilas makin sesak. Anilas tertawa hambar, getir menusuk hingga ke tulang. "Lo sama aja kayak yang lain. Gue cuma ga ingin adik-adik gue kena masalah yang lebih besar, Sa. Gue bukan monster kayak yang lo pikir." Suaranya pecah di ujung kalimat.
Esa menatapnya lama. Ada keraguan dibalik netranya. Namun, masih ada secercah keyakinan yang ia simpan sendiri. "Gue percaya lo.. Bawa gue ke Aray."
Keheningan meregang di antara keduanya. Hanya terdengar desir angin yang menyapu helai-helai rambut mereka. Mata Anilas bergetar, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang ia pendam.
Anilas berbalik, membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya. Esa menatap punggung itu, lalu mengikutinya tanpa suara, membiarkan malam menjadi saksi diam perjalanan mereka.
___
Di ruangan berdinding abu yang remang, malam terasa semakin dingin. Angin membawa sisa-sisa keributan yang tadi meledak di ruang tengah. Bian duduk di lantai bersandar pada tempat tidur, bahunya jatuh kemana, tatapannya kosong ke arah pintu kamar. Danes membaringkan tubuh menatap langit-langit kamar, sementara Iel duduk bersila di sebelah Danes yang terbaring.
Keheningan di kamar Iel akhirnya pecah oleh si tuan kamar yang tiba-tiba menepuk angin ketika mendapat selintas ide. "Kalau gitu.. kita balik aja ke rumah, bunda kan lagi perjalanan bisnis sama ayah."
Bian dan Danes sama-sama menoleh, menatap Iel yang wajahnya tampak penuh keyakinan. Namun jawaban Danes datang secepat kilat, terdengar tegas dan keras. "Enggak, Iel! Itu malah bikin tambah runyam. Mang Nurdin cepat atau lambat bakal curiga dan lapor ayah."
Iel terdiam, tatapannya meredup. Ia menggigit bibirnya, menahan kata-kata yang ingin keluar. "Aku cuma mikir.. itu lebih aman."
Danes menggeleng cepat bangkit dari baringnya, suaranya menahan emosi, "Aman? Nggak ada yang aman kalo kita balik ke sana. Situasinya bakal lebih kacau karena yang murka bukan cuma bang Nilas, bunda bisa kecewa, Ayah.. bisa habis lo kalau dia denger bang Aray kenapa-napa."
Bian memperhatikan adu argumen dua adiknya, perasaan campur aduk di dadanya. Bian menarik napas panjang, kepalanya terasa berat. Ada nyeri yang sedari keributan terjadi diam-diam menjalar di dadanya, membuat perutnya kaku. Tangannya sempat mengepal di atas lutut, menahan denyut sakit yang menusuk. Ia tidak ingin Danes atau Iel sadar-mereka sudah cukup lelah hari ini. Jadi Bian hanya menunduk sejenak, pura-pura sibuk memainkan jemarinya.
Suasana kembali hening sejenak. Lalu Danes mengeluarkan ponselnya, menatap layar dengan tekad bulat. "Gue punya jalan lain."
Bian mengernyit, meski wajahnya pucat masih dipaksakan terlihat biasa. "Ide apa lagi?"
"Temen gue, Satria, pasti tau banyak informasi kontrakan. Gue bakal hubungin dia sekarang juga." Jari-jari Danes lincah mengetik, sementara wajahnya tetap dingin menahan semua keraguan.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBLIVION
Fiksi PenggemarTujuh kepala yang tinggal di dalam satu atap, saudara satu kakek tapi asing satu sama lain. Bagaimana mau hidup bersama jika terus saling tidak peduli? Rumah perlahan-lahan menjadi sesuatu yang memuakkan hanya dalam tiga bulan. Ingin pulang tapi ti...
