Kepingan [25]

74 16 1
                                        

Danes memutar gas motornya pelan, menurunkan kecepatan begitu melihat jalanan sempit yang semakin menjorok ke dalam baru saja dilewati Iel. Udara di sana terlihat lebih pengap, dipenuhi bau campuran oli, asap, dan sisa makanan basi dari selokan di pinggir jalan. Ia memarkirkan motornya di halaman parkir toko apotik.

Danes melangkah hati-hati diantara dinding sempit yang pernah ia lewati tiga bulan lalu. Danes masih ingat jelas jalan kecil yang dipenuhi genangan hujan serta celah semen di jalan yang berantakan. Melewati dinding bata setengah roboh yang dipenuhi coretan vandal.

Hingga sampailah Danes tepat di peristiwa lamanya terjadi, sebuah pabrik tua-bangunannya kusam, atapnya bolong di beberapa sisi, dan sebagian jendela ditutup seng berkarat.

Danes memandang lamat bangunan tua itu. Ada sesak yang merambat di dadanya, seolah otaknya memaksa memutar ulang memori buruk di tempat ini.

Langkahnya memutari pabrik setelah melihat banyak seng dan kayu menutupi pintu masuk bangunan. Pasti pihak berwajib tempo hari sudah menindak lokasi kejadian ini. Kemudian perhatiannya tertarik pada bagian belakang pabrik, di mana terdapat deretan rumah kumuh yang nampak ditumpuk asal.

Suara tawa kasar menyelinap dari belakang pabrik. Danes mengintip, lalu matanya langsung terpaku. Orang itu-ia kenal betul. Orang yang dulu pernah menyerangnya hingga berakhir di balik jeruji. Satria tidak salah. Regan benar-benar sudah bebas. Bebas berjalan di luar sana seakan masa lalunya tidak pernah ada.

Danes menahan napas. Pandangannya jatuh pada sosok Iel yang duduk bersimpuh di tanah, tepat di kaki Regan. Iel menunduk dalam, wajahnya tenggelam oleh bayangan. Asap rokok melingkar di udara, gelas-gelas berisi cairan kuning berembun di tangan mereka. Iel menunduk, matanya tak berani menatap siapa pun. Sesekali, ia bergerak cepat menyalakan rokok atau menuang minuman ketika salah satu dari mereka memerintah.

Suara tawa kembali masuk memekik telinga Danes, salah seorang disana yang duduk bersebrangan dengan Regan terdengar bersuara.

"Tapi serius, kalau bukan bokap lo yang bebasin terus siapa, anjing?"

Regan menyinggung senyum, menyesap sekilas rokok yang terapit di antara jari tangannya. "Gue udah bilang, dunia ini kecil, kan?" katanya sambil melirik Iel.

Ia menyandarkan tubuh ke kursi, wajahnya setengah diterpa cahaya lampu redup. "Bokap gua? Dia udah lama nganggep gua sampah. Anak gagal. Malu punya gua." Regan terkekeh kecil, tawa yang membuat kata-katanya terdengar semakin menusuk. Dua temannya ikut tergelak, suara kursi reyot berderit karena mereka menghentak-hentak.

Regan mencondongkan badan, matanya lurus ke arah Iel. "Coba tebak, bocah," katanya ringan tapi tajam, "Orang yang narik gua keluar itu dari kalangan lo... gue pikir bisa jadi lo kenal."

Dua temannya langsung bersuara, "Siapa? Siapa anjing? Jangan main rahasia lo."

Regan hanya menyunggingkan senyum miring, menggoyang-goyangkan rokok di tangannya. "Gue kasih tebakannya ke dia aja." dagunya menunjuk ke arah Iel.

Iel terdiam. Tubuhnya kaku, nafasnya cepat. Ia menunduk semakin rendah, seakan meminta tanah untuk merangkulnya.

"Eh, ayo tebak," suara Regan lebih menekan. "Siapa yang peduli sama gua, padahal bokap nyokap gua sendiri udah buang muka?"

Iel tetap tidak menjawab. Heningnya menumpuk, tangannya memegang kuat-kuat celananya. Ruangan sempit ini menambah sesak dadanya.

Regan mendecak, lalu menempelkan bara rokok ke lengannya tanpa ampun. Iel meringis, tubuhnya bergetar. Suara tercekik lolos dari tenggorokannya, tapi cepat ditelan paksa.

OBLIVIONCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang